
Pelangi » Refleksi | Kamis, 14 Juni 2012 pukul 08:30 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Tradisi 'Sunatan Massal' ala PNS sudah tidak asing lagi bagi kita yang notabene sering berinteraksi dengan mereka, baik itu dalam keseharian karena bekerja di lingkungan pemerintah ataupun karena kebutuhan yang mengharuskan untuk berurusan dengan instansi pemerintah.
Saya yang kebetulan bekerja di instansi pemerintah dengan status PHL (Pekerja Harian Lepas) atau pegawai honorer Non PNS, sering mengalami 'Sunatan Massal' dan tentunya selalu membuat kami para PHL menjadi dongkol akibat ulah segelintir PNS yang korup dan sewenang-wenang.
Banyak sekali 'Sunatan Massal' yang terjadi di lingkungan tempat saya bekerja. Korbannya bisa dari pegawainya sendiri maupun pihak lain yang sering berurusan. Sebagai gambaran, saya akan menceritakan 2 kasus 'Sunatan Massal' yang dialami oleh saya di tahun 2012 ini.
Kasus pertama adalah di awal 2012 lalu, tepatnya Januari. Semua pegawai kantor mendapatkan dana Pengendalian Teknis (Dalnis) yang jumlahnya berbeda-beda tiap pegawai. Saya dan beberapa teman satu bagian mendapatkan jatah sekitar Rp. 300.000,- per orang.
Ketika menandatangi form serah terima dana, di sana jelas tercatat bahwa dana yang diterima adalah sekitar Rp. 300.000,-. Namun apa yang terjadi? Setelah dana diterima, ternyata jumlahnya hanya Rp. 200.000,-. "Ke mana larinya sisa dari uang tersebut?" Itulah yang menjadi pertanyaan kami.
Dan terbaru, setelah mengikuti sebuah acara pelatihan, kami mendapat pengganti transpor sebesar Rp. 100.000,- per pegawai. Setelah dikurangi pajak, dana yang kami terima adalah Rp. 95.000,-. Seperti biasa, kami harus menandatangani form serah terima dana terlebih dahulu.
Lalu berapa dana yang kami terima? Hanya Rp. 75.000,-. "Ckckck..." Saya dan beberapa teman hanya bisa bergumam dan berkelakar mengenai ke mana larinya sisa uang yang disunat. Sungguh, kejadian tersebut telah mendzalimi kami sebagai pegawai rendahan yang tidak berdaya.
Dunia merupakan salah satu fitnah (ujian) terbesar bagi keimanan seorang hamba. Demi harta, seseorang terkadang mau berbuat apa saja, asalkan bisa meraihnya, baik dengan cara halal maupun haram. Tujuan hidupnya seolah hanya untuk mencapai kesenangan duniawi belaka, sehingga ketika beramalpun ia mengharapkan sesuatu di balik semua itu, yakni kesenangan duniawi.
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud : 15-26).
KotaSantri.com © 2002-2026