
Pelangi » Refleksi | Selasa, 17 Januari 2012 pukul 13:00 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Kemarin Pagi, sebuah undangan training motivasi datang, dari seorang sahabat yang saya kenal sudah cukup lama. Awal–awal kami berkenalan, saya melihat dia adalah sosok yang sederhana dan tidak neko–neko.
Selang waktu berjalan dan kesibukan masing–masing yang membuat kami hanya berkomunikasi sekedarnya saja. Beberapa bulan belakangan, saya melihat ada sesuatu yang mulai berbeda dari dirinya. Setidaknya dari segi penampilan yang mulai “berani”, Percaya Diri yang terasa sekali kalau dia memilikinya. Mulai suka bercanda dan cenderung aktif.
Sebenarnya saya tidak tertarik untuk datang, tapi saya ingin menjaga rasa solidaritas di antara kami, dan sayapun memutuskan untuk datang meski terlambat karena suatu amanah yang harus saya selesaikan. Seseorang yang tidak asing sedang memberikan teori bagaimana berkomunikasi dengan baik sebagai pengantar acara. Ya, saya mengenal beliau adalah seseorang yang mempunyai kepercayaan diri di atas rata–rata dan “ilmu memikat” calon customer.
Beberapa menit kemudian acara inti, muncullah sahabat saya tadi. Wow… ternyata dia menjadi pengisinya. Saya begitu menikmatinya. Dia lihai mengusai ruangan, tahu benar bagaimana menarik perhatian. Kata–katanya jelas, dan tepat memberikan penekanan pada titik–titik penegasan. Belum lagi bahasa tubuh yang mendukung emosi berpadu dengan begitu luwes.
Saya tersenyum bahagia dan takjub, hal yang tak pernah saya kira sebelumnya, dia bisa melakukan itu. Subhannallah… Sungguh pemandangan yang luar biasa ada di depan mata saya. Padahal yang saya tahu selama ini, beliau adalah seorang akuntan yang cenderung diam dan menutup diri, seperti yang pernah dia ceritakan di suatu hari.
Ya, tentu saja kekaguman saya beralasan. Karena ilmu komunikasi yang dia miliki lebih sempurna daripada seseorang sebelumnya yang memang sudah saya kenal lama berkecimpung di dunia publik. Hal yang paling mendasar saya rasakan dari pengisi sebelumnya adalah dalam “cita rasa” pendengaran. Saya begitu ngoyo mendengarnya. Sementara sahabat saya ini benar–benar bisa menerapkan yang namanya “public speaking”.
Ketika saya tersenyum dan menatapnya takjub, dia melayangkan padangannya ke saya dan seketika itu juga sebuah tepukan spontan dari kedua tangan saya memecah konsentrasi yang diikuti oleh undangan lainnya.
Perubahan. Ya, itulah kata kuncinya. Dia telah berubah menjadi pribadi yang berbeda. Dan dia telah melakukan perubahan itu, untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.
KotaSantri.com © 2002-2026