
Pelangi » Refleksi | Kamis, 1 Maret 2012 pukul 09:09 WIB
Penulis : Ashif Aminulloh Fathnan
Maghrib menjelang. Orang-orang berdiri mengular di depan pintu menuju bus Kuokuang jurusan Taichung. Di atas pintu itu jam digital bertengger, mengedipkan detik-detik lampu merahnya dengan sangat lambat. Ibu dan anak berlalu lalang membawa koper melintas di depanku. Saat itulah aku ingat bahwa ini memang akhir pekan, terlebih, akhir libur tahun baru yang panjang.
Sepertinya memang lelah tak mau beranjak dari tubuh. Namun aku tak bisa pula lepas dari rasa bahagia yang terpancarkan sepanjang hari. Ya. Hari yang penuh petualangan ini. Hari dimana FLP Taiwan akhirnya diresmikan berdiri. Dan semua aktivitas hari itu membawa senyum keabadian jauh di lubuk hati. Allah, terima kasih, betapa kau masih beri hamba nikmat merasakan indahnya hidup dalam perjuangan dan persahabatan.
Ketika baris antrian di depan tak kunjung bergerak, seorang lelaki tiba-tiba mendekat ke belakangku. Ia menyondongkan tubuhnya ke depan. Aku menoleh, kulihat wajah teduhnya di bawah topi biru tertutup bayangan, ia mengucapkan sesuatu dalam bahasa Mandarin yang tak kupahami. Aku hanya melongo.
Sejenak kemudian ia terdiam, raut mukanya berubah, lalu berkata setengah berbisik, "Oh, maaf... saya pikir anda orang sini," dalam bahasa Inggris yang fasih. Aku mencoba ramah, kujelaskan bahwa aku mahasiswa asal Indonesia, hendak pulang menuju Taichung. Bapak itu membuka topinya, memperlihatkan wajah hangatnya. Ia bertanya tentang kuliahku. Aku bilang aku belajar semiconductorengineering. Bapak itu tersenyum, Ia bilang Ia juga seorang engineer, bidang konstruksi, tepatnya konstruksi pelabuhan. Oh, barangkali itulah kenapa bahasa Inggris-nya sangat lancar.
Dalam beberapa menit kemudian kami sudah saling akrab. Ia bertanya tentang aktivitas kuliahku, dan aku bertanya tentang pekerjaannya. Ia mengambil bis yang sama denganku. Bapak itu membawa koper besar, Ia bilang ia hendak pulang ke Taichung, dimana keluarganya tinggal. Ia bercerita, meski sering berpindah kantor dari Taipei ke Kaohsiung, Ia tetap pulang ke Taichung, kota tempat ia lahir dan tumbuh sejak kecil. Ia bilang ia senang tinggal di Taichung, udaranya tak sedingin Taipei dan tak sepanas Kaohsiung.
Antrian maju ke depan dan kami tak sadar bahwa bus telah datang. Akhirnya kami masuk bis dan duduk bersebelahan. Sebelum masuk bis, seorang petugas memberi kami kartu bertuliskan angka 40. Aku bertanya pada bapak itu untuk apa kartu ini? Dia bilang ini kartu potongan harga. Bus yang kami naiki adalah bus model lama, bukan yang biasa beroperasi, mungkin karena traffic meningkat, maka terpaksa harus digunakan. Dalam hati aku memaklumi. Namun waktu aku masuk dan duduk di kursi bis yang empuk dengan tombol pengatur duduk otomatis, tak tampak sama sekali bahwa bus ini model lama.
Benar-benar aneh. Ketika bus mulai melaju dengan halus, bapak ini melanjutkan obrolannya. Ia bilang Taiwan sedang banyak membangun pelabuhan. Katanya itu dampak globalisasi, pelabuhan adalah awal perdagangan, maka dari itu jadi sangat penting. Ia bilang membuat pelabuhan butuh ilmu konstruksi khusus, deburan ombak sering jadi penghalang, dan katanya itu tantangan yang menarik. Terakhir ia bersama timnya bekerja di Kaohsiung, bagian selatan Taiwan. Ombak laut China Selatan berdebur besar di sana, dan meski harus menatap garis pantai seharian, bapak ini bilang ia tak pernah bosan.
