Pelangi » Refleksi | Sabtu, 6 Juli 2013 pukul 21:00 WIB

Seharusnya, Malu dengan Penampilan

Penulis : Mujahid Alamaya

Beberapa waktu lalu, ketika turun dari bis Bandara Soekarno Hatta di kawasan Kalibata - Pancoran, saya melihat beberapa pemuda dengan atribut anak pengajian sedang memasang atau mungkin menurunkan spanduk di pertigaan jalan. Sikap mereka begitu acuh tidak memedulikan keadaan di sekitarnya, padahal banyak pengguna jalan yang lewat.

Kemudian saya menaiki mikrolet. Di dalam mikrolet, ada 3 orang pemuda yang juga beratribut anak pengajian. Berpeci, mengenakan baju koko dan kain sarung. Mereka duduk seenaknya sendiri sambil menghisap rokok. Penumpang lain mulai memenuhi mikrolet, namun 3 orang pemuda tadi masih mengepulkan asap rokok dan bersikap acuh tak acuh.

Mikrolet melaju. Setelah menempuh perjalanan hampir 15 menit, 3 orang pemuda tadi turun. Ketika membayar ongkos, mereka bertiga hanya membayar 3.000 rupiah. Sang sopir tidak terima, dan meminta ongkos sesuai tarif. Namun 3 orang pemuda itu bersikeras hanya membayar 3.000 rupiah. Adu argumen terjadi, namun akhirnya sang sopir mengalah.

Melihat tingkah laku mereka yang beratribut anak pengajian, saya malu. Sikap mereka seakan menyentak saya. Ya, saya yang melihatnya saja merasa gerah dengan sikap mereka yang tidak mencerminkan sebagai anak pengajian. Penampilan mereka tidak disertai dengan sikap dan akhlak yang baik. Seharusnya, mereka itu malu dengan penampilannya.

Apakah mereka diajarkan demikian di pengajian? Ataukah, ilmu yang disampaikan di pengajian hanya masuk telinga kanan dan ke luar dari telinga kiri? Entahlah. Yang pasti, banyak saya temui mereka-mereka yang beratribut anak pengajian, namun tidak mencerminkan sebagai anak pengajian. Sikap mereka seperti itu, membuat malu kaum muslimin di mata orang lain.

KotaSantri.com © 2002-2026