
Pelangi » Refleksi | Rabu, 6 Februari 2013 pukul 15:00 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Suatu hari ketika sedang dalam petualangan, saya dan salah seorang sohib terpisah dari rombongan kecil. Kami sudah tiba di area parkir, namun rombongan lain belum nampak. Karena saat itu sudah masuk waktu shalat dan kumandang adzan telah lewat 1 jam lalu, kami memutuskan untuk shalat dan mencari mushala terdekat. Saat mencari mushala, saya mengabari salah seorang teman yang kebetulan terpisah.
Beberapa menit berselang, SMS masuk di hape saya, memberitahukan bahwa rombongan sudah tiba di parkiran. Lalu masuk SMS berikutnya, mengatakan agar saya harus segera ke mobil. Padahal saat itu, kami baru tiba di mushala dan baru hendak shalat. Selesai shalat, kira-kira 20 menit, muncul SMS berikutnya yang menanyakan posisi saya di mana. Saat itu, saya telah selesai shalat dan hendak menuju parkiran.
Saat itu, hujan turun cukup lebat. Karena memertimbangkan rombongan yang menunggu kami, maka kami memutuskan untuk menerobos hujan menuju parkiran. Tiba di parkiran, mobil yang kami tuju tidak ada. Ternyata, kami ditinggal oleh rombongan lain. Walaupun kondisi basah kuyup, saya coba untuk menghubungi salah satu teman yang berada di mobil. Lewat dari 20 menit kemudian, mobil datang menjemput kami.
Kejadian itu, membuat kami bertanya-tanya, "Shalat kok diburu-buru?" Bukankah shalat itu seharusnya didirikan dalam kondisi netral, tanpa terganggu oleh bentuk apapun yang membuat shalat tidak bisa fokus atau khusyu'? Jika bertemu dengan atasan di tempat kerja, kita bisa santai dan tidak diburu waktu, lantas mengapa ketika bertemu dengan Tuhan, kita harus buru-buru? Entahlah. "Yang penting, kewajiban pada Allah SWT tidak terabaikan," batin saya.
KotaSantri.com © 2002-2026