
Pelangi » Refleksi | Senin, 30 Juli 2012 pukul 09:00 WIB
Penulis : Ajeng Miftahul Jannah
Bahkan sebelum Ramadhan, saya sudah memploklamirkan diri untuk kalah, meski tetap dengan tekad bahwa Ramadhan kali ini harus lebih baik daripada sebelumnya. Kalah sebelum berperang, pengecut atau pecundang?
Entahlah...
Puasa memang bukan hanya menahan lapar dan haus. Tantangan yang lebih berat justru bagaimana kita berperang dengan diri kita sendiri, melawan hawa nafsu kita. Dan itu yang belum bisa saya taklukan.
Bukankah selama shaum ini seharusnya kita saling membebaskan dari kesalahan masing-masing? Sehingga menjadi ritual saat sebelum Ramadhan saling meminta dan memberi maaf dari semua kesalahan.
Saat ini, saya belum bisa memaafkan seseorang. Saya berusaha untuk tidak menyalahkan orang lain atas kejadian-kejadian yang kami alami sekitar 3 bulan belakangan ini, tapi tetap saja ada yang mengganjal.
Bagaimana tidak?
Kami sudah tidak bisa lagi menangisi hal ini. Kami berusaha berpositif thinking, tapi tetap tidak menyelesaikan masalah. Kami harus kehilangan kepercayaan dari orangtua yang sudah mengayomi kami selama ini, kami harus menjadi beban bagi orang lain, kami harus menebalkan muka kami dan harus berpikir keras untuk hidup kami, kami harus mengorbankan kuliah kami. Akhirnya, pekan ini, kami harus mengorbankan apa yang kami rintis setahun lebih ini.
Sementara yang seharusnya bertanggung jawab akan hal ini, wallahu a'lam, malah tenang-tenang saja. Saya tidak melihat sedikitpun itikad baik darinya untuk memperbaiki keadaan ini, hanya sekedar minta maaf sekalipun. Meski akhirnya dia mengundurkan diri, hal itu tidak menyelesaikan masalah, bahkan membuat beban kami menjadi lebih berat. Akhirnya saya merasa lebih baik menghindar, daripada saya tidak bisa menahan emosi setiap bertemu dengannya.
Ah, entahlah...
Sulit bagi saya untuk benar-benar ikhlas memaafkannya yang sudah berbuat seenak hati. Karena bukan hanya kami yang dirugikan, orang-orang di belakang kami pun akhirnya ikut merasakan ekses dari semua ini.
Sahabat saya bilang, sudahlah, tak usah dipikirkan, lebih baik kita atur langkah kita ke depan dan menjaga kepercayaan yang sudah diberikan lagi kepada kita.
Saya sadar, beban saudara saya lebih berat dari saya sendiri. Kami semua pernah menangis bersama. Dan itu yang membuat saya kian berat, karena saudara saya pun akhirnya menangis, setelah sekian lama berusaha menahan diri, bentengnya bobol juga. Kami sudah kehilangan air mata, bahkan senyum kami pun sudah tanpa makna.
Dengan semua yang saya alami, masihkah saya bisa memberi maaf? Saya bukan Nabi, apalagi Allah Al-Ghafar. Saat ini saya hanya bisa berdo'a, agar Allah memberi saya keikhlasan dan kebeningan hati atas semua yang kami alami.
Dan Ramadhan ini, saya telah kalah.
KotaSantri.com © 2002-2026