
Pelangi » Refleksi | Kamis, 22 Desember 2011 pukul 11:22 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Tadi siang, di sebuah jalan di kawasan Dago, ketika saya berjalan kaki hendak ke sebuah toko untuk mengurus pengajuan proposal baksos, saya merasa heran melihat banyaknya polisi yang berjaga-jaga. Dengan penuh tanya, saya tetap melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sambil sesekali melihat ke sana ke mari memperhatikan keadaan sekitar.
Makin masuk ke dalam jalan tersebut, jalanan macet dan makin banyak polisi yang berjaga-jaga. Ada apa gerangan? Sampai akhirnya, beberapa puluh meter sebelum toko, terlihat beberapa tentara dengan moncong senjata berdiri di tengah jalan. “Ada apa ya? Ada pejabat, demonstrasi, apa ada teroris?” pikir saya dalam hati. Saya jadi deg-degan.
Di depan saya, ada beberapa orang yang berkerumun. Sepertinya mahasiswa dan pegawai kantoran. Entah sedang apa di sana. Yang pasti, mereka tidak berani melewati barisan tentara yang berjaga di tengah jalan. Di belakang barisan tentara, ada beberapa orang yang berjalan kaki ke arah saya, mungkin sedang lewat.
Baru saja beberapa langkah melewati mobil polisi yang dipalangkan di jalan, seorang polisi bertanya, “Mau ke mana, mas?” Saya pun menjawab, “Mau ke toko itu.” Polisi itu pun mengangguk. Beberapa langkah kemudian, seorang tentara bertanya, “Mau ke mana? Saya pun menjawab dengan jawaban yang sama dan tentara itu pun mengangguk.
Akhirnya, saya sampai juga di toko yang dimaksud dan rasa tegang pun hilang. Saya segera mengurus urusan saya. Setelah urusan saya di toko tersebut selesai, lalu saya bertanya kepada satpam yang berjaga di toko. Jawabnya, “Ada Presiden. Katanya mau meresmikan gedung baru. Jalan ke arah sana ditutup, tidak boleh ada yang masuk.”
Waduh, sampai segitunya menyambut kedatangan Presiden. Demi kepentingan orang nomor satu di Indonesia, aparat keamanan rela membuat masyarakat sengsara. Jalan utama di sekitar gedung ditutup total, jalan alternatif macet di mana-mana. Orang yang berkepentingan di daerah sekitar itu hanya boleh lewat dengan jalan kaki.
Kejadian ini bukan kejadian pertama yang saya alami. Pernah beberapa kali saya harus rela ‘kehilangan waktu’ lantaran orang nomor satu di Indonesia lewat, baik di Bandung maupun di Jakarta. Tapi, kejadian yang saya alami tadi siang, berbeda dengan biasanya, yakni banyaknya tentara yang diterjunkan lengkap dengan moncong senjata. Duh…
Dalam perjalanan pulang, saya berpikir, “Apa pantas seorang pemimpin diperlakukan ‘istimewa’ seperti itu?” Ah…, saya hanya bisa berandai-andai jika suatu saat nanti mempunyai pemimpin yang tidak akan menyengsarakan masyarakat, pemimpin yang mau melihat apa yang dialami masyarakat saat dia memimpin. Tapi, kapankah?
KotaSantri.com © 2002-2026