Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
Alamat Akun
http://radinal.kotasantri.com
Bergabung
31 Oktober 2009 pukul 05:48 WIB
Domisili
Medan - Sumatera Utara
Pekerjaan
Mahasiswa
Tulisan Radinal Lainnya
Teori itu Muncul setelah Ada Tulisan
18 Oktober 2013 pukul 22:00 WIB
Atas Nama Kebersamaan
22 September 2013 pukul 21:00 WIB
Asyik Menulis dan Menulis Asyik
20 September 2013 pukul 23:00 WIB
Mengapa (Wahyu Pertama) Membaca?
11 September 2013 pukul 23:00 WIB
Apa yang Ada dalam Pikiran Anda Tentang Menulis?
24 Agustus 2013 pukul 23:23 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Rabu, 6 November 2013 pukul 19:00 WIB

Kebahagiaan

Penulis : Radinal Mukhtar Harahap

Pernahkah kita bertanya, untuk apa kita hidup? Untuk apa kita bekerja? Apa tujuan kita? Apakah semua itu berguna? Haruskah semua itu kita lakukan? Dan sederet pertanyaan lainnya yang berujung pada pokok pertanyaan yang berbunyi: Apa yang kita cari di dunia ini? Harta, kedudukan, pangkat, ketenaran, wibawa, simpati ataukah yang lainnya?

Atau selama ini kita hidup tanpa pernah tahu apa yang menjadi tujuan hidup kita? Kita bekerja tanpa pernah tahu kenapa kita bekerja? Lebih ekstrim lagi, kita hidup karena memang kita telah dilahirkan dan hidup sampai sekarang, tanpa pernah mengerti apa hakikat hidup ini? Kita bekerja karena teman-teman kita telah bekerja dan gengsi jika tidak bekerja sebagaimana mereka? Apa yang kita cari dari semua ini, kita tidak pernah tahu.

Buku Bahagia Tanpa Batas yang diterjemahkan dari buku aslinya yang berjudul Thoriq as-Sa'adah, menjawab hal tersebut dengan sangat menarik. Penulisnya, Ahmad Farid menuliskan dengan yakin bahwa andai saja kita bertanya pada semua orang mengenai apa yang paling mereka inginkan dan untuk apa mereka menginginkan itu, jawaban yang akan kita dengar adalah kebahagiaan. Tidak menyoal apakah mereka itu orang baik, orang jahat, kulit hitam ataukah putih, kelas menengah-bawah ataukah atas, dan seterusnya. Semua orang menginginkan kebahagiaan.

Orang baik akan mengukur kebaikannya dengan seberapa besar dia berhasil menebarkan hal-hal yang baik pada orang lain. Ia akan terus berusaha memberikan manfaat kepada yang lainnya. Begitu juga orang jahat, yang akan merasa bahagia jika telah berhasil melakukan kejahatannya. Jika ia pembunuh, misalnya, ia akan sangat bahagia jika telah berhasil membunuh musuhnya. Begitu pula dengan contoh-contoh lainnya. Orang baik dan orang jahat menginginkan kebahagiaan.

Singkatnya, kebahagiaan tidak memiliki ukuran pasti karena akan kembali ke individu masing-masing, yaitu bagaimana ia menilai kebahagiaan itu sendiri.

Seorang karyawan akan bahagia jika ia berpikir bahwa betapa nikmatnya kerja dengan peraturan yang telah tersedia. Ia tak perlu lagi mengeluarkan energi berpikirnya untuk mengatur kinerja karyawan lainnya. Berbeda dengan apa yang menjadi 'tanggung jawab' pemimpin perusahaan yang harus mengamati karyawan-karyawannya, berhadapan dengan pihak-pihak yang ingin bekerja sama tetapi tidak dalam satu pemikiran, keuangan perusahaan yang naik turun dan sebagainya.

Ia juga akan bahagia jika ia berpikir bahwa ia telah mendapatkan pekerjaan di tengah angka pengangguran yang begitu banyak. Ia berkesempatan untuk mengasah potensi yang ia miliki seraya membantu pekerjaan orang lain yang mempekerjakannya. Ia juga berkesempatan untuk mempelajari banyak hal dari pekerjaannya, yang belum tentu dapat dipelajari oleh orang lainnya.

Namun, apa yang menjadi kebahagiaan karyawan itu, bisa jadi ditolak oleh golongan yang lainnya. Pemimpin merasa dialah orang yang paling bahagia karena ia bisa mengatur karyawan. Pengangguran pun, dapat saja mengatakan bahwa 'lebih baik menjadi pengangguran daripada menjadi orang suruhan'. Intinya, Setiap orang dapat bahagia, tergantung bagaimana ia mengukur kebahagiaan dirinya sendiri.

Ada orang yang mengukur kebahagiaan dengan harta, maka ia akan bahagia jika ia telah memperoleh harta. Tetapi tidak sedikit orang yang menderita karena harta sehingga bunuh diri meskipun kaya raya. Mereka yang mengukur kebahagiaan dengan pangkat, jabatan, status di masyarakat, akan bahagia jika ia telah memeroleh itu semua. Tidak sedikit pula yang memutuskan untuk meninggalkan jabatannya untuk hidup apa adanya tanpa jabatan, pangkat, dan sejenisnya. Begitu seterusnya tergantung bagaimana ia mengukur kebahagiaannya.

~ Apa Yang Engkau Cari Di Dunia Ini? [1]

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Radinal Mukhtar Harahap sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Fay Ahmed | Blogger
Senang sekali baca-baca di KotaSantri.com. Nambah pengalaman religius.
KotaSantri.com © 2002 - 2024
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0665 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels