
Pelangi » Refleksi | Rabu, 24 Juli 2013 pukul 21:12 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Entah kejadian ke berapa kali yang saya alami ketika dihadapkan pada dilema antara mendirikan shalat terlebih dahulu atau memrioritaskan perjalanan karena mengejar waktu supaya sesuai rencana. Salah satunya adalah mengejar waktu karena jadwal keberangkatan pesawat yang mepet dengan waktu shalat.
Saat itu, ketika hendak pulang dari Makassar dengan keberangkatan pukul 19:45, terjadi salah informasi antara teman saya dengan orang yang akan mengantar saya ke bandara. Teman saya mengatur jadwal bahwa saya berangkat ke bandara pukul 18:00, padahal sebelumnya saya mengatakan bahwa pukul 18:00 harus sudah di tiba bandara.
Pukul 18:00 tiba, tapi orang yang akan mengantar belum juga datang. Beberapa menit kemudian, adzan maghrib berkumandang. Tanpa berpikir lama, saya bergegas ke masjid untuk shalat, walaupun sebenarnya deg-degan takut tertinggal pesawat. Saya meyakinkan diri, shalat saja dulu, semoga penerbangannya delay.
Pulang dari masjid hampir pukul 18:30 dan orang yang akan mengantar sudah datang. Sayapun bergegas berangkat ke bandara, dengan harapan bisa tiba tepat waktu. Namun apa daya, walaupun kecepatan motor telah ditambah, tapi kemacetan panjang cukup menghambat perjalanan. Saya terus melirik jam tangan, khawatir tertinggal pesawat.
Waktu telah menunjukkan pukul 19:15, batas akhir waktu check in, sedangkan saya masih di jalan dan baru tiba di bandara pukul 19:30. Saya pasrah jika saya tertinggal pesawat, karena sudah lewat dari batas waktu check in. Tapi karena saya yakin bahwa pesawat belum take off, sayapun bergerak cepat masuk ke terminal.
Setelah mondar-mandir mencari check in counter, sayapun lesu tak berdaya, karena konter telah tutup. Di saat kebingungan, saya diberi arahan oleh salah seorang petugas untuk langsung ke boarding gate karena saat itu terdengar last call dari pengeras suara. Sayapun lari-lari menuju boarding gate.
Alhamdulillaah, setelah melewati petugas di pintu masuk boarding lounge, saya diijinkan masuk pesawat, walaupun sebenarnya semua penumpang kecuali saya sudah meninggalkan boarding lounge. Saya melewati jalan pintas, dan berhasil bergabung dengan penumpang lain untuk sama-sama naik ke pesawat.
Di atas pesawat, tak henti-hentinya saya mengucap syukur alhamdulillaah. Walaupun saya sudah pasrah, namun ternyata kepasrahan itu berbuah manis. Allah SWT telah membuka jalan bagi saya agar saya tidak tertinggal pesawat. Mungkin inilah salah satu hikmah ketika saya tetap berusaha mendahulukan Allah SWT dibandingkan yang lain.
KotaSantri.com © 2002-2026