
Pelangi » Risalah | Rabu, 4 Agustus 2010 pukul 18:33 WIB
Penulis : Redaksi KSC
Tampaknya, mulai saat ini, kita harus menjaga diri dari apa pun yang Allah haramkan. Rasanya, tidak perlu kita menonton TV sampai larut malam. Lebih baik kita isi dengan membaca Al-Qur'an atau berdzikir. Bagaimana mungkin kita membiarkan malam-malam kita diisi dengan tidur pulas, sedangkan Allah menyiapkan sepertiga malam terakhir menjadi saat yang disukai Allah.
***
Persiapan Bulan Ramadhan
1. Persiapan Ma'nawiyah (Moralitas). Yang dimaksudkan dengan mempersiapkan moralitas adalah menyambut dengan hati gembira bahwasannya Ramadhan datang sebagai bulan untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Maknawiyah yang siap akan memandang Ramadhan bukan sebagai bulan penuh beban, melainkan bulan untuk berlomba-lomba meningkatkan kualitas ubudiyah dan meraih derajat tertinggi di sisi Allah SWT.
2. Persiapan Fikriyah (Ilmu). Untuk dapat meraih amalan di bulan Ramadhan secara optimal, maka diperlukan pemahaman yang mendalam mengenai Fiqhus Shiyam. Oleh karena itu, persiapan fikriyah tidak kalah penting bagi seorang muslim untuk mendapatkannya. Dengan pemahaman Fiqhus Shiyam yang baik, dia akan memahami dengan benar mana perbuatan yang dapat merusak nilai shiyam-nya dan mana perbuatan yang dapat meningkatkan nilai dan kualitas shiyam-nya.
3. Persiapan Jasadiyah. Tidak dapat dipungkiri bahwa aktifitas Ramadhan banyak memerlukan kekuatan fisik, untuk shiyam-nya, tarawihnya, tilawahnya, dan aktifitas ibadah lainnya. Dengan kondisi fisik yang baik, dapat melakukan ibadah tersebut tanpa terlewatkan sedikit pun juga. Karena bila kondisi fisik tidak prima, terbuka peluang untuk tidak melaksanakan amaliyah tersebut dengan maksimal, bahkan dapat terlewatkan begitu saja. Padahal, bila terlewatkan, nilai amaliyah Ramadhan tidak dapat tergantikan pada bulan yang lain.
4. Persiapan Maliyah (Harta). Persiapan maliyah ini bukanlah untuk beli pakaian baru, bekal perjalanan pulang kampung, atau untuk membeli kue-kue idul fitri. Akan tetapi untuk infaq, shadaqah, dan zakat. Sebab, nilai balasan infaq, shadaqah, dan zakat akan dilipatgandakan sebagaimana kehendak Allah SWT. Karenanya, mempersiapkan maliyah ini dilakukan sedini mungkin agar dapat dimenej dengan sebaik-baiknya.
Persiapan tersebut harus dilakukan guna mendapatkan buah Ramadhan yang mahal serta dapat melakukan amaliyahnya secara optimal dan maksimal. Sehingga bukan saja merasa senang dan gembira dengan datangnya Ramadhan, akan tetapi memang sudah dipersiapkan sematang mungkin untuk berlomba-lomba dalam aktifitas kebajikan.
***
Optimalisasi Amaliyah Ramadhan
Sebagai sarana tazkiyah dan tarqiyah, Ramadhan sudah selayaknya diisi dengan berbagai aktifitas yang terprogram dan terarah, agar buah Ramadhan yang sangat mahal itu dapat dipetik untuk kehidupan selama dan pasca Ramadhan. Rasulullah SAW telah memberikan contoh dan teladan kepada umatnya dengan melakukan amaliyah Ramadhan, antara lain :
1. Shiyam. Amaliyah terpenting selama Ramadhan tentu saja shiyam, sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Baqarah : 183-187. Di antara amaliyah Ramadhan yang diajarkan Nabi SAW sebagai berikut :
a. Berwawasan benar tentang puasa dengan mengetahui dan menjaga rambu-rambunya.
b. Tidak meninggalkan shiyam, walaupun sehari dengan sengaja tanpa alasan syar'i.
c. Menjauhi segala hal yang dapat mengurangi atau menggugurkan nilai puasa.
d. Bersungguh-sungguh melakukan shiyam dengan menepati aturan-aturannya.
e. Bersahur dan diutamakan mengakhirinya. Sabda Rasulullah SAW, "Sahur semuanya selalu mengandung barakah, maka janganlah kamu meninggalkannya walaupun hanya meminum dengan seteguk air putih. Sesungguhnya Allah beserta para malaikatNya memberi rahmat kepada mereka yang bersahur."
f. Ifthar (berbuka puasa).
g. Berdo'a setelah ifthar.
2. Tilawah Al-Qur'an. Membaca Al-Qur'an merupakan transaksi yang selalu menguntungkan, tidak akan pernah mengalami kerugian sepanjang zaman. Firman Allah SWT, "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri." (QS. 35 : 30).
Tentunya membaca Al-Qur'an di bulan Ramadhan sangat besar ganjaran dan nilainya. Rasulullah pun sangat besar perhatiannya pada Al-Qur'an melebihi bulan-bulan lainnya. Disebabkan beberapa hal, antara lain :
a. Al-Qur'an pertama kali diturunkan pada bulan Ramadhan.
b. Di bulan Ramadhan itulah Allah SWT menurunkan Al-Qur'an dari Lauhul Mahfuzh ke langit dunia.
c. Jibril datang kepada Rasulullah SAW di bulan Ramdahan sehingga beliau mengaji pada Jibril.
