Pelangi » Refleksi | Kamis, 5 Januari 2012 pukul 08:45 WIB

Tidak Ada yang Baru di Tahun Baru Ini

Penulis : Muhammad Nahar

Apa sih makna pergantian tahun? Pesta pora, hura-hura, atau bergembira ria? Atau mungkin ada hal-hal lain yang lebih positif untuk dilakukan? Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, pergantian tahun kali inipun tidak terlalu berbeda. Kembang api menggelar memecah gelapnya malam, sementara orang-orang berbondong bondong pergi ke keramaian. Baik di tengah kota, di pantai, atau di manapun. Sesudah itu, saat pagi menjelang, para petugaspun membersihkan sisa-sisa pesta semalam. Tidak lama kemudian, jalanan dan tempat bekas pestapun kembali bersih. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Begitulah yang terjadi setiap kali pergantian tahun. Hanya kemasan yang berubah-ubah, isinya tidak ada yang berubah sedikitpun. Pesta pora, hura-hura, dan sejenak melepaskan penatnya beban kehidupan, hanya itu saja. Shalat dan sedekah? Entah apakah kedua hal yang penting itu masih terpikir dalam benak mereka. Yang penting bersenang-senang dan menghabiskan malam yang datangnya hanya setahun sekali itu.

Peringatan Tahun Baru Masehi memang pernah terasa berbeda. Yaitu pada saat Tsunami melanda Aceh beberapa tahun yang lalu. Suasana yang biasanya gegap gempita penuh kemeriahan, tiba-tiba mendadak sunyi senyap penuh kesedihan mendalam. Terasa dekat para korban Tsunami itu pada diri, terasa benar kepergian mereka sehingga tidak tega rasanya berhura-hura merayakan tahun baru yang saat itu datang. Namun setelah itu, semua seakan terlupakan. Pada saat perayaan tahun baru berikutnya, nafsu untuk berhura-hura tak lagi bisa dibendung. Perayaan yang sama gilanya dan sama borosnya, jika tidak mau dikatakan melebihi, kembali terjadi. Seakan tidak ada hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari kejadian Tsunami beberapa tahun sebelumnya. Apakah perlu bencana sebesar Tsunami yang melanda Aceh dan sekitarnya itu terulang kembali? Entahlah.

Pada tahun baru kali ini, perayaan itupun ditambah aksi sensasional lainnya. Seorang pesulap, master, mentalis, atau apapun namanya menantang maut dengan membiarkan diriinya ditimbun hidup-hidup dalam semen cor seberat 2 ton. Dia dikubur selama beberapa jam dalam timbunan semen tersebut. Pada saat malam menjelang, para petugas pun membongkar cor semen tersebut dan mengeluarkan si mentalis. Sesudah itu, yang dilakukan sama saja dengan tahun-tahun yang telah berlalu. Count down, hura-hura, maksiat, dan lain sebagainya. Hampir tidak ada nilai positifnya sama sekali.

Si mentalis boleh saja bangga atas keberhasilannya bertahan hidup dalam timbunan semen dan beton. Dia juga bisa saja menerima sejumlah uang dan penghargaan lain dari pihak sponsor dan mendapat perhatian dari masyarakat luas. Namun, mungkin dia tidak sadar bahwa beban yang ditanggung masyarakat miskin jauh lebih berat. Jika si mentalis terhimpit beton selama beberapa jam, maka banyak rakyat miskin negeri ini yang terhimpit kapitalisme dan kepentingan pemilik modal. Tanah yang tergusur, tempat tinggal yang terampas, serta kehidupan yang penuh ketidakpastian, jelas merupakan himpitan yang jauh lebih berat. Dan bukan hanya untuk beberapa belas jam, namun entah sudah berapa tahun atau bahkan entah berapa generasi.

Belum lagi jika kita berbicara tentang penderitaan para saudara kita di Palestina. Mereka tiap hari harus berhadapan dengan tentara-tentara Zionis yang selalu menghina, melecehkan, dan bahkan tidak jarang membunuh dan menyiksa mereka. Sekedar pertanyaan iseng, apakah si mentalis dapat membawa bantuan makanan dan obat-obatan kepada rakyat Gaza yang masih di bawah penjajahan kaum Zionis? Tentu kita semua sudah tahu jawaban dari pertanyaan retoris ini. Dan sudah pertanyaan iseng tadi lebih dari cukup untuk menguji mutu dari tayangan sensasional si mentalis itu.

Sekali lagi, sungguh tidak ada yang baru di tahun 2012 ini, semua masih sama seperti dulu. Sehingga, sungguh tidak layak pergantian tahun yang tidak ada maknanya sama sekali itu dirayakan besar-besaran. Apalagi jika harus dengan biaya yang luar biasa besarnya.

KotaSantri.com © 2002-2026