
Pelangi » Refleksi | Sabtu, 15 September 2012 pukul 08:00 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
"Brengsek si Bapak Gagu," gerutu salah seorang tetangga kost yang hendak pindah. Entah apa yang terjadi dengan pemilik kost yang dijuluki Bapak Gagu tersebut. Ia memang tidak bisa berbicara, hanya teriakan saja yang terdengar dan disertai dengan gerakan tangan sebagai bahasa isyarat agar yang berbicara dengannya bisa segera paham.
Di lain waktu. "Gua gak tahu. Awas mau lewat," ucap salah seorang tetangga kost yang sudah ibu-ibu. Entah perkara apa lagi. Sepertinya pemilik kost bertanya sesuatu, namun karena kesal dan tidak mau ribet, maka tetangga kost tersebut bersikap seperti itu dan melengos pergi begitu saja, tanpa mempedulikan apa yang dirasakan pemilik kost.
Kadang saya suka merasa kasihan jika pemilik kost mendapat perlakuan seperti itu. Maka saya berusaha semaksimal mungkin untuk mencoba memahami apa yang sebenarnya dikatakan ketika berbicara dengan pemilik kost, walaupun sebenarnya tidak mengerti dan butuh waktu lama untuk memahami perkataannya dalam bahasa isyarat.
Ia, pemilik kost tersebut, sama-sama makhluk ciptaan Allah SWT yang harus dihargai dan dihormati. Coba bayangkan seandainya kita berada dalam posisi seperti pemilik kost tersebut, berkenankah kita jika tidak dihargai dan tidak dihormati? Pahami dirinya, agar kita dapat merasakan apa yang ia rasakan walaupun kita tidak sepenuhnya mengerti.
KotaSantri.com © 2002-2026