3. Qiyam Ramadhan. Disamping Ramadhan disebut sahrus shiyam, juga disebut sahrul qiyam. Banyak ayat atau pun hadits yang menganjurkan untuk mengisi malam Ramadhan dengan qiyamul lail, untuk mendekatkan diri pada Allah SWT berharap ampunanNya. Sabda Rasulullah SAW, "Barang siapa yang melakukan qiyamul lail di bulan Ramadhan karena iman dan ikhlas dalam pelaksanaannya, maka ia akan diampuni dosa-dosa sebelumnya (dan yang akan datang)." (HR. Bukhari dan Muslim).
4. Ith'am Ath-Tha'am (memberi makan orang yang puasa) dan infaq. Salah satu amaliyah Ramadhan yang dilakukan Rasulullah SAW ialah memberi ifthar (santapan berbuka puasa pada orang yang berpuasa). Sabdanya, "Barangsiapa yang memberi ifthar kepada yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala senilai pahala yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa."
Dalam hal memberi ifthar dan shadaqah di bulan Ramadhan, tidak saja terbatas hanya untuk keperluan ifthar, melainkan untuk segala kebajikan. Rasulullah yang dikenal dermawan dan kepedulian sosialnya lebih menonjol, digambarkan dalam hadits pada masalah ini beliau lebih cepat dari angin.
Untuk lebih konkritnya, infaq ini dapat disalurkan kepada :
a. Orang yang berjihad di jalan Allah SWT.
b. Fakir miskin dan orang yang memerlukan.
c. Lembaga-lembaga sosial Islam yang dapat dipercaya untuk dapat menyalurkannya.
5. Memperhatikan Kesehatan. Meskipun shiyam ini termasuk ibadah mahdhah (murni), agar tetap optimal, Rasulullah mencontohkan umatnya tetap memperhatikan kesehatannya selama berpuasa dengan hal-hal sebagai berikut :
a. Menyikat gigi dengan siwak.
b. Berbekam.
c. Memperhatikan penampilan. Rasulullah SAW pernah berwasiat pada Abdullah bin Mas'ud agar memulai puasa dengan penampilan yang baik, tidak dengan wajah yang kusut.
6. Memperhatikan Harmonisasi Keluarga. Meskipun ibadah puasa adalah ibadah yang khusus diperuntukkan kepada Allah SWT yang mempunyai nilai khusus pula di hadapan Allah SWT, namun Rasulullah SAW sebagai suri tauladan juga tetap menjaga harmoni dan hak-hak keluarga selama Ramadhan. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah dan 'Aisyah RA, di saat beliau berada dalam puncak ibadah shiyam, yaitu 'itikaf, beliau tetap menjaga harmoni keluarga.
7. Memperhatikan Aktifitas Sosial, Perluasan Dakwah, dan Jihad. Berbeda dengan kesan banyak orang tentang Ramadhan, Rasulullah SAW justru menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan penuh aktifitas yang positif. Selain aktifitas di atas, beliau pun mengisinya dengan aktifitas dakwah dan sosial, perjalanan jauh, dan jihad. Seperti : Perjalanan ke Badar (2 H), ke Makkah (8 H), ke Tabuk (9 H), dan lainnya.
Kita pun saat ini dapat melakukannya untuk menyemarakkan dakwah dengan melakukan rekruting sebanyak-banyaknya agar setelah Ramadhan bertambah barisan kader dakwah kita.
8. Berdo'a dan Taubat. Orang mukmin yang sadar bahwa dirinya merasa berhajat pada Allah SWT, akan terus memohon ampunan pada Allah SWT atas segala kekhilafan dan kedhaifan diri. Apalagi Ramadhan sebagai bulan ampunan dan rahmat. Rasulullah SAW selama Ramadhan selalu membaca do'a sebagai wujud pemintaan maghfirah dan rahmat Allah SWT, "Ya Allah, Engkau pemberi maaf, maka maafkanlah diriku."
9. I'tikaf. Amaliyah Ramadhan yang juga dilakukan beliau adalah ber-i'tikaf, yakni berdiam diri di mesjid dengan niat beribadah pada Allah SWT, terutama sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana firmanNya, "Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu, mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasannya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu ber-i'tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa." (QS. 2 : 187).
10. Lailatul Qadar. Selama Ramadhan, terdapat satu malam yang sangat populer, yaitu lailatul qadar, malam yang lebih berharga dari seribu bulan. Rasulullah SAW tidak pernah melewatkan kesempatan untuk meraih lailatul qadar ini, terutama malam-malam ganjil. Dalam hal ini, Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan ikhlas pada Allah, maka ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."
11. Umrah. Umrah di bulan Ramadhan nilainya sama dengan ibadah haji atau haji bersama Rasulullah SAW, sebagaimana jawaban Rasul pada Ummu Salamah yang bertanya masalah tersebut. Sabda Rasulullah SAW, "Apabila datang bulan Ramadhan, maka berumrahlah, sebab umrah di bulan Ramadhan sama nilainya dengan haji atau sama dengan ibadah haji bersamaku."
Demikianlah amaliyah dan aktifitas Ramadhan yang dianjurkan kepada kita untuk menjadi sarana tazkiyah dan tarqiyah untuk meraih derajat taqwa, agar buah Ramadhan ini tetap terjaga pada diri kita selama Ramadhan dan sesudahnya, bahkan selama kehidupan kita, sehingga seakan-akan seluruh kehidupan kita adalah Ramadhan. Akhirnya, kita serahkan pada Allah SWT agar selalu membimbing dan mengarahkan kita pada jalan yang lurus untuk mencapai golongan orang-orang yang bertaqwa. Aamiin.
Referensi : Tabloid MQ EDISI 8/Th.I/DESEMBER 2000
KotaSantri.com © 2002-2026