
Pelangi » Risalah | Rabu, 13 Oktober 2010 pukul 18:35 WIB
Penulis : Febi Robianti
Kecocokan dan ketidakcocokan kita dengan orang lain adalah hal yang wajar. Seringkali kita menemukan orang yang menyenangkan dan tak jarang pula kita harus berinteraksi dengan orang yang kurang menyenangkan. Apakah berhubungan dengan orang yang tidak sesuai dengan kepribadian kita termasuk hal yang harus dihindari?
Kalau boleh memilih, tentu kita —dengan sifat manusiawi yang ada pada diri kita— akan memilih hidup dengan orang-orang yang memberikan rasa nyaman. Jika mungkin, ingin rasanya me-tipex mereka yang kerap membuat hati kita terluka dan me-copypaste orang-orang yang selalu memberi inspirasi dan membahagiakan.
Memang, semua pengandaian di atas sangat muskil terwujud. Di mana pun kita berada, di keluarga, kantor, kampus, lingkungan, bahkan di mesjid hubungan dengan tipe manusia yang dirasakan ‘tidak menyenangkan’ tidak mungkin dihindari. Menghindar sentuhan fisik sangat mungkin, tapi apakah batin kita akan benar-benar tidak memedulikan mereka? Minimal rutukan pendek mengenai keberadaannya tercetus, walaupun hanya dalam hati.
Saya jadi teringat sebuah kalimat yang disampaikan seorang sahabat, bahwa orang-orang yang ‘tidak menyenangkan’ sengaja dihadirkan Allah agar kita menjadi manusia yang bijaksana. Terkadang, dalam hidup ini Allah SWT tidak memberikan orang-orang yang kita inginkan. Tetapi, Ia mendekatkan kita dengan orang-orang yang dibutuhkan untuk mengajari, menyakiti, dan mencintai agar kita menjadi orang yang ‘seharusnya’. Tujuan dihadirkannya mereka seharusnya menjadikan kita banyak belajar. Memelajari hikmah yang tersembunyi. Memelajari kehendak Allah terhadap hamba-Nya.
Simaklah jawaban Rasulullah Muhammad SAW kepada malaikat yang menawarkan membalikkan gunung atas mereka setelah beliau mengalami siksaan yang luar biasa sebagai bentuk penolakan kaum Thaqif di Tha’if. Ia menolak sambil berkata, "Aku masih mengharap akan lahir dari keturunan mereka, yang akan berkata laa ilaha illa Allah." Apa makna semua ini? Mengapa Rasul yang penghulunya para nabi ini menolak tawaran makhluk Allah yang suci (baca : malaikat) untuk menghukum manusia durhaka? Bukankah wajar, manusiawi, hukuman diturunkan atas orang-orang yang melakukan kekejian ketika ditawarkan al-haq? Begitulah kondisi yang dialami oleh Rasulullah ketika mencari daerah baru untuk perkembangan Islam. Tentu yang diharapkan adalah kemenangan dakwah atau sedikitnya pengertian dari sasaran dakwah agar tidak menjadi pihak yang memerangi. Akan tetapi, kenyataan berbicara lain.
Kesedihan Rasulullah Muhammad SAW bukan tanpa sebab. 10 hari Rasulullah melakukan lobi di kalangan pembesar bani tersebut. Penolakan dilakukan dengan cara yang keras dan kejam. Bahkan, ketika beliau meminta kedatangannya dirahasiakan, tokoh-tokoh bani Thaqif malah menyuruh anak-anak dan budak-budak untuk menganiaya dan menghinanya. Siksaan yang diderita Rasulullah bersama Zaid bin Haritsah benar-benar di luar batas kemanusiaan. Riwayat kepicikan muamalah ini diceritakan kembali oleh Syaikh Munir Muhammad Ghadban dalam Manhaj Haraki, "Dilempari dengan batu-batu sampai sepatunya berlumuran darah. Bila Nabi SAW tengkurap, maka dibangunkan dan dipaksa berjalan. Dan, bila berjalan, maka mereka lempari lagi sambil tertawa terbahak-bahak. Sedang Zaid bin Haritsah melindungi dengan badannya hingga kepalanya luka-luka. Kemudian datanglah tawaran dari Tuhannya untuk membalas mereka —bukan tawaran dari pembela di bumi atau setan yang durhaka, tetapi Allah yang mencipta alam semesta— tetapi, nabi masih menahan diri dan memohon pada Tuhannya agar lahir dari keturunan mereka yang akan berkata laa ilaaha illa Allah."
Sekali lagi, wajar jika Rasul menerima tawaran Allah melalui lisan malaikat penjaga gunung itu. Tapi, sungguh. Inilah yang menjadikan Muhammad SAW dinyatakan sebagai uswah hasanah. Ia menolak pembinasaan kaum yang durhaka itu dan berharap semoga kelak, suatu saat nanti akan lahir penegak kalimat tauhid dari sulbi mereka. Rasulullah memunyai perhitungan jangka panjang yang brilian. Tak ada yang menyangkal, kesabaran dan perhitungannya itu —yang senantiasa dibimbing wahyu Allah SWT— sebagai salah satu faktor terbentuknya karakter mujahid-mujahid handal. Masalah perasaan sudah bukan lagi hal penting baginya. Ketersinggungan telah berganti menjadi telaga maaf yang amat luas dalam diri para sahabat yang notabene bangsa Arab —mereka terkenal dengan keteguhan mempertahankan harga diri.
Menapaktilasi jalan juang Rasulullah dan para sahabat, layak kiranya kita menahan diri untuk menilai orang lain sebagai sesuatu yang ‘tidak penting’. Sesungguhnya merekalah yang menyebabkan kita bernilai. Kesabaran yang kita terapkan ketika seseorang berlaku tidak sesuai dengan yang kita harapkan semoga menyentuh jiwanya dan mengajak mereka menyesali tindakan tercela itu. Berlakulah lemah lembut. Dr. Aidh Al-Qarni dalam La Tahzan berkata, "Kelembutan tidaklah ada pada sesuatu kecuali menghiasinya dan tidak hilang dari sesuatu, kecuali membuatnya menjadi tidak baik."
Tersenyumlah, saudaraku, tersenyumlah sambil berharap dan berdo'a dalam hati semoga Allah SWT membukakan mata batinnya agar mereka menjadi orang yang lebih baik di mata manusia dan utamanya di mata-Nya, Rabbul Izzati. Tersenyumlah dan maafkanlah saudara kita seperti Rasulullah Sang Teladan Agung.
Ah, Rasulullah. Dia SAW merasakan derita kita sebagai hal yang juga memberatkannya. Rasulullah Muhammad SAW sangat menginginkan keimanan dan keselamatan kita. Siapakah yang memiliki rasa belas kasih yang demikian dalam terhadap orang mukmin selain seperti yang dimiliki Rasul yang agung ini? Sebuah bahasa dialektik dari perenungan dalam QS. At-Taubah ayat 128.
Wallahu a’lam.
KotaSantri.com © 2002-2026