
Pelangi » Risalah | Rabu, 8 September 2010 pukul 18:30 WIB
Penulis : Rahmat Hidayat Nasution
Pernahkah Anda mendengar lirik lagu Bimbo, “Ada anak bertanya pada bapaknya, buat apa berlapar-lapar puasa?" Jika pertanyaan di dalam lirik tersebut ditanyakan kepada Anda, apakah yang akan dijawab? Cukupkah hanya dengan menjawab bahwa puasa semata-mata perintah Allah? Tampaknya, layak menjadi perenungan untuk mengkoneksikan pertanyaan yang ada di lirik lagu Bimbo tersebut dengan sabda Rasulullah SAW, “Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa, kecuali lapar dan haus.”
Apa yang dikatakan Rasulullah tersebut bukanlah tanpa sebab. Tak pelak lagi, hal ini dikarenakan banyaknya orang yang beranggapan, bahwa Ramadhan hanya sekedar perintah puasa. Jika hanya sebagai perintah, mengapa Allah SWT berfirman di dalam hadits Qudsi, “Tiap-tiap anak Adam untuknya sendiri amalnya, selain dari puasa itu untuk-Ku dan Aku akan memberikan pembalasan kepadanya."
Lantas, apa jawaban yang tepat? Untuk menjawabnya, adalah lebih baik dengan memahami firman Allah SWT yang menjadi dalil wajibnya puasa. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah [2] : 183). Ayat ini diawali dengan sapaan yang sangat menggetarkan. Sapaan yang hanya dikhususkan untuk orang-orang yang beriman. Artinya, Allah ingin mengkhususkan orang-orang yang mengaku beriman kepada-Nya untuk membuktikan keimanan mereka dengan menjalankan ibadah puasa.
Selain itu, ayat tersebut juga ibarat seperti surat khusus untuk orang yang beriman. Di antara milyaran orang yang menghuni jagad raya ini, hanya orang yang beriman yang diperintahkan untuk berpuasa di bulan Ramadhan. Hemat penulis, ayat tersebut ibarat surat ‘cinta’ Allah yang diberikan kepada orang beriman. Karena puasa yang diperintahkan, bertujuan untuk menjadi orang yang bertakwa. Bukankah takwa dikatakan-Nya sebagai sebaik-baik bekal? Bukankah orang yang mulia dan dekat di sisi-Nya adalah orang yang bertakwa?
Karena itu, puasa adalah pembuktian cinta seseorang yang mengaku beriman kepada Allah SWT. Pembuktian tersebut pun tetap memandang kondisi manusia. Sebab Islam adalah agama yang sesuai dengan kemanusiaan. Hal ini terbukti dari prosedur puasa yang dijalani selama Ramadhan. Allah SWT berfirman, “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2] : 184).
Artinya, ayat ini menunjukkan bahwa cinta Allah kepada orang yang beriman mahadahsyat. Sehingga kondisi manusiawi seperti sakit dan dalam perjalanan pun mendapat banyak keringanan. Prosedurnya tidak berbelit-belit. Jika tidak berpuasa dengan alasan yang disebutkan di dalam ayat tersebut, cukup mengganti di hari yang lain di luar Ramadhan. Jika merasa berat menjalankan puasa lantaran sakit atau sudah sangat tua, Allah sangat menunjukkan kecintaan-Nya dengan menyuruh membayar fidyah, yaitu mengasih makan orang miskin selama sehari penuh.
***
Allah Sangat Mencintai Hamba-Nya
Jika dilanjutkan dengan membaca surat Al-Baqarah ayat 185-186, akan semakin jelas bahwa Allah sangat mencintai hamba-Nya. Karena di dalam ayat tersebut, Allah mewartakan dengan indah bahwa puasa adalah untuk kebaikan manusia. Apalagi, jika mau mencari dan menemukan apa saja kebaikan puasa yang akan didapat. Tak hanya itu, di dalam surat ‘cinta’ Allah tersebut juga dijelaskan, bahwa Allah memproklamirkan kecintaan-Nya kepada orang-orang yang beriman, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasannya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah [2] : 186).
Subhanallah, selain puasa menjadi jembatan untuk menyemai diri menjadi manusia bertakwa, Allah SWT juga mendorong orang-orang yang beriman untuk bermunajat dan memohon kepada-Nya di saat sedang menjalankan puasa. Apa yang dimohonkan akan dipenuhi oleh Allah SWT. Jelas sekali, bahwa Ramadhan adalah salah satu bukti cinta Allah kepada orang yang beriman.
Lalu, apakah ada bukti cinta Allah yang lainnya untuk orang-orang yang menjalankan puasa di Ramadhan? Melalui lisan Rasulullah cukup banyak penjelasan ihwal bukti cinta Allah kepada hamba-Nya yang berpuasa di bulan Ramadhan. Hemat penulis, jika dikumpulkan ada lima bukti utama cinta Allah di bulan Ramadhan ini. Pertama, Pintu surga dibuka. Surga yang di dalamnya terdapat beragam kenikmatan yang belum pernah dirasakan oleh manusia manapun di dunia, akan dibuka lebar-lebar. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW, “Jika datang Ramadhan, pintu-pintu surga di buka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu. Kemudian datang seorang penyeru dari sisi Allah SWT : Wahai pencari kejahatan, berhentilah! Wahai pencari kebaikan, kemarilah!” (HR. Bukhari Muslim). Kedua, Pintu neraka ditutup. Neraka yang menjadi tempat seburuk-buruk tempat kembali, saat datang Ramadhan ditutup rapat-rapat. Cukup banyak firman Allah yang memaparkan tentang neraka yang sangat mengerikan dan menakutkan. Ketika Ramadhan hadir, seluruh pintu neraka ditutup. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila permulaan Ramadhan, maka diikat semua syaitan dan jin yang durhaka; ditutuplah pintu-pintu neraka, tidak satu pintu pun dibuka; dibukalah pintu surga, tidak satu pintu pun ditutup. Ketiga, Setan dibelenggu. Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia, ketika Ramadhan mereka dibelenggu. Mereka tidak memiliki kekuatan untuk mengganggu manusia. Hanya tinggal nafsu yang menggangu orang yang beriman dalam menjalankan puasa. Keempat, Amal ibadah diganjar dengan pahala yang berlipat-lipat. Maksudnya, ketika Ramadhan balasan amal ibadah yang dilakukan manusia diganjar oleh Allah berlipat-lipat. Salah satu hadits Rasulullah SAW yang menyatakan, “Sekali bacaan tasbih di bulan Ramadhan lebih utama dari seribu kali tasbih di bulan-bulan lainnya.” (HR. Al-Tirmidzi). Kelima, Orang yang menjalankan puasa dengan sungguh-sungguh akan diampuni dosa-dosanya. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan keikhlasan, akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhari Muslim).
Karena itu, manfaatkanlah memontum Ramadhan, jika benar-benar ingin menjadi kekasih Allah. Jalani ibadah puasa Ramadhan dengan penuh semangat dan keikhlasan. Sebab, puasa Ramadhan yang dilakukan akan menjadi pembuktian jika kita benar-benar mencintai Allah, seperti halnya Allah mencintai hamba-Nya.
KotaSantri.com © 2002-2026