
Pelangi » Risalah | Rabu, 28 Juli 2010 pukul 18:55 WIB
Penulis : @ Arda Dinata
Adanya problematika hidup menyebabkan manusia dapat memaknai arti sebuah jalan keluar yang diambilnya. Dan agar manusia kreatif dalam mencari, menemukan keputusan yang tepat sebagai jalan keluar bagi problematika hidupnya.
Problematika hidup merupakan sebuah keniscayaan dalam nuansa fluktuatif kehidupan manusia. Keberadaannya membikin hidup lebih hidup. Tidak membosankan. Bukankah watak manusia selalu bosan dengan kondisi realita yang tidak berubah. Artinya bukan kita bermaksud menantang problematika hidup untuk datang, tapi lebih didasarkan agar kita bisa bersikap positif dan benar dalam menghadapinya.
Untuk itu, setiap kita harus mempersiapkan diri sedari awal berupa kemampuan menghadapi berbagai problema kehidupan. Sosok demikian, tidak lain merupakan wujud dari manusia shaleh.
Dalam Islam digambarkan didikan dari manusia shaleh ini adalah manusia yang memiliki ketakwaan yang senantiasa mengabdi kepada Tuhannya dan berpegang teguh pada petunjuk Tuhannya. Di samping itu, ia juga yakin akan tujuan kehidupannya hanya semata-mata mengabdi kepada Allah.
Sosok manusia shaleh, diungkap Dr. Syamsul Bahri Andi Galigo, dalam Al-Qur'an dan Peningkatan Kwalitas Manusia, adalah manusia yang berakhlakul karimah, lahir dan batin, menjadi percontohan dalam kehidupannya, dan mudah memberi pengaruh kepada orang lain dan sulit untuk dipengaruhi karena landasan moralnya berupa hidayah Allah sudah menjadi prinsip dalam kehidupannya (QS. Al-Baqarah [2] : 38).
Totalitas sosok manusia shaleh dapat kita temukan dan tercermin pada diri Rasulullah SAW. Itulah sebabnya selaku umat Islam, mengapa kita harus menjadikan Nabi SAW sebagai uswah (suri teladan) bagi mereka yang ingin mendapat ridha-Nya. Lagi pula dalam Al-Qur'an ditegaskan ada beberapa ciri manusia shaleh ini, yaitu memiliki iman, amal shaleh, selalu berpesan mempertahankan kebenaran dan tabah menghadapi problematika hidup.
Menurut Ibrahim Al-Wazir, dalam Iman dan Amal Shaleh diungkapkan bahwa iman dan amal shaleh tidak bisa dipisahkan dalam kenyataan hidup, karena iman laksana dinamo pada mesin, sedang amal shaleh adalah manfaat yang diperoleh dari mesin itu akibat pengaruh dinamo tersebut. Mempertahankan kebenaran adalah hak asasi setiap manusia yang terpendam di dalam hati sanubari, maksudnya setiap orang cinta kebenaran, namun di dalam kehidupan ini terkadang manusia membohongi dirinya sendiri. Oleh karena itulah mempertahankan suatu kebenaran -apalagi kebenaran dari Yang Mahakuasa- jelas menunjukkan sifat mulia yang tidak pernah luput pada diri seorang manusia shaleh.
***
Sabar dalam Hidup
Hidup di dunia ada kalanya kesulitan datang dan ada pula kenikmatan yang menghampiri kita. Ia datang bisa silih berganti. Untuk itu, kita diajarkan oleh Rasulullah menyikapinya dengan sabar dan syukur. Bersabar bila ada kesulitan dan bersyukur ketika kenikmatan datang kepada kita. Konsep dasar inilah yang harus kita tanamkan dalam diri.
Hakikat sikap sabar, tidak lain tahan menderita terhadap sesuatu yang tidak disenangi hati dan perasan dengan penuh kesadaran sambil tawakkal kepada Allah. Ingat, tugas kita dalam hidup ini hanya luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar.
Oleh karena itu, tidaklah disebut sabar apabila menahan dirinya itu disebabkan keterpaksaan atau dipaksa. Tepatnya, sabar termasuk satu kesatuan jiwa yang dapat menentukan sikap. Sehingga sikap sabar bagi kehidupan adalah dengan memposisikan setiap problematika hidupnya sebagai proses pendewasaan kwalitas kehidupan yang penuh arti dan bermakna.
Pada tatanan yang lebih dasar, sabar merupakan sikap yang memancar dari dalam hati, yang tegak di atas penyerahan diri sambil memohon pertolongan kepada Allah SWT. “Wahai orang-orang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan dengan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2] : 153).
Agar sabar yang kita bangun lebih maksimal, maka sudah seharusnya kita mengetahui beberapa tingkatan sabar ini. Pertama, sabar dalam arti mampu menahan diri dari berbuat maksiat, dosa, dan segala bentuk kejahatan dan keburukan (baca : QS. Az-Zumar [39] : 10).
Kedua, sabar dalam arti menerima segala macam musibah yang menimpa atau ditimpakan oleh Allah sambil berusaha mencari jalan keluarnya.
Ketiga, sabar dalam arti tidak memberikan reaksi balik terhadap segala macam fitnah, isu, maupun sikap jahat dan perlakuan negatif dari orang lain yang diarahkan kepada dirinya karena dikhawatirkan akan menambah buruknya suasana.
Keempat, sabar dalam arti mendo'akan kebaikan atas orang yang melakukan tindakan atau sikap jahat seperti sabarnya para ulul azmi (orang-orang yang mempunyai keteguhan hati), sambil tawakkal kepada Allah.
Akhirnya, apapun kesulitan dan kesengsaran dalam problemtika hidup yang menimpa diri kita, maka harus disikapi dengan sabar. Sabar bukan berarti diam, tidak boleh menangis, dan sedih. Tapi, sabar yang lahir dari sikap menerima problematika hidup sebagai bagian dari takdir. Sehingga ia akan menjadi ketenangan yang melindungi dari penyesalan yang tak berujung.
Wallahu a'lam.
KotaSantri.com © 2002-2026