Pelangi » Refleksi | Jum'at, 4 Oktober 2013 pukul 19:19 WIB

Ridha Orangtua

Penulis : Mujahid Alamaya

Pekan lalu, saya pulang ke Bandung. Karena Sabtu itu jadwal bapak cuci darah, maka saya langsung menuju rumah sakit. Selesai cuci darah, bersama kakak mengantar bapak untuk periksa ke dokter lain karena sebagian anggota tubuh bapak tidak bisa digerakan. Hasil diagnosa mengatakan bahwa bapak terkena gejala stroke dan harus segera dibawa ke rumah sakit.

Malam itu juga, kami mengantar bapak ke sebuah rumah sakit. Setelah melalui beberapa proses di UGD, pihak rumah sakit menyatakan bahwa bapak harus dirawat. Karena kamar penuh, sementara bapak dirawat di ruangan UGD. Saya mendapat giliran pertama untuk menemani bapak pada malam itu.

Esoknya, saya harus kembali ke Jakarta. Setelah sepupu saya datang untuk bergantian menemani bapak, saya pulang ke rumah untuk istirahat secukupnya. Sore hari, saya kembali ke rumah sakit untuk berpamitan pada bapak dan juga saudara yang lain. Kala sakit, bapak masih mengkhawatirkan keselamatan anaknya.

"Besok saja pulangnya, ba'da shubuh. Jangan dibiasakan pulang ke Jakarta malam hari. Khawatir di jalan, takut ada apa-apa. Lihat berita di tv, banyak tindakan kriminal."

Padahal, saya sudah terbiasa pulang dari Bandung ke Jakarta pada malam hari, walaupun sebenarnya deg-degan tingkat tinggi.

Karena ridha orangtua adalah ridha Allah SWT, maka saya jelaskan pada bapak, bahwa saya harus masuk kerja jam 8. Jika pulang ba'da shubuh, bisa terlambat masuk kerja. Lagi pula, saya sudah membeli tiket kereta api. Akhirnya bapak merestui saya untuk kembali ke Jakarta hari itu juga.

Malam itu, Allah SWT telah membuat skenario yang indah. Tanpa diminta, seorang sahabat menawarkan diri untuk menjemput ke stasiun.

Ke luar stasiun sekitar pukul 23, ia sudah berada di depan stasiun. Tanpa basa-basi, ia langsung mengantarkan saya sampai ke tempat kost.

Alhamdulillaah... Inikah salah satu bentuk pembuktian bahwa ridha orangtua adalah ridha Allah SWT? Wallahu a'lam.

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia, janganlah ia beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orangtua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut di sisimu, maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya. Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil.” (QS. Al-Isra’ ayat 23-24).

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

KotaSantri.com © 2002-2026