
Pelangi » Risalah | Rabu, 21 November 2012 pukul 13:00 WIB
Penulis : Rahmat Hidayat Nasution
Di dalam kitab al-Mawaa’idz al-‘Ushfuriyyah dimaktubkan kisah mimpi Abu Sahal bertemu dengan Rasulullah SAW. Kisah ini diriwayatkan dari Muhammad bin Said bin Muhammad berkata : Aku pernah mendengar Abu Sahal, seorang muadzin yang shaleh di Masjid Bani Ma’ruf di Bukhara, berkata :
Aku mimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Aku lihat seseorang berkata : Ini Abu Bakar yang berada di sebelah kanan Rasulullah dan Umar yang berada di sebelah kirinya. Lalu akupun mendatangi Rasulullah SAW dan bersalaman dengannya. Aku juga bersalaman dengan Abu Bakar dan Umar.
Lalu aku bertanya, 'Ya Rasulullah, kami dengar dari Muawiyah, dari Abdullah bin Al-Walid dari ‘Athiyyah dari Sa’id al-Khudri, bahwa Anda bersabda, "Siapa yang ketika akan tidur membaca ASTAGHFIRULLAHAL ‘ADZHIM ALLADZI LA ILAAHA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUM, maka Allah mengampuni dosa-dosanya sekalipun sebanyak buih di lautan, seperti hitungan butiran pasir, sebanyak daun-daun pohon, sebanyak hitungan hari dunia." Apakah ini benar hadits darimu, Ya Rasulullah?' Nabi SAW menjawab, "Ya."
Adalah cerita mimpi yang dikabarkan dari Abu Sahal tersebut merupakan kebenaran. benar bahwa kita bisa mimpi dengan Rasulullah Saw. Pasalnya, setan tak bisa menyerupai Rasulullah Saw. Hal ini terungkap dari riwayat yang menceritakan bahwa seorang malaikat yang ditugaskan Allah untuk menemui Iblis supaya dia menghadap Rasulullah SAW untuk memberitahu segala rahasianya, baik yang disukai maupun yang dibencinya. Hikmahnya adalah, untuk meninggikan derajat Nabi Muhammad SAW sekaligus menjadi peringatan dan perisai bagi umatnya.
Maka Malaikat itu pun berjumpa Iblis dan berkata, “Hai Iblis! Bahwa Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar memberi perintah untuk menghadap Rasulullah SAW. Hendaklah engkau buka segala rahasiamu dan apapun yang ditanya Rasulullah hendaklah engkau jawab dengan sebenar-benarnya. Jika berdusta meski satu perkataan pun, niscaya akan terputus semua anggota badanmu, uratmu, serta disiksa dengan azab yang amat keras.”
Mendengar ucapan Malaikat yang dahsyat itu, Iblis sangat ketakutan. Maka segeralah dia menghadap Rasulullah SAW dengan menyamar sebagai seorang tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai, panjangnya seperti ekor lembu.
Iblis pun memberi salam, sehingga 3 kali tidak juga dijawab oleh Rasulullah SAW. Maka sambut Iblis dengan berkata,
“Ya Rasulullah! Mengapa engkau tidak mejawab salamku? Bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?” Maka jawab Nabi dengan marah, “Hai musuh Allah! Apakah engkau menunjukkan kebaikanmu kepadaku? Janganlah mencoba menipuku sebagaimana kau tipu Nabi Adam a.s sehingga keluar dari syurga, Habil mati teraniaya dibunuh Qabil dengan sebab hasutanmu, Nabi Ayub engkau tiup dengan asap beracun ketika dia sedang sujud sembahyang hingga dia sengsara beberapa lama, kisah Nabi Daud dengan perempuan Urya, Nabi Sulaiman meninggalkan kerajaannya karena engkau menyamar sebagai isterinya dan begitu juga beberapa nabi dan pendeta yang telah menanggung sengsara akibat hasutanmu.
Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah. Hanya salammu saja yang aku tidak mau menjawabnya karena diharamkan Allah. Maka aku kenal baik denganmu, raja segala syaitan dan jin yang mampu menyamar diri. Apa keinginanmu datang menemuiku?”
