Pelangi » Refleksi | Rabu, 19 September 2012 pukul 10:00 WIB

Biar Miskin, Asal Tidak Minta-minta

Penulis : Fiyan Arjun

Saat itu, ada sebuah gerobak di depan saya. Tepat merintangi saya ketika akan menunggu angkot. Tanpa pemilik maupun sesuatu yang terisi di dalam gerobak itu. Kosong melompong. Saya penasaran.

“Gerobak kok ada di tepi jalan raya sih,” gumam saya membatin. Saya celangak-celinguk mencari empunya.

Saat saya sedang menunggu angkot dan mencari tahu siapa empunya gerobak itu, saya melihat sebuah tulisan yang sangat jelas dibaca. Tulisan itu membuat saya penasaran dan juga membuat hati saya terenyuh.

BIAR MISKIN ASAL TIDAK MINTA-MINTA

Ya, seperti itu tulisannya. Tulisan yang sontak membuat saya berpikir. Apakah empunya yang menulis itu? Atau, hanya kebetulan tulisan itu tertera di gerobak? Entahlah, tapi itu membuat saya sadar dan juga membuat saya ironi. Betapa mulianya orang yang menulis seperti itu. Ia sudah paham benar dan mengerti dalam situasi seperti ini. Lebih baik menjadi pemulung asal tidak minta-minta dan halal. Terlebih mencuri. Mengisyaratkan lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah. Sungguh mulia sekali.

“Maaf, Mas, sedang nunggu angkot, ya?” tiba-tiba terdengar suara berat dari arah belakang saya. Ternyata suara itu berasal dari lelaki tua yang sedang mengangkat beban berat. Di belakangnya terdapat kantong plastik yang sangat besar. Berisikan barang-barang tak layak pakai.

“Oh, nggak-nggak apa kok, Pak!” seru saya dengan ramah kepada lelaki tua yang ternyata pemilik gerobak itu.

“Oya, maaf, kalo nanti Bapak “kerja”, gerobaknya jangan ditinggal di jalan kayak begini. Nanti bisa bikin orang celaka lho, Pak,” akhirnya saya memberitahukan lelaki tua itu dengan penuh santun. Tak membuat ia kecewa apalagi terluka.

“Terima kasih ya, Mas. Bapak terburu-buru, tadi dipanggil sama orang untuk menerima barang-barang yang tak terpakai,” ujarnya kepada saya. Saya pun memakluminya.

“Terima kasih ya, Mas. Bapak mau pulang dulu. Kasihan istri Bapak di rumah, sejak pagi Bapak belum pulang untuk cari sesuap nasi. Ya, daripada minta-minta, Mas, lebih baik mulung. Benarkan, Mas? Bapak pulang dulu, ya.”

Belum sempat saya mengucapkan maaf, lelaki tua itu sudah menjauh dari saya. Secara tidak sengaja, saya telah melukai hati Bapak itu. Membuat ia merasa bersalah telah meninggalkan gerobak di tepi jalan raya.

Dari kejadian itu, ada sebuah pelajaran yang sangat berharga dari lelaki tua itu. Walaupun ia miskin, ia tak mau menunjukkan kemiskinannya dengan jalan meminta-minta, tetapi memilih untuk tetap bekerja dengan cara yang halal.

KotaSantri.com © 2002-2026