
Pelangi » Refleksi | Senin, 19 Maret 2012 pukul 10:00 WIB
Penulis : Febrian Hadi Santoso
Di lingkungan sekitarku, saat ini sedang rame-ramenya membicarakan tentang pekerjaan. Setiap kali ketemu kawan di kampus, sering kali menanyakan, "Kerja di mana sekarang? Wah... yang sudah jadi alumni, kerja di mana nih?" Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang intinya menanyakan hal yang sama kepadaku dan temen-teman lainnya yang baru lulus. Maklumlah, baru saja menjadi alumni muda setelah menyelesaikan studi di ITS Surabaya.
Berbicara tentang pekerjaan, ada salah satu kisah yang menurut saya pribadi patut dijadikan sebuah pelajaran berarti. Kisah ini saya dapatkan saat mengukuti kajian rutin ba’dha subuh di masjid yang tak jauh dari rumah.
Kisah ini bermula saat seorang lelaki paruh baya yang sejak pagi-pagi buta membawa barang jualannya ke pasar. Beliau berangkat pagi karena jarak dari desa ke pasar lumayan jauh. Barang dagangan yang dibawanya adalah tangga tradisional yang terbuat dari kayu dan beberapa kerajinan kayu lainnya. Karena kelelahan, sebelum sampai di pasar, lelaki ini mencoba beristirahat di bawah pepohanan besar yang cukup menaunginya dari terik matahari. Tak berselang lama datanglah seorang lelaki yang berniat membeli tangga tersebut. Terjadilah transaksi antara mereka berdua hingga akhirnya disepakati harga untuk satu buah tangga adalah Rp.10.000,-. Setelah membeli sebuah tangga, pembeli yang sedang bersama anak bungsunya tak langsung pergi meninggalkan penjual tangga tersebut. Karena dia sedang menunggu sang isteri yang sedang berbelanja di seberang jalan. Sambil menunggu, pembeli menanyakan sesuatu ke penjual tangga.
"Pak, sampean dari mana?" kata pembeli sambil menatap wajah panjual.
"Saya dari desa pak," jawabnya singkat
"Sering ya ke kota jualan dagangan yang bapak bawa ini?" imbuhnya.
"Biasanya seminggu sekali saya ke kota jualan barang-barang ini."
"Kalau boleh tahu, sekali ke pasar berapa duit yang bapak hasilkan?" tanyanya lagi.
"Biasanya sih dua puluh lima ribu sampe lima puluh ribu, pak," jawabnya lagi sambil malu-malu.
"Memang cukup lima puluh ribu untuk seminggu membiayai keluarga bapak?" tanyanya penasaran.
Lalu apa yang terjadi?
Bapak itu menjawab, "Seandainya saya bekerja kepada bapak, uang lima puluh ribu itu sudah pasti tak cukup untuk makan sekeluarga selama seminggu, tapi karena saya bekerja kepada Allah, maka Allah cukupkan segala rejeki saya dan keluarga."
Dari percakapan di atas, ada hal yang perlu digarisbawahi, belajar itu tak harus dari seorang guru yang sedang menerangkan di depan kelas. Namun ada kalanya belajar itu kepada orang lain yang kita temui di dunia ini. Kisah inipun meyakinkan kita bahwa Allah-lah yang mengatur segala rejeki setiap makhluknya, tinggal kita berusaha, berdo’a, dan bertawakal kepadaNya.
KotaSantri.com © 2002-2026