Jawab Iblis, “Ya Nabi Allah! Janganlah engkau marah. Karena engkau adalah Khatamul Anbiya, hingga dapat mengenaliku. Kedatanganku adalah diperintah Allah untuk memberitahu segala tipu dayaku terhadap umatmu dari zaman Nabi Adam hingga akhir zaman. Ya Nabi Allah! Setiap apa yang engkau tanya, aku bersedia menerangkan satu persatu dengan sebenarnya, tiadalah aku berani menyembunyikannya.”
Maka Iblis pun bersumpah menyebut nama Allah dan berkata, “Ya Rasulullah! Sekiranya aku berdusta sepatah kata niscaya hancur leburlah badanku menjadi abu.”
Ketika mendengar sumpah Iblis itu, Nabi pun tersenyum dan berkata dalam hatinya, inilah peluangku untuk menyiasati segala perbuatannya agar didengar oleh sekalian sahabat yang ada di majlis ini dan menjadi perisai kepada seluruh umatku.
“Hai Iblis! Siapakah musuhmu yang paling besar dan bagaimana aku terhadapmu?”
Jawab Iblis: “Ya Nabi Allah! Engkaulah musuhku yang paling besar di antara segala musuhku di muka bumi ini.”
Maka Nabi pun memandang muka Iblis, dan Iblis pun menggeletar karena ketakutan. Sambung Iblis, “Ya Khatamul Anbiya! Ada pun aku dapat merubah diriku seperti manusia, binatang dan lain-lain hingga rupa dan suara pun tidak berbeda, kecuali dirimu saja yang tidak dapat aku tiru karena dicegah oleh Allah.
Kiranya aku menyerupai dirimu, maka terbakarlah diriku menjadi abu. Aku cabut keyakinan anak Adam supaya menjadi kafir, karena engkau berusaha memberi nasihat dan pengajaran supaya mereka kuat untuk memeluk agama Islam. Sepeti itu jugalah aku selalu berusaha menarik mereka kepada kafir, murtad atau munafik. Aku akan menarik seluruh umat Islam dari jalan benar menuju jalan yang sesat supaya masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya bersamaku.”
Dari keterangan Iblis sendiri, dapat dipahami bahwa Iblis bisa menyerupai siapa saja, kecuali Rasulullah Saw. Oleh karena itu, apa yang diceritakan Abu Sahal adalah benar. Benar ia bermimpi bertemu dengan Rasulullah.
Sejatinya, hadis yang meriwayatkan tentang zikir sebelum tidur bersumber dari Abu Said al-Khudri. Ia berkata, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa yang ketika hendak tidur membaca ASTAGHFIRULLAHAL ‘ADZHIM ALLADZI LA ILAAHA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUM WA ATUBU ILAIHI sebanyak tiga kali maka Allah mengampuni dosanya meski seperti buih di lautan, sebanyak hitungan daun-daun pohon, sebanyak hitungan butiran pasir dan seperti jumlah hari di dunia.
Jika zikir sebelum tidur ini diamalkan, tentu saja iblis atau setan berang. Ia sudah menggangu susah payah mengganggu keseharian manusia, namun ketika hendak tidur berzikir dengan meminta ampun kepada Allah, mengakui Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, dan menyatakan taubat kepada-Nya. Pasalnya, Iblis tidak mau meminta ampun kepada Allah dan tidak mau menyatakan taubat kepada-Nya. Ia hanya mengakui bahwa Allah Tuhan Yang Maha Kuasa.
Lagi pula, dengan membaca zikir ini menyatakan diri secara tidak langsung bermusuhan dengan Iblis. Lantaran mengikuti apa yang diajarkan Rasulullah. Bukankah sudah dikatakan Iblis, bahwa Rasulullah Saw. adalah musuhnya yang paling besar. Jika sudah mengikuti Rasulullah maka juga menjadi musuh iblis.
Oleh karena itu, hendaklah kita membaca zikir yang diajarkan Rasulullah Saw. tersebut sebelum tidur. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa yang pernah kita lakukan, baik pada hari itu ataupun di hari-hari sebelumnya.
KotaSantri.com © 2002-2026