
Pelangi » Refleksi | Kamis, 3 Mei 2012 pukul 11:00 WIB
Penulis : Muhammad Nahar
Pak Wapres yang terhormat, saya sudah membaca berita-berita tentang pernyataan Bapak mengenai volume suara adzan. Mungkin pak Wapres menyamakan antara adzan dengan puisi atau karya seni sastra yang disampaikan dengan bahasa lembut mendayu-dayu hingga membuat pendengarnya terlena. Sehingga, menurut logika dan nalar pak Wapres, orang akan tersentuh hati sanubarinya dan akan menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Semoga saya tidak salah menduga arah pembicaraan pak Wapres.
Pak Wapres, Adzan adalah bagian dari syari'at Islam yang sudah jelas ketentuannya. Tujuan Adzan adalah menyeru dan memanggil kaum muslimin untuk melaksanakan shalat wajib lima waktu. Adzan bukan puisi yang ditujukan untuk menyentuh hati sanubari manusia agar terenyuh perasaannya sampai meneteskan air mata, bukan itu. Walaupun bisa saja ada orang yang tersentuh hatinya serta mendapat hidayah dan petunjuk dengan perantaraan adzan. Tidak ada ketentuan syari'at yang mengatur keras atau lemahnya volume adzan. Adzan justru harus diteriakkan dengan lantang sebagai bagian dari ghirah dan izzah kaum muslimin agar mereka bangkit dan melaksanakan shalat yang telah tiba waktunya. Perlu pak Wapres ketahui, izzah dan ghirah inilah yang dibenci musuh-musuh Islam, termasuk yang sekarang sedang giat-giatnya mengeruk kekayaan alam negeri kaya raya ini.
Jika kita ingin menyentuh hati manusia, terlebih dahulu kita harus memahami apa yang ada dalam pikrian dan perasaan mereka. Mungkin ada puisi atau karya-karya sastra yang bisa dipergunakan untuk keperluan tersebut, tapi yang jelas bukan Adzan. Lagi pula, apakah pak Wapres memahami seperti apa isi hati sanubari sebagian besar anggota masyarakat kita? Banyak yang sudah apatis dan tidak peduli lagi dengan masa depan bangsa ini. Yang penting, apa yang ada di depan mata sikat saja jangan sampai keduluan yang lain. Maka tidak mengherankan apabila ada orang-orang yang senang minta dibuatkan bon kosong untuk me-mark up jumlah uang yang akan digantikan oleh bagian keuangan dari tempat kerja mereka. Ada juga yang minta dibuatkan sertifikat palsu agar bisa mendapat pekerjaan, padahal yang bersangkutan tidak kompeten sama sekali di bidang itu. Masih banyak lagi contoh-contoh yang lain, Pak Wapres.
Jadi pak Wapres, suara adzan yang keras itu masih terlalu lemah untuk mendobrak hati sanubari Bangsa Indonesia yang kotor seperti pembuangan sampah dan keras seperti batu karang. Apatah lagi kalau harus diperkecil volumenya, makin tidak tersentuh lagi hati-hati sanubari tersebut. Yang benar-benar harus dilakukan kini adalah penegakan Hukum yang tegas dan seadil-adilnya. Jika sudah memungkinkan, kenapa tidak sekalian ditegakkan hukum yang telah digariskan dalam Al-Qur'an dan Sunnah Rasul. Jika ada yang mencuri, termasuk mark up anggaran atau pakai bon kosong, dan bukan karena terpaksa karena tidak makan beberapa hari, maka tidak usah ragu pak Wapres, POTONG SAJA TANGANNYA. Jika ada pembunuh yang membunuh dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan syari'at dan tidak mendapat pengampunan dari keluarga korban, kenapa tidak DIPENGGAL SAJA KEPALANYA? Jika ada yang berzina padahal sudah menikah, kenapa tidak DIRAJAM SAJA SAMPAI MATI? Ketimbang mengurusi adzan yang sudah jelas ketentuannya dalam syari'at.
Saya sebagai rakyat biasa hanya bisa berdo'a agar pak Wapres selalu dalam lindungan Allah SWT dan tidak sedang menari dengan irama gendang tabuhan musuh-musuh Islam dan ummat Islam, yang pak Wapres sendiri juga bagian dari umat tersebut. Pak Wapres, ummat ini sudah sangat menderita, lahir dan batin. Keinginan untuk memeluk agama yang mereka yakini, yaitu Islam, dengan sepenuh hati seringkali berbenturan dengan peraturan dan perundang-undangan negara dan kepentingan kapitalis tak berbudi dan tanpa hati nurani. Apalagi bagi mereka yang sudah sangat memahami Islam, baik aqidah maupun hukum-hukum syari'at di dalamnya, jauh lebih berat lagi tekanan batinnya.
Hanya tulisan ini yang bisa saya buat, semoga Allah SWT yang Mahakuasa atas segala sesuatu berkenan menyampaikan isi surat ini, entah bagaimana caranya, kepada pak Wapres yang terhormat.
KotaSantri.com © 2002-2026