Pelangi » Refleksi | Selasa, 10 September 2013 pukul 20:02 WIB

Bakti yang Tak Seberapa

Penulis : Mujahid Alamaya

Di usianya ketika memasuki kepala 6, walaupun sudah pensiun, ayah masih tetap bekerja menjemput rejeki untuk menafkahi keluarga. Kini, di usianya yang sudah memasuki kepala 7, ayah sudah tidak bekerja lagi. Selain faktor usia, juga karena kondisi fisiknya yang tidak memungkinkan akibat sakit yang dideritanya.

Dengan kondisi tersebut, otomatis ayah hanya mengandalkan anak-anaknya. Dan kakak saya yang pertama menjadi andalan ayah, karena kehidupan ekonominya lebih mapan dibanding anak-anaknya yang lain. Walaupun demikian, sayapun berusaha semaksimal mungkin untuk memerhatikan ayah.

Suatu ketika, ayah meminta saya membelikan sesuatu. Ketika saya hendak pergi ke toko, ayah memberi saya uang. Saya tolak dan saya katakan bahwa saya yang akan membayarnya. Pun ketika saya berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan ayah yang lain, ayah selalu berkata, "Maaf, ayah banyak merepotkan."

Deg... Tersentak hati ini. Baru sedikit saja saya berkorban untuk ayah, ia sudah merasa tidak enak kalau telah merepotkan saya. Padahal dulu, ketika saya meminta sesuatu, kadang dengan merengek, ayah selalu memenuhinya tanpa merasa direpotkan. Maka hinalah saya jika merasa direpotkan ketika memenuhi kebutuhan ayah.

Apa yang saya lakukan saat ini untuk memenuhi kebutuhan ayah, tidaklah cukup untuk membalas segala kebaikan dan pengorbanan orangtua pada anak-anaknya. Sebesar apapun dan sampai kapanpun bakti anak pada orangtuanya, tak akan sanggup membayarnya. Apalagi bakti saya yang tak seberapa itu.

KotaSantri.com © 2002-2026