Pelangi » Refleksi | Selasa, 30 Agustus 2011 pukul 14:00 WIB

Berlalu Begitu Saja

Penulis : Mujahid Alamaya

Lebih dari sepekan yang lalu, selepas berbuka puasa dan shalat maghrib di sebuah masjid di kawasan Setiabudi - Jakarta Selatan, saya bergegas menuju Blok M - Jakarta Selatan agar dapat mengikuti shalat isya dan shalat tarawih di sebuah masjid di kawasan pertokoan di Blok M.

Supaya lebih cepat tiba di tujuan, saya memutuskan menggunakan bis Transjakarta, dan halte terdekat adalah Halte Dukuh Atas. Ketika melewati Jembatan Penyeberangan, saya melihat ada seorang bapak pedagang kue sedang duduk lesu dan terlihat sesenggukan menangis.

Saya berlalu begitu saja. "Kenapa tuh bapak menangis? Apa karena dagangannya yang belum laku atau belum buka puasa? Atau ..." Begitu pikir saya. Beberapa tanya dan perkiraan melintas dalam pikiran saya. Ada keinginan untuk berbalik arah dan menanyakan, tapi tidak sopan.

Maka, saya pun berlalu begitu saja. Saya meneruskan perjalanan. Dari dalam Halte Dukuh Atas, pandangan saya masih tertuju pada bapak itu. Posisinya masih seperti semula. Ada keinginan untuk memberi sesuatu pada bapak itu, tapi apa dan bagaimana supaya tidak tersinggung?

Bis Transjakarta telah tiba, dan saya bergegas naik. Sosok bapak itu masih terbayang. Keinginan untuk memberi sesuatu pada bapak itu tidak terealisasi. Semua tinggal angan, karena saya belum tentu berjumpa lagi dengan bapak itu. Ada rasa sesal kenapa saat itu tidak langsung tergerak.

***

Hari ini adalah hari terakhir di bulan Ramadhan tahun ini. Tak terasa, hari-hari Ramadhan berlalu begitu cepat, besok sudah Hari Raya Idul Fitri. Saya merasa, kualitas ibadah di bulan Ramadhan tahun ini agak menurun dibanding tahun sebelumnya. Astaghfirullah.

Rencana dan target saya ada yang tidak tercapai. Begitu juga dengan produktifitas kerja yang menurun. Mungkin karena saat ini jarak tempat kerja dan tempat tinggal cukup jauh, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tapi seharusnya itu bukan menjadi alasan.

Jika di hari kerja, saya harus 'berlari' mengejar waktu agar dapat shalat maghrib, isya, dan tarawih berjama'ah. Karena pada jam tersebut masih dalam perjalanan pulang, maka beberapa masjid menjadi tempat persinggahan. Saya harus bisa maksimal dalam beribadah.

Namun kini, semua tinggal angan, karena Ramadhan tahun ini akan segera berlalu. Semoga kita semua bisa bertemu lagi dengan Ramadhan di tahun-tahun yang akan datang dan dapat beribadah dengan maksimal, sehingga Ramadhan tidak berlalu begitu saja.

***

Berlalu begitu saja. Ya, begitulah mungkin yang sering kita lakukan. Pada saat kesempatan masih ada, kita akan dengan mudah mengatakan, "Nanti saja." Tapi setelah kesempatan itu terlewat, hanya sesal yang dirasakan. "Andai saja waktu itu begini dan begitu."

Kisah saya dengan bapak pedagang kue itu, semoga bisa diambil hikmahnya untuk tidak menunda-nunda jika ingin mengulurkan tangan. Selagi ada kesempatan, seharusnya saat itu juga tergerak, karena belum tentu dapat bertemu lagi dengan bapak pedagang kue itu.

Pun dengan Ramadhan, jangan sampai kita membiarkannya berlalu begitu saja, karena belum tentu ada kesempatan berikutnya untuk berjumpa lagi dengan Ramadhan. Saya hanya bisa berharap, semoga kita semua dapat bertemu lagi dengan Ramadhan yang akan datang.

KotaSantri.com © 2002-2026