
Pelangi » Refleksi | Rabu, 12 Juni 2013 pukul 22:00 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
"Tak perlu pintar, yang penting loyal dan mau belajar," ucap atasan saya ketika kami sedang berbincang mengenai sikap beberapa rekan kerja satu tim yang tidak bekerja dengan optimal dan terkesan asal-asalan. Ucapan atasan saya tersebut hanya berlalu begitu saja, tanpa saya cerna begitu dalam.
Hingga pada suatu waktu, salah seorang anggota tim yang saya pimpin ada yang paling pintar. Ia selalu saya jagokan dan mulai saya bina untuk memegang beberapa pekerjaan penting yang saya tangani. Saya 'transfer' apa yang saya pahami agar ia bisa mengerjakannya. Perlahan, saya ingin menjadikannya sebagai pengganti saya kelak.
Namun apa yang terjadi? Tidak lama kemudian, ia berpaling ke lain hati. Ia pindah ke tim yang lain walaupun masih satu divisi. Kepindahannya ke tim yang lain tidak saya setujui. Namun karena saat itu saya sedang cuti, entah apa yang terjadi, tiba-tiba atasan saya merestui kepindahannya tanpa konfirmasi terlebih dahulu dengan saya.
Saya baru menyadari ucapan atasan saya tersebut. Ternyata, orang pintar yang selalu saya jagokan itu tidak loyal. Ia lebih tertarik pindah tim, karena katanya, posisi di tim tersebut lebih menjanjikan dan lebih bonafid. Saya bandingkan ia dengan anggota tim saya yang lain. Walaupun anggota tim yang lain ada yang tidak menguasai pekerjaan, tapi mereka loyal dengan timnya dan mau belajar dengan bertanya kepada mereka yang lebih menguasai.
Ah, rupanya kepintaran tidak menjamin moralnya baik. Saya jadi ingat dengan sebuah kalimat di media online, "Banyak orang pintar, tapi kurang mempunyai moral. Teramat percuma jika orang pintar, tapi moralnya minim." Ada benarnya juga kalimat tersebut. Pendidikan tinggi, tapi moral rendah. Sama saja dengan pohon yang tinggi, tapi akarnya tidak kuat, sehingga mudah goyah jika diterpa angin yang kencang.
KotaSantri.com © 2002-2026