Pelangi » Refleksi | Sabtu, 24 Desember 2011 pukul 08:00 WIB

Ketika Gaya Hidup Membentur Kemusliman Kita

Penulis : Rifatul Farida

Dalam banyak kesempatan, selalu saja pikiran saya membentuk tanda tanya besar. Entah kenapa dan ada apa dengan mereka, atau bahkan mungkin tanpa disadari, saya pun kadang demikian. Hanya untuk sebuah nilai lebih di hadapan manusia. Melabelkan sesuatu yang melebihi diri, dan menamakannya sebagai gaya hidup.

Hati saya benar-benar tertohok, ketika menyadari bahwa akhir-akhir ini saya terlalu berlebih dalam penampilan.

"Merah hati, coklat, pink. Dibolak balik itu-itu saja setiap ada acara dan ketemu teman," keluh saya beberapa hari yang lalu ketika sedang memilih baju mana yang akan saya pakai di hari itu.

Ya, tanpa saya sadari, saya mulai mengeluhkan tentang jilbab dan baju saya yang hanya itu-itu saja. Padahal kalau dihitung, baju dan jilbab yang saya punya jumlahnya melebihi hari yang ada dalam sepekan. Sementara, fungsi pakaian bagi seorang muslimah adalah sebagai pakaian takwa, tak lebih dan tak kurang. Bukan untuk ber-fashion ria begini.

Berpenampilan indah (rapi, tidak kucel, cocok, mecing) itu lebih baik dan lebih disukai daripada berpenampilan sebaliknya, apalagi jika keindahan itu mampu menginspirasi wanita Islam yang lain, bahwa dengan berjilbab yang sesuai syari'at, dengan jilbab lebar menutupi dada dan baju longgar tak membentuk lekuk tubuh di saat ini, terlebih di kota metropolitan seperti Jakarta, tidaklah ketinggalan zaman. Bahwa menjadi taat itu bisa dilakukan di mana saja, termasuk taat dalam menutup aurat sesuai versiNya.

Namun, ketika niat menjadi inspirasi kebaikan itu kemudian diboncengi dengan niat ingin dipandang lebih juga, maka saatnya mengevaluasi diri! Jangan-jangan, kita sedang membungkus ketidakbaikan dengan kebaikan. Ya, membajak nama kebaikan untuk kepentingan lain.

Apapun bentuk dan rupanya, suatu amal dan gerak dalam kehidupan seorang muslim, hanya bermakna pada mendatangkan ridhaNya atau murkaNya. Itu yang harusnya selalu kita ingati. Agar tetap mampu menjadikan kita cepat tanggap pada sinyal-sinyal kemusliman kita. Sebab keimanan ini terlalu indah untuk tak direalisaikan dalam kehidupan nyata, hanya karena kita tak mampu merespon suara hati kita, yang menolak bentuk laku apapun yang tak sesuai dengan syari'at Islam.

Semoga saja, kita selalu mampu untuk terus mengevaluasi diri, dan tak pernah berhenti untuk tetap memohon, kiranya Allah SWT memasukkan kita dalam golongan orang-orang yang difirmankanNya, "Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. Al-Hujurat : 7).

KotaSantri.com © 2002-2026