
Pelangi » Risalah | Rabu, 20 April 2011 pukul 13:00 WIB
Penulis : Rahmat Hidayat Nasution
Tidak sedikit umat Islam mengamini bahwa bulan Shafar dipercayai sebagai bulan tidak baik untuk melakukan acara-acara penting. Bahkan, ada yang lebih dahsyat lagi mengklaim bahwa bulan Shafar sebagai bulan diturunkannya bala, malapetaka, dan penyakit yang harus diwaspadai. Asumsi ini muncul, lantaran adanya opini ‘ganjil’ yang sudah menjadi kebudayaan dan pegangan masyarakat berabad-abad yang berisikan pernyataan, bahwa segala penyakit, racun, dan hal-hal yang berbau magis memiliki kekuatan lebih besar di bulan Shafar dibandingkan dengan bulan-bulan yang lainnya. Tak hanya itu, ada yang sengaja membuat-buat redaksi hadits palsu dengan menyatakan bahwa Allah menurunkan 3333 penyakit di bulan Shafar, sebagai dasar kepercayaan terhadap sialnya bulan Shafar.
Maka, tak aneh bila kita saksikan banyaknya orang yang enggan atau membatalkan pindah rumah, mengadakan pesta pernikahan, dan lain sebagainya pada bulan Shafar. Tak hanya itu, ada pula sebagian masyarakat yang mempercayai bulan Shafar membawa sial dengan mengadakan sejumlah ritual dan aktivitas untuk ‘menghadang’ segala kesialan yang mereka takutkan. Ritual yang dilakukan mulai dari hal-hal yang berbau agama seperti shalat muthlaq, berpuasa, mandi shafar, hingga ritual kendurian khusus yang dilakukan bersama-sama. Harapannya, agar tidak terkena imbas bencana atau wabah di bulan Shafar.
Kepercayaan terhadap bulan Shafar sebagai bulan sial sejatinya tidak memiliki dasar hukum yang kuat. Kalaupun sebagian orang ada yang menyandarkan ihwal tersebut kepada hadits Rasul SAW yang bernada, "Sesunguhnya Rabu akhir bulan shafar adalah hari nahas yang terus menerus." Menurut ulama hadits, status hadits tersebut adalah hadits palsu (hadits maudhu’).
Sebab, salah satu hadits sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari jelas sekali membantahnya. Dari Abu Hurairah RA telah berkata : Rasulullah SAW bertutur, "Tidak ada wabah, tidak ada keburukan binatang terbang, tidak ada mati penasaran, tidak ada kesialan di bulan shafar." Kemudian seorang Arab pendesaan bertanya kepada Rasulullah, "Wahai Rasul, lalu bagaimana dengan unta yang semula sehat kemudian berkumpul dengan unta yang kudisan kulitnya, sehingga unta tersebut menjadi kudisan juga?" Lalu Rasulullah SAW menjawab, "Lalu siapa yang menularkan (kudis) pada unta yang pertama?" Dalam redaksi hadits yang lain, Rasulullah SAW menambahkan jawabannya dengan mengatakan, "Larilah (jauhkan diri) dari penyakit kusta sebagaimana melarikan diri dari seekor singa."
Jika ditelusuri sababul wurudil hadits (sebab hadirnya hadits tersebut), pernyataan Rasulullah "laa ‘adwaa" (tidak ada wabah) bertujuan untuk meluruskan keyakinan orang-orang jahiliyyah yang kerap meyakini bahwa penyakit itu dapat menular dengan sendirinya, tanpa bersandar pada ketentuan takdir Allah. Bagi umat Islam yang mengimani Qadha dan Qadar tentunya wajib membuang jauh-jauh aroma keyakinan yang dititipkan oleh kaum jahiliyyah, karena cukup banyak firman Allah yang menjelaskan tentang takdir yang terjadi pada manusia sudah ditetapkan Allah SWT. Di antaranya, firman Allah yang termaktub dalam surat at-Taubah ayat 51, "Katakanlah : Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal."
