
Pelangi » Refleksi | Selasa, 22 Mei 2012 pukul 16:00 WIB
Penulis : Mumtahah Annisa
Jatuh bangun menapaki perjalanan hidup ini, pasti pernah kita lewati karena dunia memang tempatnya kita mendapatkan pentarbiyahan dari-Nya.
Acapkali ketika kita mendapatkan sebuah kebahagiaan kadang tanpa sadar kita meluapkannya dengan begitu berlebihan, begitu juga sebaliknya ketika mendapatkan musibah, tanpa sadar kita kadang menyalahkan ketentuan dari-Nya.
Ketika kegagalan menghampiri kita, tidak jarang kita benar-benar terpuruk dan berputus asa. Seperti yang pernah saya alami dulu, tidak bisa melanjutkan sekolah sampai ke perguruan tinggi, benar-benar down sampai sakit, hanya bisa menangis dan menyalahkan keadaan. Kenapa, kenapa, dan kenapa? Pertanyaan yang dimulai dengan kenapa itulah yang sering muncul di kepala saya pada saat itu.
Cita-cita saya pupus sudah. Itulah pikiran saya pada saat itu. Tapi seiring berjalannya waktu, akhirnya bisa menerima walaupun benar-benar belum ikhlas, karena jujur saja begitu irinya saya ketika mendengar teman-teman saya sudah menjadi sarjana, sudah bisa menggapai cita-cita mereka.
Satu hal lagi yang benar-benar membuat saya terpuruk, ketika mama meninggal. Jangankan untuk melihat dan mendampinginya di saat-saat terakhir hidupnya, melihat beliau dimakamkanpun saya tidak dikasih kesempatan. Ah, kenapa harus saya?
Belum benar-benar bisa bangkit dan tegar, sebulan kemudian adik bungsu menyusul mama. Sayapun tidak dikasih kesempatan untuk bisa melihat adik dimakamkan. Kenapa harus saya? Kenapa? Saya benar-benar jatuh, rasanya susah untuk bangkit lagi pada saat itu, tapi alhamdulillah saya punya teman-teman yang benar-benar memberikan semangat.
Sekarang, baru saya bisa memetik hikmah dari semua kejadian itu. Kalau saja pada saat itu saya menyaksikan proses pemakaman mama dan adik, mungkin saya akan pingsan karena tidak kuat. Bagaimana tidak, selama 4 tahun sejak lulus SMA, saya merantau dan belum pernah sekalipun pulang. Giliran pulang pada saat mama meninggal.
Sekarang setelah menikah dan mempunyai seorang anak, saya justru bisa mengajar sambil kuliah. Pikiran saya dulu bahwa cita-cita akan pupus ternyata salah.
Benar adanya, apa yang saya jalani saat itu, itulah yang terbaik untuk saya. Dan Allah benar-benar mempunyai RENCANA TERINDAH di balik itu semua.
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah : 45-46).
KotaSantri.com © 2002-2026