|
QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
|



Oleh Saeful Arif
BISMILLAHIRROHMAANIRROHIIM....
Segala puji bagi Allah pencipta alam semesta. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda Muhammad SAW
Adalah mang Nur beliau adalah pelanggan saya dari kampung yang mayoritas sebagian masyarakatnya seorang petani, juga Kampung yang terhitung lebih banyak santri dibanding kampung tempat saya tinggal, kampung yang jauh dari keramaian dibanding kampung saya yg bising dan remajanya mulai mengikuti tren kekini-kinian, nongkrong dan pergaulan ala remaja dikota-kota besar seperti, pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan tanpa hijab, nongkrong, bahkan minum-minuman keras “Astaghfirullah”
Disuatu hari. Saat itu saya bersiap-siap berangkat ketempat kerja saya ditelpon mang Nur Katanya ada perlu dan meminta saya datang kerumah kebetulan waktu itu hujan besar sekali sehingga saya meminta mang Nur menunggu sampai hujan reda.
Lima belas menit hujan reda saya bergegas berangkat menuju kesebuah kampung, rumah mang Nur yang berjarak kira-kira 5km dari rumah saya. Tidak sampai satu jam saya sampai ditempatnya. Ternyata mang Nur sudah menunggu di jalan. saya pun disambut dgn hangat dan dipersilahkan duduk oleh istrinya. Agar suasananya lebih akrab saya pun mulai basa-basi “apa kabar ibu, dirumah aja?” Tanya saya. “Ya nak. Tiap hari juga dirumah emang kemana lagi. Hehehe” “mau kesawah gak punya, hahahaha” sambut mang Nur menyambung pembicaraan istrinya sambil ketawa-ketawa. “lho mang, biasanya kan ada tuh yg joinan kaya dikampung saya” sambung saya. “nak mana ada yg percaya sama kita, kita bukan bidangnya alias gak ngerti masalah sawah. Hehehe”
Suasana mulai akrab barulah saya membicarakan poinnya. Ternyata mang Nur seseorang yg enak diajak ngobrol saat kami transaksi beliau pengertian sekali.
Selesai. saya tidak buru-buru pulang ngobrol ngalor ngidul, dan sepertinya mang nur adalah seorang yg alim dari pembicaraannya yg kalem dan rendah hati. Saya pun hawatir dengan pembicaraan saya takut “jangan-jangan saya salah omong” tapi saya jadi penasaran. Kebetulan dipelataran rumahnya ada bangunan yang baru setengah jadi, kaca jendela belum ada. Saya coba Tanya padanya dan katanya itu joglo, tempat anak-anak mengaji. “waduh saya jadi salah tingkah, sambil mengingat-ingat omongan saya ada yang salah apa gak”
“ayo sambil dimakan kue nya, teh nya diminum mumpung masih hangat” saya pun mencicipinya. “owh… itu mejlis ya mang, guru ngajinya siapa?” enak gak enak saya coba tanya dan mang nur pun mrnjawab “Alhamdulillah saya dipercaya orang kampung sini untuk mengajar, sebenernya ini berat ya berhubung sudah dipercaya ya sudah saya terima” ungkapnya.
Semakin jauh pembicaraan kami sehingga saya yakin bahwa mang nur adalah seorang guru ngaji, ustadz. Dia bertutur nelangsanya jadi seorang guru ketika anak didiknya nakal kadang ada yg ribut sampai nangis-nangis akhirnya orang tuanya menyalahkan katanya “tidak becus” padahal mendidik seorang anak itu sebenarnya hak anak terhadap orang tuanya. Mang Nur bertutur “kadang ada selisih faham antar saya dengan orang tua murid” memang tanpa adanya saling pengertian keharmonisan sulit terbangun padahal antara guru dan orang tua itu harus kompak. “saya tidak meminta bayaran sepeser pun dari mereka, saya hanya meminta sewaktu-waktu waktu kontrol anak-anaknya ada atau gak ditempat pengajian” mang nur terlihat kesal. Meski begitu mang nur tetap sabar menghadapinya.
Bayangkan selesai maghrib, saat orang-orang tua mereka berkumbul bersama keluarga, ada yang sambil ngobrol sama tetangga, ada yang sambil tidur-tiduran seorang ustadz bercucur keringat menghadapi murid-muridnya sampai jam sebelas malam. Sehabis sholat shubuh, jam setengah enam pagi ketika orang tua mereka asik dengan segelas kopi seorang ustadz menghadapi murid-muridnya lengkap dengan belek dan bau tak sedap dar mulut mereka. Mual pun tak terelak merogoh kantong berharap ada rokok ternyata cuman tinggal bungkus kosong, untunglah ada pontot sisa semalam.
Semoga kita bisa saling muhasabah diri, menyadari bahwa sebagai guru dia tidak mengharap apa pun dari kita kecuali anak dididiknya bisa membaca Alquran. Terakhir mang Nur berpesan pada saya katanya ; “Remaja masa kini seperti tanaman padi, apa bila kurang perawatan, kurang pupuk, kurang obat bisa habis dimakan wereng”
Dan semoga guru-guru kita diberikan kesehatan jasmani dan ruhani, umur yang panjang dan dikurniai sabar dan tabah untuk terus mendidik, membangun muda-mudi, anak-anak kita agar menjadi anak yg shaleh-shaleh dan shalehah. Aamiin...
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---