Pelangi » Refleksi | Senin, 15 Oktober 2012 pukul 11:00 WIB

Antara Pengemis dan Pedagang Asongan

Penulis : Mujahid Alamaya

Di kota besar, tidak bisa lepas dari yang namanya pengemis dan pedagang asongan. Mereka sama-sama mengais rezeki, namun dengan cara yang berbeda. Pengemis, hanya menengadahkan tangan dan meminta belas kasihan orang lain. Sedangkan pedagang asongan, menjajakan dagangannya di bawah terik matahari. Itupun belum tentu dagangannya laku terjual.

Seperti biasa, setiap selesai shalat Jum'at, di halaman masjid kantor ada beberapa pengemis yang berharap belas kasihan dari para jama'ah. Suatu hari, salah seorang pengemis menghampiri saya dan menyodorkan tangannya. Ketika saya bilang maaf dan tidak memberinya uang, ia bersungut-sungut mengomeli saya dengan kata-kata yang tidak enak untuk didengar.

Masih di sekitar kantor, setiap waktu shalat, saya sering melihat pedagang asongan yang menunaikan shalat di masjid kantor. Di antara mereka ada yang sudah berumur. Begitu pula di terminal yang tidak jauh dari kantor, banyak pedagang asongan yang sudah berumur. Mereka menjajakan aneka dagangannya kepada orang-orang yang berlalu lalang di sekitar terminal.

Antara pengemis dan pedagang asongan tersebut, saya lebih menghargai pedagang asongan, karena pedagang asongan telah menunjukan kesungguhannya berikhtiar menjemput rezeki, dibanding pengemis yang hanya meminta-minta. Walaupun saya tidak membutuhkan, saya berusaha membeli dagangan pedagang asongan, sekedar berbagi rezeki dengan mereka.

Saya bukan berarti tidak bersedekah pada pengemis, tapi ingin memberikan sebuah pembelajaran pada pengemis, agar mereka mau bersungguh-sungguh untuk ikhtiar. Karena mereka yang bersungguh-sungguh dalam ikhtiar menjemput rezeki itu lebih mulia dibandingkan dengan mereka yang hanya mengandalkan meminta-minta atau menunggu uluran tangan orang lain.

"Tangan di atas (memberi) lebih baik daripada tangan di bawah (yang diberi), dan dahulukan orang yang menjadi tanggung jawabmu. Sebaik-baiknya sedekah adalah sedekah yang dikeluarkan oleh orang yang mempunyai kelebihan. Barangsiapa yang menjaga kehormatan dirinya, maka Allah akan menjaganya. Dan barangsiapa yang merasa dirinya cukup, maka Allah akan mencukupkan kebutuhannya." (HR. Muttafaq'alaihi).

KotaSantri.com © 2002-2026