
Pelangi » Refleksi | Ahad, 21 Oktober 2012 pukul 12:00 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
"Dalam berdakwah, manusia hanya menyampaikan dan mengajak untuk selalu dalam kebenaran. Sedangkan perkara hidayah, itu adalah urusan Allah SWT." Itulah kalimat yang selalu menjadi patokan saya dan juga sohib-sohib yang lain ketika sedang saling menasihati satu sama lain dalam komunitas yang kami ikuti. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al-'Ashr, "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran."
Perihal saling menasihati ini, perkenankan saya berbagi kisah tentang seorang teman yang awalnya saya kenal di dunia maya. Pada 2005, saya mengenalnya di sebuah komunitas maya berbasis WAP. Saat itu, setelah diberitahu teman, saya bergabung di komunitas tersebut dan membentuk sebuah Club dengan nama "Klab Santri". Di luar dugaan, ternyata banyak juga yang singgah di Club tersebut, baik mereka yang sudah paham dengan agama maupun mereka yang masih belum begitu paham. Termasuk teman saya ini, dapat dikatakan masih awam. Hanya memahami ajaran Islam secara umum saja.
Karena seringnya berinteraksi, sedikitnya saya kenal dengan sosoknya. Walau masih awam, tapi ia sering terlibat obrolan santai maupun diskusi ringan di Club. Apalagi saat itu, di Club diramaikan oleh netter lain yang pemahaman agamanya lebih tinggi. Kami selalu berusaha untuk saling menasihati satu sama lain dan menyampaikan apa yang kami ketahui. Jika kami salah, katakanlah itu salah dan harus berusaha untuk selalu memerbaiki diri. Alhamdulillaah, Club yang kami ramaikan bisa bermanfaat untuk para netter, walaupun terkadang ada saja netter lain yang iseng dengan merusak suasana "Klab Santri".
Setelah lebih dari setahun berinteraksi, kami harus menerima kenyataan pahit karena komunitas WAP tersebut ditutup. Beberapa dari netter pindah ke komunitas lain dan ada juga yang membentuk komunitas sendiri. Komunikasi penghuni "Klab Santri" pun sempat terputus. Hingga pada suatu hari, saya janji bertemu dengannya. Kebetulan, ia selalu melewati jalan di sekitar tempat saya bekerja. Saat bertemu, saya kaget bukan main. Ia yang dulu saya kenal, telah berubah drastis. Kini, ia tampak anggun dengan balutan jilbab yang lebar, kata-katanya yang santun, dan akhlaknya yang makin terpuji. Alhamdulillaah.
Rupanya, saat komunikasi saya dengannya terputus, ia masih sering berkomunikasi dengan mantan penghuni "Klab Santri" lainnya. Dan Allah SWT menggerakan hatinya untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Ia semangat melakukan perbaikan diri dengan memerdalam ajaran Islam. Komunikasi kami sempat terputus lagi karena kesibukan masing-masing. Hingga terdengar kabar bahwa ia telah bertemu dengan sang imam yang paham akan agama. Dan kini, saya kembali dipertemukan dengannya. Ternyata, ia semakin lebih baik dari sebelumnya, berbeda dengan dulu. Subhanallaah. Semoga tetap istiqamah.
KotaSantri.com © 2002-2026