Pelangi » Risalah | Rabu, 24 Oktober 2012 pukul 11:00 WIB

Hak Pembaca Surat Al-Ikhlas

Penulis : Rahmat Hidayat Nasution

Bila ditanya kepada pribadi kita, berapa kalikah sehari membaca surat Al-Ikhlas? Pernahkah mengetahui apa keuntungan yang diperoleh orang yang sering membaca surat Al-Ikhlas? Dan tahukah kisah orang yang setiap hari membaca surat Al-Ikhlas lalu mendapatkan kemuliaan dari Allah? Jika ingin tahu, bacalah dengan konsentrasi tulisan ini.

Surat Al-Ikhlas adalah salah satu surat pendek yang sering dihapal umat Islam. Dari muslim yang shaleh hingga yang taat, insya Allah kalau disuruh membaca surat Al-Ikhlas, diduga kuat, hapal. Namun, tak semua orang tahu ada banyak keistimewaan yang diperoleh oleh orang yang membaca surat Al-Ikhlas.

Di dalam tafsir Al-Kasysyaf, Syeikh Zamakhsyari mencantumkan salah satu keistimewaan terbesar yang bakal didapat oleh pembaca surat Al-Ikhlas.

Suatu hari Rasulullah SAW mendengar seorang laki-laki sedang membaca surat Al-Ikhlas di dalam masjid. Rasulullah SAW menghampirinya dan berkata, “Kamu berhak.” Laki-laki tersebut penasaran dan segera bertanya, “Berhak apakah aku, ya Rasul?” Rasulullah SAW bersabda, ”Kamu berhak masuk surga.”

Ada juga hadits lain yang menceritakan tentang keuntungan pembaca surat Al-Ikhlas. Di dalam kitab Tafsir Al-Qurthuby dicantumkan hadits yang bernada, “Siapa yang membaca surat Al-Ikhlas hingga masuk ke dalam rumah, maka kefakiran akan dihapuskan dari penghuni rumah tersebut, sekaligus juga para tetangganya.”

Bayangkan, hanya dengan membaca surat Al-Ikhlas saja, kita memiliki peluang masuk surga dan mampu menghapus kefakiran. Pastinya, kita bertanya-tanya kenapa bisa semudah itu masuk ke dalam surga? Jawabannya, dengan membaca surat Al-Ikhlas pada dasarnya kita sedang Meng-Esakan Allah SWT. Karena kandungan surat Al-Ikhlas berisi tentang ajaran-ajaran pemurnian atau peng-Esaan terhadap Allah SWT.

Dalam kitab Lubabun Nuqul fii Asbaabin Nuzul, imam Jalaluddin As-Suyuthi mencantumkan riwayat tentang turunnya surat Al-Ikhlas.

Suatu hari Rasulullah SAW kedatangan salah seorang utusan dari kaum Musyrikin yang bernama Amr ibn Thufail. Ia menanyakan kepada Rasulullah SAW perihal Tuhan. “Hai Muhammad, katakan kepada kami silsilah keturunan tuhanmu?” Lalu turunlah surat Al-Ikhlas (Katakan, ya Muhammad, Allah itu Esa. Allah tidak punya anak dan juga tidak diperanakkan) sebagai jawaban terhadap pertanyaan mereka.

Inti surat Al-Ikhlas adalah, menjelaskan bahwa setiap yang terlahir pasti asalnya tidak ada dan hal ini sangat mustahil bagi Allah SWT.

Qatadah menjelaskan di dalam Tafsir Ath-Thabary, bahwa para kafir Quraisy bertanya demikian lantaran mereka beranggapan bahwa malaikat itu anak Allah. Seperti halnya orang Yahudi beranggapan bahwa ‘Uzair itu anak Allah. Orang Nasrani pun beranggapan bahwa Al-Masih itu anak Allah (QS. At-Taubah : 30). Anggapan orang kafir Quraisy, orang Yahudi, dan orang Nasrani tersebut sebenarnya bentuk pengingkaran, dan mendustakan Allah.

Karena firman Allah SWT wa lam yakin lahu kufuwan ahad mempertegas bahwa tidak ada yang pantas untuk disandingkan dengan Allah. Hal ini disebabkan betapa Mahabesarnya dan Mahakuasanya Allah.

Ada kisah yang akan membuat kita, insya Allah, semangat membaca surat Al-Ikhlas setiap hari. Kisah ini bisa dibaca juga di dalam kitab Al-Mawaaidz Al-Ushfuuriyyah.

Ketika Nabi SAW sedang berada di Madinah, ia melihat iring-iringan jenazah.

“Apakah ia punya hutang?” tanya Rasulullah SAW kepada salah seorang sahabat yang menemaninya.

“Ada. Sekitar empat dirham, ya Rasul.”

“Shalatkanlah dia. Aku tak mau menyhalati orang yang punya hutang.”

Tak lama kemudian, Malaikat Jibril AS turun dan berkata, Hai Muhammad, Allah SWT mengucapkan salam untukmu. Dia berfirman, “Aku utus Jibril menyerupai manusia dan membayarkan hutangnya.”

Lalu Jibril menganjurkan kepada Rasulullah SAW, “Shalatilah karena ia telah diampuni Allah.” Allah juga berfirman, “Siapa yang menyhalatinya, diampuni Allah dosa-dosanya.”

“Hai Jibril, bisakah kau ceritakan kepadaku mengapa ia mendapatkan kemuliaan seperti ini?”

“Karena setiap hari ia membaca surat Al-Ikhlas seratus kali. Di dalam surat itu dijelaskan tentang sifat-sifat Allah dan pujian bagi-Nya.”

Setelah itu, Nabi SAW bersabda kepada para sahabatnya, “Siapa yang membaca surat Al-Ikhlas seumur hidup satu kali, ia tak akan mati sebelum ditampilkan tempatnya di surga. Terutama bagi yang membacanya sehabis shalat lima waktu setiap hari. Bacaan tersebut bisa menjadi syafaat baginya di hari kiamat dan bagi kerabatnya yang dipastikan masuk neraka.”

Karena itu, menjadi penting bagi kita untuk senantiasa meriyadhahkan atau merutinkan setiap hari membaca surat Al-Ikhlas. Di samping janjikan masuk surga dan menjauhkan diri dari kefakiran, juga menjadi penguat keyakinan tentang Allah dan sifat-sifatnya.

KotaSantri.com © 2002-2026