Pelangi » Refleksi | Senin, 21 November 2011 pukul 10:00 WIB

Dicari : Suami yang Kaya

Penulis : Abdul Latief Sukyan

Beberapa hari yang lalu, saya mendengar percakapan hangat para pemudi. Judul percakapan itu yang membuat saya tercengang dan menginginkan untuk terus menyimak serta mengikutinya.

Inti pembahasan mereka berkisar mengenai pernikahan dan suami yang didambakan yang akan menjadi masa depan mereka. Kisahnya banyak pemuda yang tidak menikah dengan berbagai alasan yang tidak ada dasarnya dan kebanyakan mereka berdalih mahalnya mahar, sedangkan pemudi mencari dan menuntut yang terbaik. Memilih memang hak mereka masing-masing, hanya saja pernikahan dan jodoh merupakan nasib dan ketentuan sebagaimana sering mereka ungkapkan, memang ada sebagian kecil pemudi yang langsung saja setuju bila ada pemuda yang datang melamarnya tanpa banyak syarat dan permintaan yang aneh-aneh.

Belum lagi, para orangtua (wali) yang juga ikut menuntut lebih dari permintaan putri-putri mereka, sehingga membuat para pemuda usia nikah menjauh dari pernikahan untuk mencari jalan selamat.

Dan ini bukan berarti bahwa para pemuda langsung menjadi tertuduh dan sebenarnya tuduhan itu dijatuhkan kepada para pemudi yang mempunyai permintaan dan syarat-syarat yang berlebihan.

Bila kedua belah pihak sama-sama membutuhkan untuk mendapatkan pasangan hidup, lalu kenapa mereka mempersulit masalah lebih dari biasanya? Banyak kita dengar bahwa ada sebagian wali (orangtua) yang menikahkan anaknya dengan mahar satu dirham atau mahar simbolis semata.

Perdebatan panjang antara pemudi menjelang usia nikah itu karena merekalah yang bertanggung jawab risaunya penantian sebuah pernikahan, dan mereka pula yang meletakkan syarat-syarat utopis yang terkadang tidak mampu diwujudkan, mungkin karena mereka masih hidup dalam mimpi-mimpi masa kecilnya, atau mereka masih berkeyakinan bahwa mereka sedang bermain dengan boneka pengantinnya.

Akan tetapi dunia dan kehidupan telah banyak berubah, dan sekarang lebih materialis dari sebelumnya, di antara mereka ada yang berkata, bahwa ia menginginkan rumah besar yang lengkap dengan kolam renang dan kebun luas nan indah. Lainnya berkata, bahwa ia menginginkan suami yang kaya dan tidak pelit kepadanya dalam segala sesuatu, bepergian keliling dunia, dan membelikannya semua yang ia mau dan yang ia pinta. Di samping itu, hendaknya ia suami yang tampan dan atletis, dan ia tidak menginginkan perutnya gendut bergelambir di hadapannya, sebagaimana tentu ia berharap menjadi wanita yang tercantik di hadapannya.

Pemudi yang ketiga berujar, ia mau menerima calon suaminya dengan segala kekurangannya, karena wanita yang cerdas mengetahui bagaimana ia berlaku terhadap suami dan bagaimana menjadikannya ia seorang suami yang menarik dari segala sisi sebagaimana diharapkan oleh setiap wanita.

Mungkin yang terakhir ini benar-benar pemudi yang cerdas. Semua itu memang dituntut dan dicari oleh setiap calon suami, karena isteri mempunyai hak terhadap suaminya juga. Suami harus juga berhias untuk isterinya sebagaimana yang ia pinta dari isterinya, yaitu berhias untuk kedua belah pihak yang memang sebuah tuntutan agama dan sosial juga.

Itulah syarat-syarat yang diletakkan oleh setiap pemudi yang mendambakan seorang suami yang terunik baginya. Hanya saja syarat itu akan segera usai dan tidak dituntut lagi ketika seorang wanita menjelang dan mendekati umur tiga puluh tahun, dan terus syarat-syarat itu berkurang bahkan tidak ada lagi bila umurnya sudah mendekati umur empat puluh tahun, dan ia bahkan akan membayar pemuda yang mau menikah dengannya.

KotaSantri.com © 2002-2026