
Pelangi » Risalah | Rabu, 25 Agustus 2010 pukul 18:22 WIB
Penulis : Rahmat Hidayat Nasution
Di dalam buku “Pedoman Puasa”, Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy memaktubkan salah satu nama bulan Ramadhan dengan sebutan Syahrur Rahmah, bulan yang terdapat di dalamnya limpahan rahmat Allah kepada para hamba-Nya. Penisbahan tersebut tak terlepas dari peran beberapa redaksi hadits yang memaparkan, bahwa di bulan Ramadhan kebaikan dilipatgandakan Allah SWT, rahmat ditebarkan, dan keinginan berbuat baik pun dipacu. Hanya saja, rahmat Allah tersebut sudah ditetapkan akan dapat diraih dengan cara mendekatkan diri, bersungguh-sungguh, berdzikir, bersyukur, dan beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya.
Dalam beberapa redaksi hadits shahih yang langsung bersumber dari Rasulullah SAW, disebutkan bahwa ketika sepuluh terakhir bulan Ramadhan datang, baginda Rasul SAW lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah dibandingkan dengan hari-hari biasanya. Tak hanya itu, Aisyah RA Isteri Rasulullah SAW sendiri menceritakan bagaimana aktivitas Rasulullah SAW di sepuluh akhir Ramadhan, “Saat itu, pada sepuluh hari terakhir menjelang, Rasulullah mengencangkan, menghidupkan malamnya, dan membangunkan isterinya." (HR. Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi dari Aisyah sebagaimana termaktub dalam kitab shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir, halaman 4910).
Dr. Yusuf al-Qardhawi di dalam buku Fiqh Ash-Shiam-nya menafsirkan, bahwa yang dimaksud dengan mengencangkan kain adalah kiasan untuk menunjukkan keseriusan dan kesungguhan Rasulullah dalam beribadah, sebagaimana ungkapan yang digunakan untuk sikap menjauhi isteri. Halnya orang yang serius dalam bekerja kerap disebut dalam kiasan dengan menyingsingkan lengan baju. Adapun yang dimaksud dengan “menghidupkan malam”, masih menurut pendapat Qardhawi, adalah menghidupkan kesuluruhan malamnya dengan qiyamullail (mengerjakan shalat malam), beribadah, dan melakukan ketaatan.
Sebelum sepuluh terakhir tersebut datang, Rasulullah SAW mengerjakan ibadah di sebagian malam dan tidur di sebagian yang lain, sebagaimana yang diperintahkan Allah di dalam surat al-Muzammil.
Lalu, apakah tidak ada batas minimal dalam menghidupkan malam di sepuluh terakhir Ramadhan? Dalam buku “Pedoman Puasa”, Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy mencatat, sekurang-kurangnya menghidupkan malam di sepuluh terakhir Ramadhan adalah dengan melakukan shalat isya berjama'ah dan berniat menghidupkan shalat shubuh berjama'ah. Pondasi yang digunakan dengan berpegang pada pendapat imam Malik yang terdapat di dalam kitab al-Muwathta’nya, yang bernada, “Sampai berita kepadaku, bahwa Ibnu Musaiyyab berkata : Barang siapa menghadiri shalat isya dengan berjama'ah di malam qadrar, maka dia sungguh telah mengambil bagiannya dari malam itu.”
Sedangkan tujuan Rasulullah SAW membangunkan isterinya adalah agar bersama-sama beribadah dalam meraih dan memanfaatkan kesempatan yang penuh berkah tersebut untuk melakukan kebaikan, dzikir, dan beribadah kepada Allah. Hal ini ditopang dengan adanya hadits yang menjelaskan bahwa Nabi SAW mendatangi Fatimah dan Ali pada malam hari dan mengatakan kepada mereka, “Apakah kamu tidak bangun untuk shalat?”
Dari sini, dapat dipahami bahwa Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kaum muslimin agar mengingatkan seraya membiasakan isteri dan keluarga mereka untuk ikut memanfaatkan kesempatan yang penuh berkah tersebut dalam melaksanakan ibadah, berbuat kebaikan, dan berdzikir. Sebagaimana disitir di dalam surat Thaha [20] : 132, ”Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat, dan bersabarlah kamu dalam melakukannya.” Aktivitas ini telah dicontohkan Umar bin Khattab sebagaimana yang tercatat di dalam kitab al-Muwaththa’ karya imam Malaik. Jika telah larut malam, Umar bin Khattab membangunkan isterinya dengan seruan “Ash-Shalah… Ash-Shalah…, shalat… shalat…” lalu, ia membacakan surat Thaha [20] : 132.
