|
Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
|
|
|
http://dik2.multiply.com |
|
andhika.ramdhan |
|
|
ramadhan_adhi |
|
andhika.ramdhan@gmail.com |
|
andhika.ramdhan@gmail.com |
|
http://twitter.com/AndhikaRamdhan |





Kamis, 9 April 2009 pukul 18:25 WIB
Penulis : Dikdik Andhika Ramdhan
Kini Jakarta pun memutih. Dari balik sebuah dinding berlapis kaca di lapis tanah ke tiga puluh satu ini, aku masih berdiri menyaksikan hari yang perlahan semakin sepi. Ibu kota tak beda seakan manusia yang tak lagi bernyawa. Kabut, menyergap waktu seperti tak mau lengkang, mengikat erat dan tak terlepas sepanjang langkah di hari ini.
Entah untuk keberapa kalinya aku memasuki sebuah ruang sempit di sudut ini, ruang sempit yang meski tak lebih dari 3 x 3 meter itu, namun mampu membuatku merasakan kebebasan atas penghambaan kepadaNya. Walau hanya untuk mampu berdiri, mengangkat takbir, rukuk, dan sujud hanya dengan dua orang lain saja di sebelahku.
Ya, disini mengharapkan untuk mampu merasakan indahnya dakwah serta leluasanya gerak ukhuwah memang tak seperti di tempat-tempat sebelumnya ketika aku bekerja. Namun aku mensyukurinya. Semoga Allah memudahkan atas segalanya.
Rekan-rekan kerja di sini tak sedikit yang bukan hanya berlainan ras, berlainan suku, berlainan bangsa, namun juga berlainan dalam pegangan aqidah.
Terkadang jika diri ini sedang merasakan rapuh yang teramat sangat, ingin aku rasanya menyerah dan kalah, berlari, bahkan tak sedikit pun untuk menolehkan kembali atas langkah-langkah yang telah terlewat ketika satu kondisi telah semakin memaksaku untuk tak bisa lagi mengepakkan sayap kebebasan dalam menguak indahnya Islam dari orang-orang yang biasanya selalu mendampingku, bersama berada di sekelilingku, serta selalu menyadarkan dalam khilaf-khilafku.
Namun kini?
Aku bagai berjalan sendiri di padang tandus lagi sunyi.
Aku hanya mampu menarik nafas ini, dan berusaha mengingat kembali, hingga akhirnya menyadari bahwa memang ketika sekali lagi aku telusuri akan berjuta hikmah yang aku dapati, alhamdulillah, aku justru berharap dari sinilah akan terlahir puluhan, ratusan, bahkan ribuan pahala dalam mengemban risalah dakwah ini, untuk menyebarkan indahnya Islam pada mereka.
Delapan bulan berlalu untuk duduk bersama, setiap hari dalam satu lingkungan yang selalu disibukkan oleh kepentingan duniawi memang tak jarang membuat aku merasa jemu. Membayangkan sahabat-sahabat di luaran sana yang bebas dalam mengungkap berjuta kajian atas keislaman untuk diterapkan dalam nyatanya kehidupan, hanya membuatku merasa lelah untuk berharap akan mampu merasakan hal yang sama.
Namun hari ini, ketika semua itu kini sedikit demi sedikit berlalu, aku justru merasakan perlahan masa-masa sulit itupun membawa ke dalam nyala terang sebuah harapan.
Memang ketika dalam beberapa kesempatan aku berdiskusi dengan rekan-rekan kerja yang lain, baik disela pekerjaan ataukah disela waktu makan siang, ketika dalam beberapa kesempatan aku coba untuk membahas satu ataupun dua masalah ringan yang berisi indahnya Islam. Dan ternyata tidak disangka, mereka kini mulai menampakan perhatiannya. Bertanya tentang beberapa hal yang ada dan berkaitan dengan keislaman, ataupun meski sekedar meminta klarifikasi atas bagaimana sebetulnya sebuah hal terjadi dalam pandangan Islam.
Aku bersyukur padaMu yaa Rabb,
Kini kabut itupun perlahan mulai bergulung dan pergi. Berganti dengan ceria yang dihiasi oleh sinar matahari di ufuk senja. Bentangan pantai dan kumpulan pulai seribu di ujung sana seakan melambai dan berucap selamat datang atas indahnya pilihan jalan ini. Aku menghambaMu, ya Rabb...
Semoga engkau memudahkan langkah ini, dalam menebar indahnya satu ajaran dariMu, satu ajaran yang telah dibawa oleh seorang Rasul terakhirMu, satu ajaran yang kini membuatku semakin yakin atas kemahaagunganMu.
Wallahu a'lam bishshawab.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Dikdik Andhika Ramdhan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.