Pelangi » Refleksi | Sabtu, 13 April 2013 pukul 11:00 WIB

Menjaga Harga Diri

Penulis : Mujahid Alamaya

Tak dapat dipungkiri bahwa di banyak kota besar, profesi pengemis banyak diminati oleh mereka yang berpikiran sempit. Kemiskinan dijadikan alasan untuk mengemis, walaupun sebenarnya, secara fisik, mereka masih mampu untuk berkarya. Rupanya sifat malas telah mengalahkan sifat rajin.

Melihat fenomena tersebut, saya jadi teringat dengan sebuah keluarga di dekat tempat tinggal saya. Bisa dikatakan mereka merupakan keluarga miskin. Tinggal di sebuah gubuk, karena memang rumahnya berdindingkan bilik bambu, yang luasnya kira-kira sekitar 20 meter persegi. Itupun statusnya kontrak.

Kemiskinan tersebut, tidak membuat mereka berpikiran sempit. Kepala keluarga tetap bertanggung jawab untuk menjemput rejeki dan menafkahi keluarganya. Kerja apapun ia lakukan, asalkan halal. Pedagang asongan dan pedagang kaki lima pernah ia lakoni, tanpa sungkan dan malu. Sang istripun turut membantu dengan kerja serabutan. Membantu pekerjaan rumah tangga tetangga ataupun mengerjakan pekerjaan ringan lainnya.

Walaupun pekerjaan mereka tidak tetap, namun ada saja rejeki yang mengalir untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Rejeki yang diperoleh, mereka gunakan dengan sebaik-baiknya. Beberapa tetanggapun banyak yang membantu mereka untuk sekedar meringankan beban.

Kesungguhan mereka dalam menjemput rejeki di tengah kemiskinannya, merupakan salah satu cara untuk menjaga harga diri. Mereka telah membuktikan bahwa kemiskinan bukanlah alasan untuk berpikiran sempit dengan menjadi pengemis. Dan, kesungguhan mereka tersebut berbuah manis, yakni kebutuhan hidupnya dapat tercukupi.

KotaSantri.com © 2002-2026