Pelangi » Refleksi | Rabu, 6 Maret 2013 pukul 11:00 WIB

Mengasa Jiwa Raga, Ba'da Kuliah

Penulis : Syaifoel Hardy

Suatu ketika, saya sedang menawarkan sebuah pelatihan gratis untuk masyarakat umum di Qatar. Itu terjadi beberapa tahun lalu. Lokasinya, sekitar 30 km dari tempat di mana saya tinggal. Tidak terlalu jauh letaknya, namun butuh persiapan matang. Mulai dari fisik seperti laptop, projector, alat tulis, hingga persiapan psikologis.

Saat saya datang, belum ada peserta yang hadir, kecuali tuan rumah. Sebuah kebiasaan yang sangat umum terjadi di antara masyarakat kita. Hampir saya temui di banyak kesempatan. Bahwa pembicara datang awal itu lumrah. Terlambat atau molor sudah membudaya. Makanya saya tidak kaget.

Pernah saya alami, datang ke sebuah kampus, kegiatan dimulai jam 4 sore. Pada jam yang dijadwalkan, bahkan sebelumnya, saya sudah berada di kelas. Saya sungguh heran, hingga 30 menit berikutnya, tidak ada satupun mahasiswa yang datang. Saya pikir salah alamat. Kemudian saya kontak kepala bagian pengajaran. Ternyata saya berada di tempat yang tepat!

Jam karet di negeri kita, kayak tempe dan nasi, makanan sehari-hari!

Bedanya dengan yang saya alami di Qatar, adalah topik, tempat, dan sasaran audience. Topiknya general, masyarakat umum dan bertempat di rumah biasa. Tidak seperti sebuah kelas di kampus yang jumlah mahasiswanya umumnya lebih dari 30 orang, di Qatar, waktu itu, hanya tiga orang saja yang ada di hadapan saya.

Apa lantas saya batalkan karena sedikitnya jumlah peserta pelatihan? Bagi saya tidak masalah! Program jalan terus!

Saudara…

Sebelum saya tulis artikel ini, saya ketemu teman lama yang sudah tahun ini menyelesaikan pendidikan program masternya di sebuah perguruan tinggi terkenal di Australia. Saya masih ingat, dia aktif saat kuliah, sambil bekerja. Hampir dalam setiap assignment, dia sempatkan untuk datang atau minimal kirim e-mail ke saya untuk meminta pendapat atau masukan.

Entah apa sebabnya, satu tahun terakhir ini, sesudah menerima ijazah S2-nya, tidak pernah melihat atau kedengaran kiprahnya. Sesuatu yang sungguh saya sangat harapkan sebagai bentuk implementasi hasil kerja keras sesudah kuliah. Harapan saya tidak berlebihan, kecuali melihat apa yang sudah dipelajari di sekolah, dipraktikkan di lapangan.

Dalam perbincangan tadi, saya tanyakan tentang persoalan ini, tentang kemungkinan kendala yang dihadapi sesudah merampungkan program S2-nya, yang dia jawab dengan ‘diam’. Pertanda dia sendiri mungkin mengalami kesulitan untuk menyampaikan, apa yang harus dikerjakannya.

Seperti dia, ribuan mahasiswa kemungkinan besar mengalami problematika serupa, yakni tidak tahu apa yang harus dikerjakannya sesudah menyelesaikan studinya. Lulusan menemui berbagai hambatan untuk mengaplikasikan apa yang dipelajari di bangku kuliah, begitu menginjakkan kaki di lapangan.

Ada beberapa faktor mengapa semua ini terjadi. Bisa dari dalam (internal) atau luar (eksternal). Bila dijabarkan, akan meliputi faktor fisik, sosial, psikologis, dan spiritual.

Dari dalam, bisa jadi karakternya yang tertutup, pendiam, dan rendah diri. Faktor sosial yang kurang mendukung, tidak memiliki banyak teman sangat terbatasnya aktivitas sosial buidaya, seperti kurangnya terlibat dalam kegiatan organisasi dan profesi. Faktor spiritual, terkait dengan peran agama yang diyakininya yang sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai bagian dari motivasi diri.

Dari sekian faktor yang ada, yang paling berperan adalah kemauan. Betapapun fasilitas lengkap dan sangat mendukung, jika tidak dibarengi dengan kemauan untuk maju, maka seseorang tidak bakalan melangkahkan kakinya. Sebaliknya, betapapun besar tantangan yang menghalang, dengan kemauan keras, segala sesuatunya bisa jadi mudah dijamah. Cara praktis mempertajam kompetensi begitu anda lulus, bahkan sebelum menerima ijazahpun, adalah segera menyebar. Perbanyak kontak sosial. Bikin kartu nama. Gabung dengan berbagai organisasi, apakah profesi atau umum. Sampaikan kepada semua orang apa yang anda bisa perbuat atau lakukan. Belajar intensif untuk mampu berbicara di depan umum.

Secara perlahan, mulailah berlatih berkomunikasi serta memimpin diskusi kelompok. Adakan pertemuan-pertemuan kecil dan berbicara tentang berbagai topik, meski sederhana. Dari yang sederhana ini akan muncul ide-ide yang besar nantinya. Cobalah belajar menjadi pendengar yang baik. Sesudah itu anda akan otomatis belajar menjadi pembicara yang baik pula.

Tepati waktu jika berjanji. Konfirmasi. Jangan hanya sepihak. Artinya, dua belah pihak harus menyetujui. Dalam banyak hal, komunikasi dua arah ini penting guna menghindari miskomunikasi.

Percayalah, tanpa membuka banyak bukupun, anda secara otomatis akan banyak belajar dari orang lain, dengan terlibat langsung dalam berbagai pertemuan, apakah individu maupun kelompok. Anda akan cepat maju dibuatnya. Hidup jadi lebih bergairah dan menyenangkan, ketimbang duduk sendiri di sudut rumah.

Pertanyaannya, apakah harus butuh dana? Tidak harus! Hanya orang malas yang selalu menyalahkan saku kosong sebagai sumber ketidakberhasilan cita-citanya. Meski duit perlu, tapi bukan berarti tanpa duit anda tidak bisa maju.

Mengetuk pintu tetangga atau mendatangi rumah teman di tetangga kampung, hanya butuh beberapa ratus meter melangkahkan kaki, sambil olahraga ringan, tidak harus naik ojek! Di tengah perjalanan, siapa tahu anda bakal ketemu orang yang selama ini anda nantikan, yakni menawarkan kesempatan anda buat berkarya!

Ringkasnya, jangan hanya diam dan menunggu miracle dalam kehidupan profesi anda. Tidak akan turun dari langit si bintang kejora, jika anda hanya tinggal dalam rumah serta tidak bersedia ke luar menengoknya di malam dan pagi hari.

Saat ini bukan zamannya lagi seorang profesional mengatakan tidak suka ini dan lebih suka itu. Semua kegiatan kemasyarakatan dan berbagai diskusi kelompok sudah menjadi bagian terpadu yang harus dikerjakan. Segala aktivitas ini sudah menjadi kelayakan, bukan lagi pilihan!

Oleh karenanya, anda bakal ditinggal oleh profesi dan kesempatan, apakah itu informasi atau pekerjaan, jika tidak segera mewujudkannya! Jadi, tunggu apa lagi?

Segeralah berbenah! Singsingkan lengan baju, berangkat, dan langkahkan kaki, selagi sehat masih melekat!

KotaSantri.com © 2002-2026