Pelangi » Risalah | Rabu, 22 Desember 2010 pukul 19:00 WIB

Meraih Kekhusyu'an Shalat

Penulis : Redaksi KSC

Shalat, itulah kata perintah yang sering terngiang di telinga kita. Sesuatu yang mudah dalam aturan pelaksanaan, namun sulit untuk dilakukan. Hal ini terjadi karena banyaknya godaan yang datang saat waktu shalat tiba. Ungkapan "nanti dulu" atau "tanggung" selalu hadir menjadi bumbu melalaikan shalat.

Shalat bukan amal ibadah biasa, tapi kunci dari amaliah lainnya. Abdullah bin Qurth RA meriwayatkan, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Yang pertama kali akan dihisab pada diri seorang hamba pada hari qiamat adalah shalat. Apabila baik shalatnya, maka akan baiklah seluruh amalnya. Dan apabila buruk shalatnya, maka buruk pulalah seluruh amalnya." (HR. Thabrani). Nampak jelas argumen tersebut bahwa shalat merupakan kunci keberhasilan ibadah seorang mukmin.

Tidak hanya itu, shalat yang kita kerjakan akan melindungi dan menjauhkan kita dari perbuatan keji dan munkar. Sebagaimana firmanNya, "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-kitab (Al-Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Ankabut : 45).

Namun sayang, refleksi nilai-nilai shalat belum bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena seakan-akan shalat kita masih bergandengan tangan dengan perbuatan keji dan munkar, walaupun kita sering melakukan shalat. Itu terjadi karena shalat yang kita kerjakan masih jauh dari kekhusyu'an dan makna-makna shalat hanya selintas harapan tanpa pengejawantahan.

***

Shalat Khusyu'

Shalat khusyu' adalah sesuatu yang sangat dirindukan orang-orang yang mau melaksanakan shalat. Kekhusyu'an bukanlah hal yang amat sulit atau mustahil dilakukan walau memang tidak semudah yang dikatakan. Shalat khusyu' dapat diraih ketika memahami makna setiap lantunan do'a dalam shalat, menghilangkan berbagai urusan dunia dalam pikiran dan hati ketika shalat, menghadirkan jiwa dan raga hingga seolah-olah sedang berkomunikasi langsung dengan Allah.

Seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat wara' dan sangat khusyu' shalatnya. Namun dia selalu khawatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyu' dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih dalam rangka memperbaiki dirinya yang selalu dirasakan kurang khusyu'.

Pada suatu hari, Isam menghadiri majelis Hatim Al-Isam dan bertanya, "Wahai Aba Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan shalat?"

Hatim menjawab, "Apabila masuk waktu shalat, aku berwudhu dzahir dan batin."

Isam kembali bertanya, "Bagaimana wudhu dzahir dan batin itu?"

Hatim menjawab, "Wudhu dzahir sebagaimana biasa, yaitu membasuh semua anggota wudhu dengan air. Sedangkan wudhu batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara. Pertama, bertaubat. Kedua, menyesali dosa yang dilakukan. Ketiga, tidak tergila-gila akan dunia. Keempat, tidak mencari atau mengharap pujian orang (riya). Kelima, tinggalkan sifat berbangga. Keenam, tinggalkan sifat khianat dan menipu. Ketujuh, meninggalkan sifat dengki. Setelah itu, aku pergi ke masjid dan segera menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah SWT ada di hadapanku, syurga di sebelah kananku, dan neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku, dan aku bayangkan pula bahwa aku seolah-olah berdiri di atas titian sirratul mustaqim, dan aku menganggap bahwa shalatku kali ini adalah shalat terakhirku. Kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik. Setiap bacaan dan do'a dalam shalat kupahami maknanya. Kemudian aku ruku dan sujud dengan tawadhu; aku bertasyahud dengan penuh pengharapan, dan aku memberi salam dengan ikhlas."

Begitulah kisah yang dapat dijadikan acuan untuk meraih kekhusyu'an dalam shalat. Namun tantangan dalam memperjuangkan shalat khusyu' lebih besar dari kiat yang dikemukakan Hatim tadi.

Adapun manfaat dari kehusyu'an shalat yang kita lakukan sangatlah besar. Pertama, dapat melapangkan hati. Berbagai kejadian yang menimpa senantiasa dipandang positif serta diambil hikmahnya dan bahkan dianggap sebagai rezeki dari Allah SWT.

Kedua, pencegah kemunkaran. Dengan shalat khusyu', seseorang akan merasakan dirinya berhadapan dan berkomunikasi dengan Allah, sehingga ia merasa malu jika melakukan hal-hal yang tidak baik dalam shalat.

Ketiga, mendatangkan pertolongan Allah. Kegigihan dalam memperbaiki shalat serta kesungguhan memperbanyak sujud, berarti kesungguhan kita dalam membuka pintu pertolongan Allah. Allah berfirman, "Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'." (QS. Al-Baqarah : 45).

Keempat, penggugur dosa. Shalat sebagai pembersih dari dosa-dosa yang kita lakukan. Abu Hurairah meriwayatkan, suatu hari ia mendengar Rasulullah bersabda, "Jika kamu perhatikan bahwa seandainya ada sungai di pintu rumahmu untuk mandi setiap hari lima kali, apakah kamu akan mengatakan kotoran (pada badanmu) itu masih ada?" Mereka menjawab, "Tidak tersisa kotoran sedikit pun juga." Rasulullah bersabda, "Maka itulah shalat lima waktu, Allah dengannya akan menghapus kesalahan-kesalahan (dosa-dosa)." (HR. Bukhari).

Demikianlah, shalat benar-benar membersihkan kita. Semoga ibadah shalat kita diterima Allah SWT. Aamiin. Wallahu a'lam bishshawab.

Dari Majalah Swadaya

KotaSantri.com 2002-2026