Pelangi » Risalah | Rabu, 6 Juli 2011 pukul 13:00 WIB

Menapaki Syaban, Menyiapkan Ramadhan

Penulis : Redaksi KSC

Gema Ramadhan mulai terdengar saat Syaban kita masuki. Saat ini, tinggal hitungan pekan bulan penuh maghfirah itu menemani waktu ibadah kita. Jika Rajab diwarnai dengan semangat mempersiapkan diri dengan amalan menyambut Ramadhan, maka Syaban adalah bulan keistiqamahan. Sejauh mana kita tetap konsisten menjalankan amalan tersebut di tengah-tengah suasana yang kurang kondusif.

Allah tentunya punya maksud menganugerahkan Syaban ada di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Selain janji Allah akan pahala berlipat di bulan itu, Allah juga teramat paham dengan kecenderungan manusia untuk lalai di bulan Syaban. Karenanya, agar terhindar dari sifat lalai tersebut, Rasulullah teramat menganjurkan umatnya untuk tetap menjaga amalan-amalan di bulan Syaban, terkhusus amalan puasa.

“Bulan Syaban adalah bulan di mana manusia mulai lalai, yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An-Nasa’i, Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan).

Dari Aisyah RA, beliau mengatakan, “Rasulullah SAW biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah SAW berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Syaban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156).

***

Persiapan di Bulan Syaban

Jika Rasullullah begitu mempersiapkan dirinya ketika menyambut Ramadhan, kita sebagai umatnya pun sudah seharusnya mengikuti beliau. Bulan Syaban adalah ajang memantapkan segala persiapan yang telah dimulai pada bulan Rajab. Tujuannya jelas, Ketika Ramadhan kita mampu total memanfaatkan momentum berjuta keberkahan dari Allah itu.

Hal-hal yang dipersiapkan meliputi persiapan ruhiyah, fikri, jasadi, dan materi. Persiapan ruhiyah adalah paling utama. Kekuatan ruh merupakan motor penggerak segala bentuk ibadah kita sebelum, ketika, dan pasca Ramadhan. Untuk mengoptimalkan kekuaan ruhiyah itu, amalan yang paling nyata dicontohkan oleh Rasullullah adalah puasa Syaban.

Selain itu, juga dianjurkan memperbanyak istighfar, tobat, memohon serta memberi maaf kepada orang lain. Amalan-amalan ini adalah ikhtiar kita kepada Allah. Semoga dengan ikhtiar itu, Allah berkehendak memberikan rahmat-Nya agar hati kita terjaga dari penyakit-penyakit hati.

Ada baiknya juga dalam do'a-do'a kita, disisipi ucapan dari Yahya Ibnu Katsir. Ia berkata, “Di antara do'a yang dibaca oleh para salaf adalah : “Ya Allah, selamatkan aku hingga bulan Ramadhan dan karuniakan aku Ramadhan dan terimalah ibadah-ibadahku pada bulan Ramadhan.”

Persiapan berikutnya adalah fikri atau keilmuan. Walaupun Ramadhan senantiasa berulang, tapi ilmu-ilmu tentang Ramadhan, khususnya puasa harus semakin kita perdalam. Jika selama ini kita hanya memahami puasa Ramadhan dari sisi syariahnya (formal), maka cobalah mulai mengenalnya dari sisi yang lain, yaitu hakikat atau makrifat. Mendalami ilmu di bulan Syaban pun jadi waktu yang tepat. Ketika Ramadhan tiba, kita tak lagi gagap menjalani berbagai ibadah di bulan tersebut.

Persiapan yang lainnya adalah jasadi. Membiasakan diri dengan gaya hidup sehat berupa menjaga keseimbangan pola makan, istirahat, dan olah raga adalah kuncinya. Apabila ketiga faktor tersebut mulai disipiln kita terapkan pada bulan Syaban, maka insya Allah tubuh kita akan bugar ketika menjalani hari-hari istimewa di bulan Ramadhan.

***

Meneladani Kedermawanan Rasulullah

Ada satu persiapan yang cenderung dilalaikan dibanding persiapan lainnya. Persiapan itu adalah materi. Persiapan materi yang dimaksud di sini bukanlah mempersiapkan anggaran untuk kebutuhan di bulan Ramadhan. Apalagi jika kebutuhan tersebut lebih banyak bersifat konsumtif. Tapi, persiapan materi agar kita dapat leluasa berinfak di bulan Ramadhan.

Rasulullah adalah sosok yang sangat dermawan dalam hidupnya. Dan ketika bulan Ramadhan, kedermawanannya menjadi berlipat-lipat. Ia tak segan-segan menginfakkan hartanya di jalan Allah dalam jumlah yang teramat besar. Dari kitab Shahihain Ibnu ‘Abbas RA berkata, “Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau semakin dermawan pada bulan Ramadhan ketika berjumpa dengan Jibril untuk bertadarus Al-Qur'an, kedermawanan Rasulullah ketika itu bagaikan angin yang berhembus.” Dari Riwayat Imam Ahmad disebutkan, “Ia tidak diminta sesuatu kecuali diberinya.”

Kita pun dapat meniru perbuatan Rasulullah. Bagi yang dianugerahi kekayaan atau kelapangan rezeki, tentunya hal ini tidak menjadi masalah. Tapi, bagaimana yang tidak? Apakah akan dilewatkan kesempatan berinfak di bulan yang penuh limpahan kasih sayang Allah itu?

Untuk itu, Syaban jadi kuncinya agar kita semua dapat leluasa berinfak ketika Ramadhan. Syaban adalah bulan saat kita mulai menyisihkan sebagian rezeki yang dimiliki. Kalaupun memungkinkan, sediakan satu pos tersendiri dari pengeluaran harian kita. Pos ini dikhususkan untuk infak di bulan Ramadhan.

Sekilas tidak susah mengupayakannya. Hanya saja, cenderung mudah dilupakan sehingga ia terlewatkan. Ketika Ramadhan tiba, baru disadari semuanya sudah terlambat. Dan kita tak mampu mencontoh dan mengikuti kedermawanan Rasulullah SAW ketika Ramadhan.

Dari Tulisan Suhendri Cahya Purnama - Swadaya Juli 2011

KotaSantri.com © 2002-2026