
Pelangi » Refleksi | Kamis, 11 April 2013 pukul 19:00 WIB
Penulis : Eko Prasetyo
Seorang kawanku di Semarang mengaku telah tertipu. Ironisnya, ia dikibuli rekannya sendiri. Mereka semula menjalin kerja sama dalam sebuah bisnis kuliner. Temanku tersebut menyuntikkan modal yang lumayan besar, ratusan juta. Namun, ketika usaha itu belum seumur jagung, sahabatnya berbuat khianat. Modalnya dibawa kabur.
Kawanku stres berat. Ia pun terlilit utang berbunga. Akibatnya fatal, ia terlibat pertengkaran hebat dengan istrinya. Aku sendiri tak tahu harus memberikan solusi apa. Yang jelas, saat itu aku berupaya menjadi pendengar saja.
Jujur, aku ngeri mendengar pengalaman kawanku tersebut. Betapa saat ini sulit mencari teman yang betul-betul bisa menjadi teman di segala waktu dan kondisi. Bukan teman yang ada tatkala kita bergelimang uang, namun pergi ketika kita dilanda musibah dan membutuhkan dukungan moral.
Ia betul-betul menyesali tindakannya yang dinilai bodoh karena tergoda untuk mendapat keuntungan besar berlipat-lipat. Hingga ia ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri.
Sungguh, aku bisa merasakan bagaimana pedihnya dikhianati seperti itu. Dan yang kulakukan saat itu hanya menghibur kesedihan kawanku. ”Menyesal dan meratapi musibah juga tidak akan menyelesaikan masalah,” ujarku menenangkannya.
Aku tahu bahwa dalam keadaan kalut seseorang akan sangat sulit menerima kata-kata menghibur. Berhasil atau tidak, aku hanya menyarankannya untuk curhat sebaik-baiknya kepada Sang Pemilik Ruh. Sebab, bagaimanapun, Dia adalah sebaik-baik tempat mengadu.
Aku juga mengingatkannya untuk siap memulai semuanya dari nol kembali. Sangat berat? Itu pasti. Namun, life must go on. Tuhan pasti punya rencana di balik itu semua.
Di sela kesibukan bekerja, aku menyempatkan mengirimi dia e-mail tentang potongan berita Olimpiade 2012 London yang dimuat Jawa Pos. Tentang Manteo Mitchell, seorang pelari asal Amerika Serikat.
Namanya kesohor di seluruh dunia tatkala ia menunjukkan semangatnya yang luar biasa. Gigih.
Dalam sebuah nomor lari estafet 4 x 100 meter, Mitchell menjadi salah satu pelari dan mencetak rekor waktu 45,6 detik. Ini torehan yang dahsyat di nomor tersebut.
Yang fenomenal, hasil itu dicapai ketika Mitchell mengalami patah tulang betis kiri. Pada 200 meter terakhir, ia berlari sekencang-kencangnya dalam kondisi betis patah dan menahan rasa sakit luar biasa.
”Tanpa determinasi, tim AS tidak akan masuk final. Saya tidak akan mengecewakan teman-teman. Kami menunggu lama untuk ambil bagian dalam kompetisi ini,” ujarnya saat diwawancarai BBC.
Ya, berkat semangat dan perjuangan yang luar biasa itu, AS akhirnya lolos ke final. Meski akhirnya AS kalah oleh Bahama di babak puncak, nama Mitchell dicatat dengan tinta emas di dunia olahraga. Ia telah menunjukkan bagaimana seharusnya seseorang bangkit dan berjuang. Berusaha menjadi pemenang, bukan pecundang.
Aku sertakan pula link video YouTube tentang perjuangan dahsyat Mitchell kepada kawanku tersebut. Kali ini aku tidak hendak menghiburnya. Aku berharap ia tidak terlalu lama meratapi musibah yang menimpanya, segera bangkit dari keterpurukan. Menjadi juara. Meski, itu berat dan butuh pengorbanan.
KotaSantri.com © 2002-2026