Pelangi » Refleksi | Kamis, 6 September 2012 pukul 11:00 WIB

Perang Spanduk

Penulis : Fiyan Arjun

Mungkin Anda akan terkejut bila ekor mata Anda mengarahkan pandangan ke tepi-tepi jalan. Entah itu di papan iklan (blackboard), tiang penyangga listrik, atau juga di pepohonan. Semua akan melihat lebih banyak spanduk yang melambai-lambai di tepi jalan. Papan iklan lebih banyak iklan calon pemimpin. Tiang penyangga listrik jadi sasaran spanduk calon pemimpin. Dan pohon pun tak kalah menjadi buah spanduk calon pemimpin secara dadakan. Terlebih saat ini musimnya ber-“promosikan” diri bagi mereka yang mencalonkan diri sebagai calon pemimpin.

Spanduk tersebut bertujuan untuk mencari empati dan perhatian sebagian orang untuk memihak dan memilihnya. Sungguh begitu ambisiusnya mereka, padahal mereka tidak menyadari bahwa hal itu hanya membuat pemandangan kota semakin kotor. Dan lebih miris, itu hanya perbuatan sia-sia. Hanya buang-buang uang dan materi serta mubadzir. Itu kalau terpilih, kalau tidak, lebih baik uang dan materi itu disumbangkan untuk mereka yang membutuhkan. Tapi sepertinya hal itu jauh dari pikiran mereka. Yang ada di benak mereka, bagaimana nanti akan tiba waktu pemilihan. Apakah akan terpilih atau tidak. Benar-benar egois!

Saya yang melihat berbagai macam spanduk hanya tersenyum kecut. Apa iya jika mereka terpilih akan memikirkan rakyat nanti? Pikir saya. Biasanya kalau orang sudah di atas, susah mau turun. Turun ke bawah untuk melihat rakyatnya yang susah dan sudah memilih dirinya. Lain halnya dengan khalifah (para sahabat Rasulullah). Khalifah Umar bin Khathab, contohnya. Ia begitu peduli terhadap rakyatnya. Entahlah apakah nanti spanduk-spanduk yang mengatasnamakan kejaminan yang dilontarkan para calon pemimpin akan seperti khalifah tersebut. Entahlah, kita lihat saja nanti.

KotaSantri.com © 2002-2026