
Pelangi » Refleksi | Senin, 4 Juli 2011 pukul 10:10 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Pernah suatu ketika, seseorang datang ke saya. Menceritakan kisah hidupnya yang sedemikian dramatis. Namun entah kenapa, tak sedikitpun rasa empati tumbuh di hati. Bebalkah hati ini? Karena justru saya berpikir; kenapa semua yang sudah teralami tak menjadikanmu kuat? Malah merasa selalu terdzalimi, mengeluh, dan menangis.
Belakangan saya tahu, ternyata semua cerita hidupnya tak semuanya valid. Pada saya dia cerita begini, pada yang lain dia cerita dengan versi yang berbeda. Kemudian, saya mengerti, bahwa ternyata itu caranya menarik perhatian, empati, dan bantuan. Ah, memang benar adanya, bahwa hati hanya bisa dideteksi dengan hati. Dan sayapun berhenti menyalahkan hati saya yang tak pernah mampu merengkuhnya.
Sekarang, kondisinya menjadi serba membingungkan, karena beraneka macam rasa ada di hati. Antara tidak tega, sebel, dan dikhianati. Ia, telah menyia-nyiakan kepercayaan saya, menikam dari belakang, dan menjadi pengkhianat di depan mata.
Memaafkan? Mungkin, bisa saya lakukan. Tapi untuk tetap hidup bersamanya? Kalau hanya masalah akhlaq dan kepribadian, oke lah bisa diarahkan sedikit demi sedikit. Toh, setiap jiwa pasti merindukan sebuah tempat bernama kebaikan. Itu, yang sempet terpikir di otak saya, sebelum saya tahu setelah diamati lebih detail, bahwa ternyata saya tak melihat adanya keinginan untuk berubah pada dirinya.
Menanamkan keinginan itu? Bagaimana caranya? Sementara dia begitu egois, hobi berbohong, tidak fair, suka menguping pembicaraan, munafik, dan banyak hal lain yang ia lakukan di belakang saya.
Begitu kompleks, dan akhirnya saya benar-benar memasrahkannya pada ALLAH. Tak ada yang bisa saya lakukan kecuali mendo'akannya. Hanya hidayah ALLAH yang mampu mengubahnya, melihat rekam jejaknya yang begitu “keren” setelah saya tabayunkan ke sana-ke mari.
Ah, namun kini saya pesimis dalam ketercenungan ini. Tahukah? Bagaimana mungkin seorang akhwat berjilbab lebar dengan mudahnya meninggalkan shalat fardhu? Dan, ini benar-benar hal “luar biasa”, membuat dada saya bergemuruh dalam tanda tanya besar. Logika mana yang mampu masuk pada sesama akhwat atas kelakuan tidak tertunaikan kewajiban shalat isya’ selama tiga malam berturut-turut, tanpa adanya alasan syar’i? Astaghfirrullah… Akhwat itu. Benarkah?
Lalu, bagimana akhlaqnya pada sesama, kalau pada Rabb-nya saja dia sebegitu berani “menantangNya”? Bisakah kemudian, saya sediakan lagi dan lagi ruang bernama kesempatan dengan pintu-pintu baik sangka? Tentu saja ini menjadi hal yang teramat sulit bagi saya.
Hal yang penting kemudian, bagaimana saya harus bersikap sekarang? Ketika nasehat tak mampu menembus kalbunya, contoh nyata tak mampu menginspirasi kebaikan, ajakan tak mampu membuatnya bergegas, dan pembiaran tak mampu menjadikannya mengerti. Semuanya mengarahkan pada satu kata; pesimis, bahkan untuk meraih hidayah itu.
Maka, akhirnya saya mulai memikirkan sebuah keputusan.
Allah, saksikanlah bahwa aku tak berdiam diri, pada semua hal yang telah menyambangi hidupku. Semoga ini keputusan yang terbaik, bahwa aku memilih ‘melepas’nya. Serta memilih melindungi diriku dari penyakit hati. Engkau-lah yang kemudian (tetap) menentukan jalan hidupnya.
KotaSantri.com © 2002-2026