
Pelangi » Refleksi | Selasa, 29 Mei 2012 pukul 12:00 WIB
Penulis : Ajeng Miftahul Jannah
Islamic Entertainment?
Disebut bangga, ya. Disebut miris, juga ya. Melihat maraknya nuansa Islami di dunia entertainment, khususnya film dan sinetron akhir-akhir ini.
Kenapa miris?
Saya teringat hampir beberapa tahun lalu, ketika kabar AAC siap difilmkan merebak. Saat itu saya bertanya pada Mas Saiful, salah satu sahabat Kang Abik, ”Gak ikutan casting, mas, jadi Fahri?”
Mas Ipung hanya tertawa, “Wah, ndak pede saya, lagian takut gak kuat berhadapan dengan pemeran wanitanya.”
Pun ketika berjumpa dengan seorang sahabat di Senayan beberapa waktu lalu. Sambil mengenang masa silam, saya juga bertanya, “Sist, your husband kenapa dulu gak ikut casting?” Secara fisik dan keilmuan, suaminya memang cocok berperan menjadi Fahri, juga salah seorang kawan Kang Abik saat masih di Tanah Kanaan. Cuma, Fahri Jawa, dan sang suami Padang totok! Sahabat saya menjawab, waktu itu memang dia nanya sama suaminya, jawab sang uda, “Memang kamu ridha aku pegang-pegang sama wanita lain?”
Sahabat saya menjawab, “Ya nggak lah, harusnya yang berperan itu sudah sah jadi suami istri.”
Nah!!!
Ini dia yang membuat sebagian kalangan miris.
Islami apanya, wong banyak adegan khalwat, yang dilakukan bukan sama muhrim. Pemerannya dikenal bukan yang memperlihatkan akhlaq Islami dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, produksi film atau sinetron lebih mengedepankan sisi marketing-nya daripada pendidikannya. Contoh saja AAC. Kenapa yang dikedepankan adalah unsur poligaminya? Padahal dalam naskah aslinya itu hanya bagian kecil di akhir cerita?
Dan masih banyak ‘Kok… Kok… Kok gitu sih.” lainnya yang keluar dari mulut sebagian komentator ini.
Dan di seberangnya orang akan berfikir dan berkomentar;
Ya, alhamdulillah, sudah ada yang bergerak memasuki wilayah baru dari dunia entertainment dengan menyampaikan sisi Islaminya. Generasi muda lagi. Mungkin inilah para pengganti Chaerul Umam, Zak Zorga, atau Deddy Mizwar.
Setidaknya ada alternatif tontonan di tengah maraknya tontonan yang hedonis.
Ya, susahlah nyari suami istri artis yang sesuai dengan karakter asli, gak bisa gitu saja nyuruh orang nikah demi peran. Emang kawin kontrak?
Kalau gak ada yang mulai, siapa yang bisa membangun?
Semoga saja nanti lebih banyak karya-karya para sineas yang lebih bermutu dan lebih syar’i.
Kan banyak yang ‘tercerahkan’ setelah membaca novel Islami, nonton film Islami, dan denger lagu-lagu Islami?
Siapa tahu para pemainnya bisa tersibghah?
Dan banyak komen bernada dukungan lainnya.
Saya sendiri, memang gak terlalu menyukai sinetron. Takut nyandu. Pernah ngerasain dulu, malah bikin emosi kita ikut terombang-ambing, geremet sama skenarionya yang malah tambah panjang dan berbelit-belit. Ketika orang rumah pada heboh dengan Munajah Cinta, yang sekilas covernya mirip dengan AAC, saya langsung il-feel. Saat membaca sinopsisnya di Koran, skenarionya dah langsung kebaca.
Tapi kan didukung ustadz?
Lha… ustadnya dah ngingetin belom, sebelum nonton sudah shalat Isya ma baca Al-Qur'an belum?
OK, kita memang harus mendukung sineas-sineas muda muslim yang mulai bangkit kembali dengan karya-karya yang mudah-mudahan terus diperbaiki dari segala sisi. No body’s perfect emang, tapi kalau bukan kita, umat muslim sendiri, siapa lagi?
But, kita juga harus punya control yang kuat agar bisa mendapat tontonan yang bisa menjadi tuntunan, bukan sekedar hiburan yang dijadikan komoditi pengeruk keuntungan pra produser.
Lalu,
Bagaimana dengan anda?
KotaSantri.com © 2002-2026