
Pelangi » Refleksi | Selasa, 9 Oktober 2012 pukul 08:00 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Ketika salah seorang sahabat menyapa, saya jadi teringat dengan kisahnya beberapa tahun silam. Waktu itu, setelah hampir setahun menjalani bahtera rumah tangga, ia bercerita kepada saya mengenai permasalahan yang sedang dihadapinya. Kebetulan pada saat ta'aruf, khitbah, dan nikah, ia memercayakan segala sesuatunya pada saya, sehingga tidak sungkan untuk bercerita. Saya berusaha menjadi pendengar yang baik, dan terkadang memberikan pendapat, sebatas yang saya tahu dan saya pahami.
Ia mengungkapan bahwa ia kesal dengan sikap suaminya yang masih berkomunikasi dengan teman wanita dekatnya di masa lalu. Sebenarnya sang suami sudah berusaha menghindar, namun teman wanitanya itu yang terus mengejar suaminya, baik melalui SMS maupun telepon. Dengan alasan tidak ingin memutuskan tali silaturrahim, sang suami merespon dengan sewajarnya dan tetap berusaha untuk menghindar. Setelah beberapa lama, akhirnya 'serangan' wanita tersebut mulai berkurang dan berakhir.
Lain lagi dengan kisah dua teman saya yang lain. Mereka sama-sama akrab. Yang pria sudah menikah, sedangkan yang wanita belum menikah. Mereka dipertemukan dalam sebuah komunitas. Karena keakrabannya itu, membuat tanda tanya orang lain. Salah satu di antaranya adalah teman saya. "Kok mereka akrab sekali ya? Dia istrinya bukan sih?" tanya salah satu teman pada saya. Hingga pada suatu hari, berhembuslah kabar yang tidak mengenakan dan kabarnya terdengar di telinga istri si teman yang pria.
Saya mendengar, akibat kabar tersebut, sempat ada sedikit ketegangan dalam biduk rumah tangga si teman yang pria. Kedua teman saya itu berusaha untuk karifikasi dan meluruskan permasalahannya, bahwa sebenarnya di antara mereka tidak ada sebuah hubungan apapun. Dan mereka sempat menuduh bahwa saya yang membuat kabar itu beredar, mungkin karena saat itu saya yang paling kritis mengomentari keakraban mereka. Setelah mereka saling introspeksi, permasalahan ini dapat diselesaikan.
Dua kisah dengan pengalaman yang hampir sama tersebut tidak akan terjadi, jika kita semua selalu berpegang teguh pada ajaran Islam. Karena jelas, dalam Al-Qur'an telah diatur batasan-batasan dalam berinteraksi antara lawan jenis yang bukan mahramnya. Hanya saja, karena kurang ilmu, tidak mau mengkaji ilmu, dan yang parah, tidak mau mengamalkan ilmu, maka kita menganggap wajar hubungan antara lawan jenis yang bukan mahramnya, baik dengan label teman, sahabat, maupun adik atau kakak.
Wallaahu a'lam.
KotaSantri.com © 2002-2026