
Pelangi » Refleksi | Senin, 12 September 2011 pukul 10:30 WIB
Penulis : Fauziah Humaira
Baru saja adik pamit dari rumah pergi sama teman-temannya boncengan naik motor. Ada tiga motor dengan boncengan masing-masing. Sepuluh menit kemudian terdengar tetangga berteriak histeris. Mencoba beranjak sebentar untuk menanyakan apa yang terjadi. Ternyata yang kecelakaan itu motor yang barusan boncengan sama adik saya.
Siapa yang tidak cemas mendengar adiknya kecelakaan. Setelah diklarifikasikan lagi, alhamdulillah ternyata di tengah jalan tadi adik saya sudah pindah boncengan sama teman lain. Walhasil, selamatlah adik saya.
Serentak semua berkata, "Untung dia tukaran, coba kalau tidak." Karena kejadiannya tepat waktu maghrib, tunggu habis maghrib dulu baru ke rumah sakit untuk memastikan adik saya baik-baik saja. Alhamdulillah, untung adik saya tidak apa-apa.
Temannya lumayan parah, karena tidak pakai helm kepalanya terbentur. Dengan beberapa jahitan di wajah, dokter memastikan pasiennya baik-baik saja. Untung cuman beberapa jahitan saja.
Hmm… Untuuuung saja!
Ada apa di balik kata untung? Untung itu merupakan salah satu rasa syukur dan berpikir positif. Seandainya saja semua orang suka dengan kata ini. Selagi sakit juga pasti akan bilang, “Untung aja sakitnya ga parah.” Yang lagi sakit parah juga ikut bilang, "Untung juga masih hidup." Yang hari ini belum dapat nilai bagus di kuliahan, "Untung belum kena DO."
Orang Aceh sangat suka dengan kata untung. Sangat sering terdengar kata-kata ini. Nyawa nyaris berpisah dengan badan, masih juga ada kata untung.
Semoga hari-hari kita tetap selalu berada dalam keberuntungan dengan selalu berpikir positif dan bersyukur dengan apa yang kita peroleh. Tetaplah selalu bersyukur agar rahmatNya selalu tercucur.
KotaSantri.com © 2002-2026