Pelangi » Refleksi | Selasa, 18 Juni 2013 pukul 21:00 WIB

Berat untuk Berbohong

Penulis : Mujahid Alamaya

Suatu hari, datang dua orang tenaga pemasaran kartu kredit dari sebuah bank. Awalnya mereka datang untuk menemui salah seorang rekan kerja yang berminat mengajukan kartu kredit pada bank tersebut. Ia memang dikenal banyak memiliki kartu kredit dari beberapa bank.

Selesai urusan dengan rekan kerja, salah satu tenaga pemasaran tersebut menawari saya untuk mengajukan kartu kredit pada bank di mana ia bekerja. Saya tidak berminat untuk mengajukannya, namun Iseng-iseng saya ngobrol seputar kartu kredit dengan dia.

Tibalah pada obrolan seputar gaji. Ketika saya jelaskan bahwa gaji saya kecil dan tidak memenuhi persyaratan, dengan enteng ia menjawab bahwa semua itu bisa diatur. Ia akan memanipulasi data gaji, surat keterangan gaji, dan ia pula yang akan mengurus semuanya.

Mudah sekali jika memang demikian. Namun saya tetap pada pendirian saya, tidak akan mengajukan. Selain karena tidak berminat, juga karena prosesnya yang disertai kebohongan. Ya, bohong dalam hal persyaratan keterangan pendukung berupa surat keterangan gaji.

Berat. Berat sekali jikalau saya harus berbohong. Walaupun manipulasi data tersebut merupakan hal sepele, namun sekecil apapun itu, tetap saja namanya bohong. Dan sekali berbohong, maka akan terus menerus berbohong untuk menutupi kebohongan itu.

“Sesungguhnya kejujuran akan menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan menghantarkan kepada surga. Seseorang yang berbuat jujur oleh Allah akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya bohong itu akan menunjukkan kepada kelaliman, dan kelaliman itu akan menghantarkan ke arah neraka. Seseorang yang terus menerus berbuat bohong akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong.” (HR. Bukhari dan Muslim).

KotaSantri.com © 2002-2026