
Pelangi » Risalah | Rabu, 31 Oktober 2012 pukul 11:00 WIB
Penulis : Redaksi KSC
Salah satu ibadah yang bisa dijalankan setiap saat dalam setiap aktifitas adalah berdzikir kepada Allah SWT. Tangan bisa sambil bekerja, hati dan lisan bisa bergerak untuk mengucapkan dzikir. Tentunya akan lebih sempurna dengan diiringi pemahaman dan keyakinan atas apa yang didzikirkan tersebut.
Misalnya dzikir "Laa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhiim", ketika tengah bepergian kita ucapkan, sehingga hati akan tenang hendak berangkat ke manapun dengan meminta kepada Allah agar diberi perlindungan. Tidak ada yang terjadi kecuali dengan kehendak-Nya. Segala sesuatunya diserahkan kepada Allah saja.
Kepasrahan kepada Allah merupakan manifestasi keimanan, wujud keyakinan kepada Allah, percaya terhadap apa yang diperintahkan dan ditakdirkan Allah SWT. Dzikir ini harus diwujudkan dalam sikap keseharian kita, di antaranya keyakinan tidak ada yang patut dipasrahkan jiwa raga kecuali kepada Allah. Ketika sakit, meyakini tidak ada yang bisa memberi kesembuhan kecuali Allah. Ketika merasa takut, tidak ada yang ditakuti kecuali takut kepada Allah. Begitu juga ketika berbicara cinta, tidak ada yang patut dicintai kecuali melebihi cinta kepada-Nya, mencintai yang lain yang berhak dicintai, karena Allah semata saja, dan di bawah kadar cinta kepada-Nya.
Ketika memulai pekerjaan, ucapkan "bismillah". Semua kegiatan mesti atas nama Allah. Sehingga memunculkan sikap optimis, tidak pesimis, juga ikhlas semata-mata karena Allah. Ketika mendapat nikmat, ucapkan "alhamdulillah", semua puji tanpa kecuali milik Allah, maka ketika ingin dipuji orang lain, itu artinya ingin merampas hak Allah dengan sikap riya. Ketika mendapat sesuatu yang menyenangkan, ucapkan "masya Allah". Artinya, atas kehendak Allah semua ini.
Ketika berjanji "insya Allah", artinya, andai Allah menghendaki, namun bukan berarti menolak secara halus. Ketika mendapat nikmat, ucapkan ‘alhamdulillah', karena semua nikmat berasal dari Allah SWT, dan boleh jadi ketika mendapat nikmat ada orang lain yang dirugikan, tersisihkan, membuat orang lain kecewa, lalu sertakanlah dengan ucapan "istighfar". Kita ingin memperoleh kesuksesan tanpa membuat orang lain sakit hati, maka kita mohon ampun kepada Allah, "astaghfirullahal ‘azhiim". Dan yakini atas kesucian Allah atas nikmat yang diberi, maka ucapkan "subhanallah wa bihamdihi ", sucikan Allah dan puji Allah ketika mendapatkan sesuatu.
Ketika mendengar ada musibah, kita berlindung kepada Allah, ucapkan "na'udzubillahi min dzaalik", aku berlindung kepada Allah dari keadaan seperti itu. Kalau sedang di puncak marah, beristighfarlah, "astaghfirullah". Semakin tinggi marah, semakin kalap. Seperti api yang membakar apa saja. Maka dianjurkan pula memohon perlindungan kepada Allah. Khusus dzikir beristighfar pun ketika terlanjur berbuat salah, membuat orang lain rugi.
Nabi Muhammad SAW mengajarkan istighfar itu minimal ba'da shalat tiga kali. Sehari paling tidak 15 kali setelah shalat. Ada juga rutin yang dijalankan oleh nabi SAW dalam meminta ampun, paling sedikit 70 kali. Beberapa bentuk dzikir yang rutin dibaca Nabi SAW setelah shalat adalah istighfar tiga kali, tasbih, tahmid, dan takbir 33 kali.
Dalam QS. Adz-Dzaariyat [51] : 17-19 diungkapkan mengenai sifat orang yang bertakwa yang akan mendapat jalan keluar dari berbagai kesulitan, istighfar di waktu sahur, "Hanya sedikit bagian malam yang dihabiskan untuk tidur; pada waktu sahur (akhir malam) mereka sibuk memohon ampunan; dan di dalam harta mereka ada alokasi untuk kaum papa, yang minta maupun yang tidak minta."
Ada tiga tanda bukti cinta seorang hamba kepada Allah. Pertama, dzikir. Dzikir ini merupakan bukti cinta kita kepada Allah, juga merupakan bentuk riyadhah/latihan. Dan Allah SWT pun mencintai hamba-Nya yang selalu menyebut nama-Nya dalam kehidupan sehari-harinya. Memperbanyak dzikir akan berpengaruh terhadap jiwa kita pula. Misalnya, dengan memperbanyak dzikir subhanallah walhamdulillah walaailaaha ilallahu wallahu akbar wa laa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhiim, boleh diucapkan setiap saat.
Dzikir bukan hanya dijalankan setelah shalat, dan saat shalat malam, bahkan kapanpun merupakan bagian dari ibadah yang berdampak terhadap kemampuan sabar dalam kehidupan. Berpengaruh terhadap kepasrahan agar tidak ada rasa takut, rasa khawatir, dan semakin mantap dalam menghadapi kehidupan ini. Sehingga terhindar perasaan sedih, kecewa, stres, tersinggung yang subyektif. Dzikir akan mudah memasrahkan semua urusan hanya kepada Allah. Dzikir pun akan menjadikan manusia-manusia yang unggul.
Kedua, dengan membaca Al-Qur'an akan mendatangkan cinta-Nya, insya Allah juga menenangkan sehingga akan menjadi manusia yang dicintai Allah. Sebagai bukti cinta kita kepada-Nya, harus banyak membaca Al-Qur'anul Karim. Membaca Al-Qur'an berbeda dengan membaca buku, membaca buku harus paham, tapi membaca Al-Qur'an akan berpahala, walaupun belum paham. Akan lebih sempurna jika membaca Al-Qur'an dan paham artinya, diyakini di hati, maka akan mudah diamalkan. Termasuk menjadi media dialog dengan Allah SWT.
Ketiga, bukti cinta seorang hamba dengan cara banyak berkunjung ke masjid. Allah mencintai orang yang banyak berkunjung ke rumah-Nya. Allah SWT menjanjikan surga bagi hamba-Nya yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid. Ketika orang mencintai masjid, berarti dia sudah mencintai pemilik masjid, yakni Allah SWT. Allah akan membalas kecintaan hamba-Nya tersebut dengan kecintaan yang lebih besar.
KH DR. Miftah Faridl, Ketua MUI Kota Bandung - DPU
KotaSantri.com © 2002-2026