Pelangi » Refleksi | Jum'at, 5 April 2013 pukul 20:00 WIB

Kisah Kaus Olahraga

Penulis : Eko Prasetyo

Mas Polo, begitu saya biasa menyapanya. Rambutnya agak cepak. Perawakannya sedang dan tegap, sekilas mirip anggota marinir. Ia bertugas sebagai pemimpin redaksi (pemred) di sebuah penerbitan. Saat ini ia menyiapkan penerbitan buku terbaru karya Menteri BUMN Dahlan Iskan.

Ketika berdiskusi di Sirikit School of Writing (SSW) pekan lalu, ia membagikan kisah semasa kecilnya. Ternyata, sejak kecil ia memiliki cacat tubuh. Salah satu kakinya sedikit pincang karena penyakit.

Alhasil, ketika duduk di bangku sekolah dasar (SD), ia tidak pernah mengikuti pelajaran olahraga. Padahal, dia mengaku hobi sepak bola.

Bukan tanpa alasan ia tidak ikut pelajaran yang sebenarnya ia sukai tersebut. Sang guru tidak membolehkannya karena alasan iba dengan kondisi Polo. Apalagi, kakinya tidak bisa berjalan sebagaimana orang normal lainnya.

Mas Polo tentu saja sangat sedih. Kaus olahraganya masih terlihat baru karena memang tak pernah dipakai. Hal itu berlangsung sampai kelas 3 SD.

Hingga akhirnya impian tersebut jadi kenyataan. Ketika naik ke kelas 4 SD, guru olahraganya tiba-tiba memanggil Polo. ”Segera ganti seragam kamu dengan kaus olahraga,” perintah sang guru.

Polo seolah belum percaya. Pasalnya, selama ini ia hanya membawa kaus olahraga pas jam pelajaran itu, tapi tak pernah mengenakannya. Instruksi itu kemudian diucapkan kembali oleh gurunya. Polo lantas bergegas mencopot seragamnya dan memakai kaus olahraganya.

Saat itu dilakukan pertandingan sepak bola, salah satu cabang yang begitu digemarinya. Polo bingung. Ia sadar bahwa dirinya tidak bisa berlari jika turun sebagai bek, gelandang, ataupun penyerang. Sang guru rupanya menangkap kegalauan Polo.

”Hei Polo! Jangan berdiri terus di situ. Ayo segera jaga gawang timmu,” seru Pak Guru.

Polo tersadar. Ia masuk ke lapangan kecil itu dan menjadi kiper. Teman-temannya lantas memberikan tepuk tangan. Aplaus yang meriah.

Hari itu ia bermain cemerlang dan melakukan beberapa penyelamatan gemilang sehingga timnya tidak kebobolan. Skor berakhir imbang 0-0. Polo jadi bintang baru.

Ia mendapatkan kepercayaan dirinya setelah memakai kaus olahraga yang selama ini hanya jadi teman di dalam tasnya. Ia segera membuang jauh-jauh rasa minder yang bertahun-tahun menghinggapi pikirannya. Guru olahraga tersebut merupakan salah satu orang yang sangat berjasa dalam hidup Polo.

Polo sadar bahwa setiap individu itu bisa berprestasi di bidang apa pun. Cacat tubuh bukan penghalang.

Mas Polo, begitu saya biasa menyapanya. Kini ia menjadi orang yang sangat dihormati karena berbagai prestasinya. Lantaran kinerjanya dinilai bagus, ia mencapai puncak karir sebagai pemred penerbitan berskala besar di bawah Jawa Pos Group. Bagi dia, tantangan harus dihadapi dan ditaklukkan, bukan ditakuti, apalagi dihindari.

KotaSantri.com © 2002-2026