
Pelangi » Risalah | Rabu, 28 Oktober 2009 pukul 17:49 WIB
Penulis : Rahmat Hidayat Nasution
Acap kali kita menyaksikan, atau bahkan kita sendiri mengucapkan kata "terima kasih" kepada seseorang yang telah memberikan pertolongan. Kata tersebut merupakan visualisasi atas rasa syukur atau penghargaan kita kepada orang tersebut. Di sisi lain, kita juga sering bersyukur kepada Allah SWT, bahkan menjadi keharusan bagi setiap muslim. Karena konsep bersyukur mengandung arti memahami dan menandaskan bahwa setiap jenis kebaikan dan pertolongan memang hanya diberikan oleh Allah. Bukankah setiap saat kita mengkonsumsi dan menikmati fasilitas dan anugerah Allah?
Andai saja kita mencoba untuk menghitung anugerah dan kenikmatan yang diberikan Allah, tentu kita akan kehabisan angka dan usaha, karena nikmat dan anugerah Allah itu tak terhingga banyaknya. Sebagaimana yang disitir Al-Qur'an dalam surat An-Nahl : 18, "Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya."
Di dalam Al-Qur'an, lawan orang yang tidak bersyukur diistilahkan dengan tidak beriman (kufur), yang mengandung makna mirip dengan tidak berterima kasih. Dan istilah inilah yang menandaskan pentingnya rasa bersyukur itu untuk senantiasa ditumbuhkan dan dijaga dalam diri kita. Sebab, dengan bersyukur kita akan selalu ingat kepada yang memberi, serta untuk apa karunia atau kenikmatan itu seyogyanya digunakan. Dengan kata lain, sikap bersyukur akan menjadi kontrol bagi kita agar selalu dapat menggunakan kenikmatan sesuai dengan fungsi sebenarnya.
Untuk dapat bersyukur dengan baik, kita harus mengetahui bahwa karunia Allah itu tidak saja yang bersifat materi, namun mencakup banyak hal, misalnya kesehatan, kekayaan, keahlian, kesempatan, dan lain sebagainya. Bahkan karunia terbesar yang telah diberikan Allah adalah keimanan. Maka tak pelak lagi, bila kita mesti tergugah dan sadar untuk selalu memelihara dan memupuknya sebagai realisasi dari rasa syukur kita terhadap karunia itu.
Sebaliknya, bila karunia yang diberikan Allah itu tidak disyukuri akan berakibat buruk pada diri kita sendiri. Contohnya saja kekayaan, jika kita tidak mensyukurinya dan memanfaatkannya dengan baik, akan menjebak diri kita menjadi manusia yang berjiwa materialistis, hidup kita hanya diperbudak oleh harta dan kekayaan. Implikasinya, akan menjauhkan diri kita dari pribadi manusia yang mulia. Allah SWT telah mengingatkan kita di dalam kalamNya akan bahayanya hidup diperbudak harta, "Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah rekan-rekan setan dan setan itu adalah hamba yang sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra' : 26-27).
Jadi, bersyukur kepada Allah adalah bagian dari ujian Allah. Kita pasti dianugerahi dengan nikmatNya, dan diberitahu bagaimana memanfaatkannya. Sebagai balasannya, kita seyogyanya tunduk dan patuh kepada penciptanya. Akan tetapi, Allah Yang Mahamulia tidak memaksakan kita untuk harus bersyukur kepadaNya, hanya diberikan pilihan mau bersyukur atau tidak, "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setitik mani yang bercampur, lalu Kami uji dia; maka Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya, kami telah menunjukinya jalan; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir." (QS. Al-Insan : 2-3).
Seperti yang disinyalir ayat di atas, pilihan kita untuk bersyukur atau tidak merupakan pertanda nyata beriman atau tidaknya kita. Bukankah Allah telah menegaskan masalah ini di dalam surat An-Nisa' ayat 147, "Mengapa Allah menyiksamu, jika kamu bersyukur atau beriman? Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui."
Ayat di atas selain sebagai pertanda beriman atau tidaknya, juga memberikan kabar gembira bahwa Allah memberi balasan yang baik kepada orang yang tetap beriman dan bersyukur; "Dan ingatlah juga tatkala Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmatKu, maka sesungguhnya azabKu sangat pedih." (QS. Ibrahim : 7).
