Pelangi » Risalah | Rabu, 24 Juni 2009 pukul 18:45 WIB

Saatnya Berlomba-Lomba dalam Kebaikan

Penulis : Rahmat Hidayat Nasution

Rasulullah SAW bersabda, “Bersegeralah kamu beramal shaleh, karena akan datang (terjadi) fitnah-fitnah seperti serpihan malam gulita, di mana seseorang pada pagi hari beriman, namun sore harinya kafir, sore hari beriman pada pagi harinya kafir. Ia rela menjual agamanya dengan harta benda dunianya.”

Adalah menjadi perhatian penting bagi kita untuk merenungkan dan menangkap pesan Rasulullah SAW yang termaktub dalam hadits di atas, yaitu bahwa fitnah besar akan terjadi dan bakal menggoncang kehidupan manusia. Karena begitu dahsyatnya goncangan fitnah itu, sampai menyentuh “teritorial” keimanan. Bahkan divisualisasikan dengan seorang mukmin akan dapat berubah ideologi agamanya dalam sehari, pagi beriman sore hari kafir, sore hari beriman pagi hari menjadi kafir. Agaknya goncangan-goncangan itu mulai tampak tanda-tandanya dalam kehidupan kita dewasa ini, sekalipun belum begitu terasa menyentuh substansi yang dimaksud, atau bahkan mungkin sudah terasa hanya saja belum begitu kentara.

Betapa telah kita baca di media massa maupun elektronik bahwa kondisi politik di negeri ini pasca Pemilu Legislatif mulai terasa memanas, dikarenakan adanya isu kekecewaan sebagian masyarakat terhadap pelaksanaan Pemilu April lalu. Juga, kita baca dan dengar berita maraknya isu saling hujat-menghujat serta klaim-mengklaim keberhasilan yang dilakukan pihak yang terlibat dalam mendukung Capres yang akan bertarung pada 8 Juli mendatang. Bahkan, diberitakan juga bahwa beberapa tindakan anarkis menjelang pemilihan presiden sudah terjadi di beberapa daerah.

Memperhatikan pesan Rasulullah SAW melalui hadits di atas, langkah yang patut dilakukan pada saat kondisi seperti yang terjadi di atas adalah, berlomba-lomba dalam beramal shaleh dan kebaikan. Dengan cara saling mengingatkan akan pentingnya mencegah terjadinya kerusakan-kerusakan dalam kehidupan, yaitu dengan tidak melakukan tindakan-tindakan anarkis yang dapat menghilangkan nyawa atau merusak ketentraman hidup yang selama ini telah dirasakan bersama. Langkah ini penting untuk ditindaklanjuti sebagai antisipasi agar kondisi yang mulai carut-marut ini tidak menjadi lebih parah, apalagi sampai menjadi fitnah agama yang sangat membahayakan.

Bertindak secara bijaksana dan memperbanyak amal shaleh sebagai salah satu antisipasi yang dapat dilakukan dengan kemampuan dan kedudukan masing-masing. Yang terpenting adalah, adanya wujud kesadaran dan kepedulian yang setara antar sesama muslim sehingga tidak terjadi ketimpangan dan keganjalan. Karena kemakmuran bangsa ini adalah tugas kita bersama, bukan milik golongan tertentu.

Karena itu, agar terciptanya kondisi yang kondusif, maka yang terpenting saat ini adalah mensosialisasikan pesan moral yang termaktub dalam surat Al-’Ashr. Allah SWT berfirman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati agar selalu bersabar.”

Berdasarkan ayat di atas, ada tiga hal penting dan tak pelak lagi harus dilakukan oleh manusia, yaitu berpegang teguh pada keimanan, memperbanyak amal shaleh, nasehat-menasehati agar tetap selalu dalam kebenaran dan kesabaran. Sebagai orang muslim, kita sangat dituntut untuk mampu melaksanakan pesan yang termaktub dalam Kalam Allah tersebut. Bahkan, kita harus menjadi pelopor untuk mengajak manusia kembali kepada ajaran agama, agar kita tidak termasuk orang-orang yang merugi. Sungguh tepat apa yang ditulis ‘Aid bin Abdullah Al-Qarny dalam bukunya “Hatta Takuna As’ad An-Nas”, bahwa kebahagiaan itu adalah ketika kita mampu melerai perpecahan, menghilangkan sikap saling memusuhi, aktif beramal shaleh, dan menjauhkan diri dari keinginan syahwat yang menggebu-gebu.

Karena itu, sebagaimana dikatakan di atas, bahwa berbuat kebaikan dan melakukan amal shaleh dapat dilakukan dengan berbagai media dan kesempatan menurut kemampuan masing-masing. Jika kita hanya mampu menyumbangkan pikiran, maka kemampuan ini harus dapat dioptimalkan untuk kebaikan dan amal shaleh, dengan cara memberikan solusi terbaik terhadap setiap permasalahan yang dapat merusak keharmonisan antar kita. Jika kita mampu dengan harta, mari kita “belanjakan” untuk segala hal-hal yang menyangkut kebaikan, minimal mampu membantu saudara-saudara kita yang lemah. Yang penting, kita dapat berbuat baik dan bermanfaat bagi agama dan negara. Dan, amal baik itu akan dapat kita petik hasilnya kelak di akhirat.

***

Buah Kebaikan

Untuk memotivasi kita agar aktif dalam melakukan kebaikan dan amal shaleh, kita harus melihat apa yang dijanjikan Allah SWT untuk hambaNya yang melakukan kebaikan dan amal shaleh. Salah satu rahasia yang diungkapkan Allah di dalam KalamNya adalah, bahwa orang yang beramal shaleh akan diberi balasan yang baik di dunia maupun di akhirat. Hal ini disitir dalam surat Az-Zumar ayat 10, “Katakanlah : Hai hamba-hambaKu yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas."

Sekalipun demikian, kita perlu mengetahui apakah hakekat “kebaikan” itu sebenarnya. Kebanyakan manusia memahami arti kebaikan dengan berbuat hal-hal yang menyenangkan orang lain, memberi uang kepada orang miskin, berperilaku toleransi terhadap setiap jenis perbuatan dan tindakan yang dilakukan orang lain maupun agama lain. Padahal, Allah SWT telah menjelaskan di dalam KalamNya tentang hakekat kebaikan sebenarnya.

Allah SWT berfirman, “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu merupakan suatu kebaikan, akan tetapi, sesungguhnya kebaikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintai kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), orang yang meminta-minta; memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2] : 177).

Jadi, berdasarkan ayat di atas, kebaikan sesungguhnya adalah takut kepada Allah, tetap mengingat hari pembalasan, mengikuti hati nurani, selalu menepati janji bukan hanya mengumbar janji, dan selalu melakukan perbuatan yang akan diridhai Allah SWT. Maka, bukanlah disebut kebaikan jika kita merusak substansi akidah kita dengan memberikan toleransi seluas-luasnya terhadap tindakan-tindakan yang menyimpang dari risalah tauhid yang diajarkan Rasulullah SAW. Jelasnya, tidak ada toleransi jika menyangkut “teritorial” akidah kita.

Oleh karena itu, marilah kita berlomba-lomba dalam kebaikan dan amal shaleh. Di samping sebagai bekal kita kelak di akhirat, juga menjadi media untuk mewujudkan keharmonisan antar kita dan membendung “teritorial” akidah kita dari beragam goncangan yang membahayakan.

KotaSantri.com © 2002-2026