Jika ditelusuri dalam beberapa redaksi hadits yang berkaitan dengan aktivitas Rasulullah SAW di sepuluh terakhir di bulan Ramadhan, adalah pada hari-hari tersebut Rasulullah ber-i’tikaf di mesjid agar bisa lebih konsentrasi dalam beribadah. ‘Aisyah RA menuturkan, “Kala itu Rasulullah selalu melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan puasa, sampai beliau dipanggil menghadap Allah. Kebiasaan tesebut kemudian diikuti oleh isteri-isterinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Pada titik inilah, dapat dipahami secara sederhana, bahwa i’tikaf kerap dimaknai dengan mengasingkan diri - untuk sementara waktu - dari kesibukan dunia dan mengonsentrasikan diri untuk beribadah kepada Allah. Dan perlu ditekankan, Islam sama sekali tidak pernah mensyari'atkan ajaran kerahiban (ajaran pendeta yang menuntut mengasingan diri seumur hidup) maupun ibadah ‘uzlah abadi. Islam hanya mensyari'atkan hal tersebut pada waktu-waktu tertentu, agar hati yang gersang segera mendapat siraman berupa ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah.
Ibadah lain yang dilakukan Rasulullah SAW di sepuluh terakhir Ramadhan adalah mandi di antara dua adzan dan melambatkan berbuka hingga sahur. Dalam buku “Pedoman Puasa”, M. Hasbi Ash-Shiddieqy menukil penuturan ‘Aisyah RA yang diriwayatkan oleh Ibnu Ashim, “Adalah Rasulullah SAW bila memasuki bulan Ramadhan, beliau mengerjakan qiyam Ramadhan dan beliau tidur. Apabila memasuki sepuluh terakhir, beliau menjauhi isterinya, mandi di antara dua adzan, dan makan malam dijadikan sahur.”
Untuk menguatkan keterangan tersebut, M. Hasbi Ash-Shiddiqiey memaparkan penjelasan yang terdapat di dalam hadits shahih Bukhari dan Muslim, yang menerangkan bahwa Rasulullah SAW melarang para sahabatnya berpuasa hingga waktu sahur. Nabi sendiri melakukan itu. Namun di satu waktu, salah seorang sahabat bertanya, mengapa Rasul mengerjakan demikian? Nabi menerangkan bahwa beliau tidaklah sebagaimana sahabat beliau mendapat makan dan minum dari Allah. Kemudian, oleh karena para sahabat ingin berwishal (berpuasa hingga sahur), maka nabi pun melakukan wishal bersama-sama para sahabatnya hingga tampak bulan syawal.
Melalui hadits di atas, ibnu Jarir berpendapat, sebagaimana yang dikutip M. Hasbi Ash-Shiddiqiey, bahwa boleh melakukan wishal hingga sahur bagi orang yang sanggup mengerjakannya dan tidak disukai bagi orang yang tidak sanggup. Dan sama sekali tidak dibenarkan berpuasa sepanjang malam. Selain itu, ibnu Jarir juga berujar, bahwa para sahabat menyukai mandi pada setiap malam dari malam-malam terakhir Ramadhan.
Lantas, akan timbul pertanyaan, apa rahasia yang tersimpan di balik anjuran untuk beribadah dengan penuh kesungguhan di sepuluh terakhir Ramadhan? Dr. Yusuf al-Qardhawy menitikberatkan rahasia di balik anjuran bersungguh-sungguh pada sepuluh terakhir Ramadhan terletak pada dua hal, yakni :
Pertama, karena sepuluh terakhir Ramadhan merupakan penutup bulan yang penuh keberkahan. Sedangkan kebaikan suatu amal kerap ditentukan oleh penutupnya. Hal ini lebih jelas terlihat di dalam do'a Rasulullah SAW, “Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik hariku adalah hari ketika aku menghadap-Mu, sebaik- baik umurku adalah pada akhirnya, dan sebaik-baik amalku adalah penutupnya.”
Kedua, karena kemungkinan besar malam lailatul qadar akan jatuh pada malam tersebut. Bahkan ada beberapa redaksi hadits shahih yang menerangkan bahwa malam lailatul qadar akan jatuh pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Oleh karena itu, orang yang cerdik dan bijak akan bersungguh-sungguh pada sepuluh terakhir Ramadhan. Karena sangat kemungkinan dia akan beruntung dan mendapatkan malam lailatul qadar, sehingga dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni Allah.
Karena itu, penulis senada dengan Prof. DR. Mahmud al-Ukazi yang menilai peningkatan ibadah-ibadah sunnah di sepuluh terakhir seperti i'tikaf, adalah bagian dari cara untuk membersihkan hati dengan pengawasan (muraqabah) Allah SWT agar dapat merasakan begitu besarnya perjuangan yang dilakukan di saat hening dan damai. Karena titik ini tipe amal yang paling disukai Allah, jika dilakukan dengan niat tulus dan ikhlas di saat sedang menjalankan puasa (al-Maushu’ah al-Islamiyyah al-Ammah halaman 147). Sehingga pantas Rasulullah SAW mengatakan, “Orang yang berpuasa itu memiliki dua kegembiraan, yaitu gembira ketika ia berbuka dan gembira ketika ia menemui Tuhannya dikarenakan puasanya itu." (HR. Muslim).
Tak ada jalan lain, jika kita ingin meraih cinta Allah dan Rasul-Nya, hendaklah kita mengikuti aktivitas yang dilakukan Rasulullah SAW. (QS. Ali Imran [3] : 31).
Wallahu a'lam.
KotaSantri.com © 2002-2026