Maka Al-Qur'an senantiasa menghimbau kita untuk dengan seksama memperhatikan nikmat-nikmat Allah dan berulang kali mengingatkan kita tentang apa yang cenderung kita lupakan. Bahkan, Musthafa Ad-Dibbagh dalam kitab Wujuh min Al-Ijaz Al-Qur'an Al-Qur'ani menyatakan bahwa Allah menyebutkan kata "syukur" di dalam Al-Qur'an sekitar 70 kali, di antaranya menyebutkan tentang pentingnya bersyukur kepada Allah, contoh orang-orang yang bersyukur dan tidak bersyukur, dan tempat terakhir mereka di akhirat.
Mengapa begitu banyak penegasan penting yang tersimpan dalam konsep bersyukur kepada Allah? Jawabannya hanya satu, karena hal ini merupakan petunjuk yang pasti tentang keimanan dan keyakinan seseorang tentang keesaan Allah. Bahkan dalam satu ayat, "bersyukur" dilukiskan sebagai "hanya beribadah kepada Allah", "Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembah." (QS. Al-Baqarah [2] : 172).
Dalam ayat yang lain, pernyataan ingkar setan kepada Allah, pada saat dia menolak sujud kepada Adam AS, juga menandaskan pentingnya bersyukur kepada Allah. Sebagaimana Al-Qur'an memaktubkan pernyataan itu di dalam surat Al-'Araf ayat 17, "Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan engkau tidak mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)."
Sebagaimana ayat di atas menandaskan bahwa setan telah bertekad hanya menggunakan umurnya untuk menyesatkan manusia, hal ini karena merasa "jengkel" diusir Allah dari surga. Bahkan dalam surat An-Nisa' ayat 118 dan 119 setan menjelaskan langkah-langkahnya secara global dalam menjerumuskan manusia, "Setan mengatakan : Aku benar-benar akan mengambil dari hamba-hambaMu bagian yang sudah ditentukan untukku. Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka memotong telinga-telinga binatang ternak, lalu mereka benar-benar memotongnya, dan aku suruh mereka merubah ciptaan Allah, lalu mereka benar-benar merubahnya."
Jadi, tampak jelas bahwa tujuan akhir setan adalah menjadikan manusia untuk tidak bersyukur kepada Allah. Bila kita merenung dan berpikir akan tujuan akhir setan ini, akan lebih bisa dipahami mengapa seorang manusia bisa menjadi sesat jika tidak bersyukur kepada Allah. Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa orang-orang yang tidak bersyukur kepada Allah adalah orang-orang yang tidak membiasakan dirinya mengingat Allah, sehingga membuatnya tidak taat kepadaNya.
Seorang yang seperti binatang, menikmati segala karunia yang diberikan Allah kepadanya tanpa pernah merenungkan mengapa semua itu diberikan kepadanya dan siapa yang telah memberikannya, jelas harus merubah sikapnya. Bila tidak demikian, mengharap pahala dari Allah dan berharap menggapai surga tidak akan ada artinya. Itulah sebabnya, kenapa orang beriman tak pernah luput dan selalu tergugah untuk bersyukur kepada Allah.
Kita juga tahu dari Kalam Allah, bahwa hanya orang yang bersyukur kepada Allah-lah yang bisa memahami tanda-tanda kekuasaan Allah, "Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang benar-benar bersyukur." (QS. Al-'Araf : 58). Sehingga tervisualisasi kepada kita bahwa sesungguhnya manfaat dari sikap bersyukur itu akan kembali kepada orang yang bersyukur sendiri dan sedikit pun Allah tidak akan mengambil keuntungan dan tidak pula mendapatkan kerugian dari sikap hambanya, apakah bersyukur atau tidak.
Semoga Allah senantiasa memberi kita taufik dan menerangkan hati kita untuk selalu mengingat kenikmatan yang telah diberikan, lalu kita mensyukurinya. Aamiin...
Referensi :
1. Klasifikasi Kandungan Al-Qur'an, Choiruddin Hadhiri. GIP 1993.
2. Wujuh min Al-Ijaz Al-Qur'an Al-Qur'ani, Musthafa Ad-Dibbagh. Maktabah Al-Manar 1985.
3. Berpikirlah Sejak Anda Bangun Tidur, Harun Yahya. Globalmedia 2004.
KotaSantri.com © 2002-2026