Bapak ini lalu menawariku biskuit yang ia ambil dari tasnya. Ia bilang ini biskuit sehat, baik untuk pencernaan. Ia bilang lebih baik dihabiskan sekarang, kalau terlampau lama nanti ada banyak bakteri. Aku mengangguk seperti anak kecil. Bapak itu bertanya bagaimana kondisi asrama kampus, apakah di sana ada air mineral? Kujawab ada, air mineral dari mesin, ada yang panas dan dingin. Ia bilang bagus, seringlah minum air putih, jangan terlampau banyak minum air jus bungkusan yang ada di toko, ada banyak zat aditif. Heh? Aku melongo, dari mana bapak ini tahu kalau aku sering minum jus buah botolan dari toko dekat kampus?
Bapak itu bertanya tentang rencanaku setelah kuliah. Aku bilang aku belum memutuskan, tapi belajar semiconductor sangat menarik, mungkin aku akan melanjutkan studi di sana. Ia bilang bagus, sangat penting belajar know how, belajar tentang cara, kalau bisa nanti itu dikembangkan di negeri sendiri. Aku bilang betul, idealnya memang demikian, namun di negeriku tak semudah itu membuat perkembangan, pemerintah sangat rumit membuat aturan dan industri tidak berkembang. Ia bilang, mungkin pemerintah itu masalahnya.
Dalam hati aku mengiyakan. Ah, tapi dari mana bapak ini tahu kalau pemerintah banyak yang tidak benar? Tanpa kuduga, bapak ini lalu bicara tentang investasi. Ia bilang banyak temannya yang berinvestasi di Filiphina dan Laos, membikin pabrik dengan memperkerjakan orang lokal. Aku mengangguk-angguk, lalu bertanya, kenapa bapak tidak juga berinvestasi? Kenapa tidak ke Indonesia? Ia bilang untuk investasi kita harus memilih lingkungan, tidak bisa sembarangan, masyarakatnya harus jujur, disiplin, dan berpengetahuan cukup. Jika tidak, maka investasi di sana beresiko tinggi.
Dalam hati aku bertanya-tanya, apakah bapak ini bicara tentang Indonesia? Kenapa ia serba tahu? Ah, mungkin hanya kebetulan dari bacaannya saja yang sama. Aku tanya tentang keluarga bapak itu. Ia bilang ia punya satu anak perempuan, sekarang bekerja di Taipei. Kutanya di mana putri bapak bekerja? Ia bilang putrinya bekerja jadi kartunis, di sebuah perusahaan iklan. Dalam hati, ah, pilihan pekerjaan itu hanya ada di negara dengan kondisi tertentu.
Orangtua di Indonesia pasti akan khawatir jika anaknya punya cita-cita jadi kartunis. Dan benar saja. Bapak ini bilang, Ia sekolahkan anaknya ke Kanada, hingga kuliah di bidang kartun. Ia bilang, anaknya lima tahun di luar negeri. Dulu ia sekeluarga bahkan pernah tinggal di Kanada, menemani anaknya belajar. Tentu saja ia hanya tinggal sesekali dan lalu pulang lagi melanjutkan kerjanya di Taiwan. Aku tak habis pikir. Model keluarga macam apa ini? Ah, mungkin juga memang hanya ada di negara tertentu.
Sepanjang perjalanan, bapak itu bercerita tentang banyak hal. Ceritanya mengalir seperti cahaya lampu-lampu pinggir jalan yang menjalar ke mataku. Sesaat aku berpikir, betapa bapak ini telah menjadi saksi hidup perubahan sebuah bangsa. Mungkin ia lahir di tahun 50-an, saat Taiwan tak lebih dari negara kecil bekas jajahan Jepang.
Dan kini, saat bapak ini terus bicara padaku tentang hidupnya, Ia telah jadi seorang warga dari salah satu negara dengan cadangan devisa terbesar di dunia. Mungkin ini cerita tentang nasib, tentang anak muda dari bangsa terbelakang dan seorang bapak di negara maju.
Tapi, ah, bukan, ini cerita tentang perjalanan sepulang dari launching FLP. Dan waktu bapak itu berpamitan turun di perhentian bus Taichung City, aku sadar sebenarnya kami bukanlah naik bus, namun mesin waktu.
Mesin waktu yang membawa lelaki dari masa depan dan pemuda dari masa lalu. Ah, biar saja. Suatu saat pasti akan ada mesin waktu lain, yang membawa bangsa kami ke masa depan. Semoga, ya Allah. Amin ya Allah.
KotaSantri.com © 2002-2026