Adapun perkataan Rasulullah SAW "laa thairah" (tidak ada keburukan binatang terbang) disematkan bagi mereka yang kerap mengikuti tradisi orang-orang jahiliyyah yang menggantungkan segala nasibnya, baik yang baik maupun yang buruk, pada kepakan sayap seekor burung. Melalui hadits ini, Rasulullah ingin menyadarkan bahwa tawakkal hanya kepada Allah, bukan kepada mahluk seperti burung. Allah yang menetapkan segalanya bagi mahluk, termasuk pada burung yang diklaim bisa memberi arahan dalam menentukan nasib.
Sedangkan perkataan Rasullullah SAW "walaa hammah" (tidak ada mati penasaran) ditujukan bagi orang Arab yang kerap mempercayai, "Jika di malam hari ada burung hantu terbang di atas rumahnya, maka itu menandakan akan ada yang meninggal." Rasulullah melalui hadits itu meluruskan pemahaman yang sangat keliru dan berpeluang merusak akidah. Karena seluruh umur mahluk sudah ditentukan Allah SWT, maka tidak ada hubungannya dengan burung hantu ataupun yang dianggap bisa memberikan isyarat.
Pernyataan Rasulullah SAW "la shafara" (tidak ada kesialan di bulan shafar) menjadi dasar kuat untuk menolak klaim yang menyatakan bahwa bulan Shafar sebagai bulan sial atau bulan nahas. Bahkan jika menilik sejarah Islam, bulan Shafar sendiri pernah mengabadikan peristiwa-peristiwa penting yang sangat baik. Di antaranya, perkawinan antara Rasulullah SAW dengan Khadijah binti Khuwailid yang terjadi di bulan Shafar.
Berkaca dari sejarah tersebut, seharusnya menjadi pembuktian bahwa bulan Shafar bukanlah bulan sial yang harus ditakuti dan dikhawatirkan. Karena Rasulullah SAW sendiri mengadakan peristiwa penting di bulan Shafar. Hingga akhir hayat Khadijah, Rasulullah SAW maupun Khadijah RA tidak pernah mengalami kesialan. Untuk itu, betapa celakanya jika mengakui Muhammad SAW sebagai Rasul Allah, tetapi tidak mengikuti perilakunya.
Karena itu, tak ada alasan lagi bagi umat Islam yang selama ini meyakini bahwa bulan Shafar sebagai bulan sial harus segara dibuang jauh-jauh. Sebab, segala hal, baik nikmat maupun bencana, seluruhnya telah ditentukan Allah SWT. Dia yang memegang kendali nahas atau sialnya sesuatu. Sebagaimana hal disitir di dalam surat Al-A’raaf ayat 131, "Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui."
Meskipun konteks ayat berbicara tentang umat Musa AS, tetap saja arah khitab (pembicaraan) tertuju pada umat Muhammad SAW sebagai pelajaran. Hal ini sesuai dengan kaidah yang berbunyi, "Penilaian terhadap sesuatu ditinjau dari umumnya lafal, bukan dari khususnya sebab." Artinya, apa yang terjadi pada diri manusia, baik musibah maupun kebahagian, sudah diatur oleh Allah SWT, seperti Allah mengatur kebahagiaan dan kesusahan yang dialami umat Musa AS.
Singkatnya, kepercayaan terhadap sialnya bulan Shafar tidak memiliki kekuatan hukum syar’i yang dapat dipercaya, bahkan bisa menjadi sumber kuat untuk menjerumuskan orang yang mempercayai kesialan bulan Shafar kepada kemusyrikan. Padahal, sudah jamak diketahui bahwa syirik adalah dosa besar yang dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka selama-lamanya. Sebagaimana firman Allah SWT, "Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya." (QS. An-Nisa : 116).
KotaSantri.com © 2002-2026