
Pelangi » Refleksi | Kamis, 8 September 2011 pukul 08:15 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Jika Khan kecil dalam film My Name is Khan "didoktrin" oleh sang Ibu, bahwa di dunia ini hanya ada dua jenis manusia; baik dan jahat. Maka tidak demikian hari-hari kecil saya yang berhias cerita surga dan neraka. Sebagai anak-anak kala itu, imajinasi saya pun berfungsi dengan baik. Senangnya ketika diceritakan indahnya surga, apapun yang kita minta dan inginkan akan terwujud. Mau ngapain saja boleh, tidak ada yang melarang. Dan betapa menjijikkannya ketika ibu bercerita tentang lautan nanah, ingus, nyala api, tubuh yang disetlika, dan banyak lagi kengerian yang membuat anak manapun diceritakan hal seperti itu akan mengalami rasa takut yang teramat dalam.
Maka jangan heran jika kemudian shalat alasannya adalah agar masuk surga, tidak berbohong alasannya adalah biar tidak masuk neraka. Jadi anak baik biar besok masuk surga, berbuat baik pada teman biar besok masuk surga. Pokoknya, semuanya jadinya biar masuk surga.
Secara tidak disadari, saya tumbuh dengan jiwa yang berorientasi panjang; tentang surga. Itu artinya juga tentang bab ukhrawi. Dan lebih dalam termaknai, ketika semua cerita surga dan neraka pasti ditutup dengan adanya Sang Pemilik surga dan neraka. Pada Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Inilah yang membedakan antara Ibu saya dan Ibunya Khan, sehingga membedakan juga cara pandang kami pada kehidupan. Karena lebih lanjut saya dituntut dan menuntut diri untuk belajar lebih banyak tentang bagaimana agar masuk surga. Sementara Khan bagaimana menjadi orang baik.
Faktanya kemudian, ketika ternyata surga tidak hanya masalah menjadi orang yang baik, tidak hanya berkisar beribadah dengan sebaik-baiknya. Karena ketika kita berbicara tentang surga, maka kita berbicara juga tentang ridha Allah.
Ridha Allah, itu kata awalannya. Sehingga lambat laun seiring dengan bertambahnya usia dan sempurnanya fungsi akal dalam usia baligh, maka ceritanya pun tidak lagi sebatas antara surga dan neraka, tapi bagaimana menjadi hamba terbaikNya. Bagaimana lebih dekat dan semakin dekat kepadaNya. Bagaimana taat pada apa yang telah disyari'atkanNya dan menjauh pada apa yang telah dilarangNya. Hingga di ujungnya, ketika dengan jelas menjadi baik untuk sesama manusia dan menjadi baik untuk Allah adalah dua hal yang tak berseberangan. Konsep baiknya kemudian, menjadi baik untuk kehidupan (dalam konteks humanis) agar menjadi hamba yang baik di mata Allah SWT.
Jika Mr. Khan tahu tentang konsep ini, mungkin ia akan menjalani kehidupannya sebagai seorang muslim yang tidak hanya baik, tapi juga taat. Karena baik saja tidak cukup tanpa adanya ketaatan. Termasuk ketaatannya untuk tidak menikahi wanita non-muslim seberapa baiknya pun dia.
Muslim yang taat sudah barang tentu menjadi muslim yang baik. Namun tak selalu muslim yang baik adalah muslim yang taat, karena menjadi orang yang baik bisa dilakukan oleh siapa saja. Sementara menjadi taat lagi baik hanya bisa dilakukan oleh seorang muslim. Jika tidak baik tapi taat, maka dapat dipastikan itu hanya kelihatannya saja taat.
Ketika kita berbicara tentang ketaatan, maka kita sedang berbicara tentang ketaqwaan. Itu artinya kita juga sedang berbicara tentang keimanan.
Inilah pembeda abadi dua jenis manusia di dunia ini; beriman dan tidak beriman. Yang dibedakan juga tempatnya kelak di akhirat; surga dan neraka.
Wallahu a'lam bishshawab.
KotaSantri.com © 2002-2026