
Pelangi » Risalah | Rabu, 17 November 2010 pukul 23:00 WIB
Penulis : Redaksi KSC
Ibadah qurban merupakan penyembelihan hewan yang dilakukan pada hari Raya Haji (selepas shalat Idul Adha) dan hari-hari Tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah). Tujuannya tentu saja untuk beribadah kepada Allah SWT, sebagai jalan menghidupkan syari'at Nabi Ibrahim AS yang kemudian disyari'atkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Peradaban Arab sebelum Islam telah mengenal persembahan suci dengan menyembelih atau mengorbankan sesuatu yang berharga, salah satunya berupa manusia. Budaya ini juga dikenal pada masa Mesir kuno, India, Cina, Irak, dan sebagainya. Kaum Yahudi juga pernah mengenal qurban manusia. Namun, lama-kelamaan qurban manusia berganti dengan qurban berupa hewan atau barang berharga lainnya. Contoh, pada masa jahiliyah, kaum Pagan (penyembah berhala) Arab mempersembahkan lembu dan onta ke Ka'bah sebagai qurban untuk tuhan mereka.
Adapun Islam adalah agama langit yang abadi, memiliki konsep persembahan qurban yang sempurna. Islam memasukkan dua nilai penting dalam ibadah qurban ini, yaitu nilai kemanusiaan berupa misi sosial dengan terkumpulnya makanan daging yang berlimpah untuk fakir miskin, dan nilai tauhid berupa pesan moral yang terkandung di dalam ibadah ini, yaitu menghilangkan cinta duniawi dan ketergantungan pada makhluk.
***
Nilai Tauhid
Ibadah qurban menjadi salah satu tolok ukur penting, bahwa untuk mendekatkan diri kepadaNya, mestilah diikuti dengan kebersihan tauhid. Pesan utama dari ibadah qurban adalah misi tauhid, yaitu semangat kemurnian hidup. Basis utama semangat kemurnian ini adalah pengakuan seorang hamba secara mutlak akan keesaanNya, yang tercermin dalam kalimat la ilaaha illa Allah (tiada tuhan selain Allah), dan menegaskan (menolak) segala otoritas serta hukum-hukum yang datangnya bukan dari Allah.
Meskipun kalimat syahadat tersebut kerap kali diucapkan, tetapi tidak jarang manusia ingkar atas ucapannya sendiri. Artinya, di samping menyembah Allah, manusia juga menuhankan sesuatu yang bukan Allah sebagai tuhannya. Di antara "sesuatu bukan tuhan" yang sering dipertuhankan manusia adalah hawa nafsu (QS. Al-Furqon, 25 : 43; dan QS. Al-Jatsiyah, 45 : 23) dan ketergantungan pada makhluk. Dalam prakteknya, penuhanan hawa nafsu itu berupa penurutan segala keinginan duniawi, sehingga mengenyampingkan kepatuhannya kepada Allah SWT. Dan ketergantungan pada makhluk berupa menyandarkan hidup dan kehidupannya kepada selain Allah, baik itu uang, jabatan, manusia lain, dan sebagainya.
Pada saat pengucuran darah hewan qurban, sesungguhnya adalah pengikisan tuhan-tuhan palsu dari kepribadian manusia. Qurban adalah penyembelihan terhadap kesewenangan, keangkuhan, keserakahan, kerakusan, kedzaliman, kebiadaban, kekurangajaran, atau kebinalan yang mewujud menjadi tuhan palsu pada diri manusia. Sebab, selama tuhan-tuhan palsu itu tidak "disembelih", maka selama itu pula manusia tidak bisa dekat dengan Allah. Bagaimana bisa dekat, apabila manusia memiliki kepribadian ganda, yaitu di satu sisi merasa membutuhkan Allah, tetapi di sisi lain justru ia berkehendak menjadi Allah itu sendiri.
***
Pesan Kemanusiaan
Qurban mengajarkan pula bahwa pendekatan diri kepada Allah hendaknya ditempuh melalui pendekatan diri kepada sesama manusia, yaitu menyantuni dan memberdayakan kaum dhuafa. Pesan seperti ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW, "Tidak termasuk orang yang beriman kepadaku, seseorang yang bisa tidur nyenyak dalam keadaan kenyang, sedangkan ia tahu bahwa tetangganya berbaring dalam keadaan lapar." (HR. Al-Bazar).
Islam mengajarkan, jika ingin mendapatkan nikmat, maka hendaklah nikmat itu disebut-sebut atau disebarkan kepada orang lain (QS. Adh-Dhuha, 93 : 11). Dalam kaitan ini pula, qurban adalah salah satu bentuk penyebaran nikmat itu. "Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah)." (QS. Al-Kautsar, 108 : 1-3).
Karenanya, qurban diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran individu akan nilai-nilai kepedulian, menjadi mediator (penghubung) antara mereka yang kaya dengan yang dhuafa. Selain itu, qurban juga bisa bermakna pembebasan manusia dan nilai-nilai kemanusiaan dari kesewenang-wenangan kepada manusia lainnya. Ketika Allah mengganti Ismail dengan seekor domba, hakikatnya Dia menyampaikan misi kepada manusia untuk menghindarkan dirinya dari kekerasan dan eksploitasi.
Secara umum, qurban bisa menjadi media bagi umat dalam menyebarkan rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin). Saat berlangsungnya hari Raya Qurban, terjadi kemeriahan dengan menikmati hasil sembelihan hewan qurban. Kaum fakir yang sangat jarang mengkonsumsi daging, saat itu seakan dimanjakan oleh Allah untuk bersama-sama menikmati karuniaNya. Kebahagiaan kaum lemah merupakan pesan moral dan nilai yang sangat kental mewarnai peringatan hari Raya Qurban. Menegaskan akan penolakan segala bentuk ketimpangan dan ketidakadilan yang bisa mencederai kebahagiaan kaum miskin.
Dari Swadaya-112008
KotaSantri.com © 2002-2026